Tumpukan Sampah Rumah Tangga Sudah Overload

Dialog Sampak Rumah Tangga Menumpuk

KBRN, Semarang : Pemerintah Provinsi Jateng untuk memberikan apresiasi atas partisipasi masyarakat dalam pengurangan sampah. Partisipasi masyarakat patut digalakkan mengingat setiap bulan, jutaan ton sampah terus bertambah.

“Adanya aturan pemberian apresiasi pastinya akan meningkatkan partisipasi aktif masyarakat. Karena dengan menekan limbah di lingkup rumah tangga, maka jelas akan mengurangi tumpukan sampah yang saat ini sudah overload,” Terang  Wakil Ketua Komisi D – Hadi Santoso,  Selasa (5/7/2022).

Hadi menjelaskan hampir 50 persen tumpukan sampah yang ada saat ini, berasal dari limbah rumah tangga. Oleh karenanya Hadi mengungkapkan pentingnya partisipasi aktif dari masyarakat untuk mengurangi sampah.

“Dimulai dari aktivitas rumah Tangga untuk bisa menerapkan 3R, tidak hanya mengurangi penggunaan barang habis pakai yang bisa menjadi sampah, tetapi Juga memastikan tepat konsumsi. Kan tidak mungkin ada aparat untuk mengawasi tiap orang harus habis Dan lain sebagainya. Jadi peran Aktif masyarakat sangat diperlukan. Tinggal bagaimna pemerintah menjaga semangat itu, ya salah satunya memberikan apresiasi,” ungkap dia.

Lebih lanjut Hadi mengungkapkan bahwa lebih dari 50% total sampah merupakan sampah organik. Menurutnya Hal tersebut menjadi indikasi bahwa sampah sisa makanan mendominasi. Ditambah bergesernya penggunaan barang habis pakai yang semuanya serba instan menambah volume sampah anorganik.

Selain itu, Hadi mengajak adanya Kolaborasi lintas pemangku wilayah, mulai dari desa, kabupaten atau kota hingga provinsi. Dicontohkan adanya sebuah desa yang membuat peraturan desa terkait pengelolaan sampah. Hal tersebut dirasa jauh Lebih efektif untuk mengurangi sampah.

Sependapat dengan Hadi, peneliti lingkungan hidup Arif Budiarjo mengatakan bahwa konsep pengelolaan sampah di Indonesia khususnya di Jawa Tengah Masih menggunakan landfill. Sehingga dengan adanya pengurangan sampah hingga TPA akan sangat berpengaruh pada Lingkungan.

“Konsep di kita masih menggunakan landfill, jadi ditumpuk. Memang sedang dilakukan pengembangan untuk dilakukan pengelolaan sampah itu. Tapi masih proses. Jadi pengurangan sampah ini penting. Data menunjukkan 55% sampah itu organik. Sedangkan kalau sudah sampai TPA sudah bercampur dengan anorganik. Padahal organik bisa diolah lagi secara terpisah sebelum sampai TPA,” ungkap dosen Lingkungan Hidup Universitas Diponegoro.

Arif menjelaskan saat ini jenis sampah semakin banyak variasinya. Meningkatnya budaya instan, banyak alat atau peralatan yang semakin susah diurai. Seperti kertas minyak, kertas berbungkus plastik untuk Ricebowl dan lain sebagainya.

“40% sampah itu dari RT, paling banyak sisa makanan. Ini menarik. Di luar negeri sampai dilakukan jadwal pembuangan sampah untuk masing-masing Jenis sampah. Tujuannya untuk mengurangi sampah, dan pengelolaan di Ujung, di TPA. Sedangkan kami sudah bercampur semua,” usulnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar