USM Launching Satgas Konseling Mahasiswa dan PPKS

KBRN,  Semarang : Guna menindaklanjuti Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021, Satgas Konseling dan PPKS Universitas Semarang (USM) menggelar Hybrid Seminar dalam rangka Launching Satuan Tugas (Satgas) Konseling Mahasiswa dan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Universitas Semarang, Kamis (30/6/2022).

Hybrid seminar tersebut bertema Menciptakan Lingkungan Akademik yang Beradab dan Humanis melalui Kewenangan Satgas PPKS dan Konseling Mahasiswa, yang berlangsung di Aula Gedung Prof Ir Joetata, Lantai 6 Universitas Semarang.

Kegiatan tersebut telah dihadiri oleh Kepala LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah Bhimo Widyo Andoko SH MH secara online melalui via zoom. Serta beberapa jajaran Universitas Semarang, antara lain Wakil Rektor I USM Prof Budi Wahyuningsih MP, Wakil Rektor III USM Dr Muhammad Junaidi SHi MH, Kepala Badan Penjaminan Mutu (BPM) Universitas Semarang Dr Ardiani Ika Sulistyowati SE MM Akt CA CPA, para Dekan, serta delegasi perwakilan Organisasi Mahasiswa (ORMA) USM.

Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) dibentuk berdasarkan Permendikbud No.30 Tahun 2021 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan Perguruan Tinggi.

Adapun Satuan Tugas (Satgas) Konseling Mahasiswa dibentuk agar dapat membantu mahasiswa dengan mengiringi proses perkembangannya melewati masa-masa di perguruan tinggi, sehingga terhindar dari kesulitan, dapat mengatasi kesulitan,membuat penyesuaian yang baik, dan membuat arah diri hingga mencapai perkembangan yang lebih optimal.

Sambutan Rektor USM Dr Supari ST MT yang diwakili oleh Dr Muhammad Junaidi menyatakan, acara ini adalah bentuk tindak lanjut dari Permendikbud No.30 Tahun 2021 yang pada esensinya terkait dengan penanganan masalah kekerasan seksual di lingkungan kampus.

"Acara ini adalah bentuk tindak lanjut dari Permendikbud No.30 Tahun 2021 yang pada esensinya terkait dengan penanganan masalah kekerasan seksual di lingkungan kampus," ucap Wakil Rektor III USM, dalam sambutannya.

"Atas perintah dari LLDIKTI memberikan suatu surat, bahwa untuk kampus segera membentuk Satgas PPKS dan melaksanakan yang tertuang pada Permendikbud No.30 Tahun 2021. Sesuai petunjuk teknis yang sama, Universitas Semarang melakukan gerak cepat, sesuai dengan mekanisme bahwa Satgas PPKS tidak bisa berdiri sendiri, melainkan harus didukung dengan lembaga konseling," ujarnya.

Maka, terbentuknya lembaga layanan konseling di Universitas Semarang yang akan terpadu dengan PPKS.

"Jadi, jika terjadi kasus kekerasan seksual, pada satu sisi Satgas PPKS dapat menangani serta pada satu sisi lembaga konseling menindaklajuti dari beberapa hal yang menjadi rekomendasi, sesuai Permendikbud PPKS," imbuhnya. Sebelum terlaksananya launching Satgas PPKS dan Lembaga Konseling ini, kedua lembaga ini telah melakukan tugas serta telah menangani bebarapa kasus kekerasan seksual.  

Bhimo Widyo Andoko menjadi keynote speaker menjelaskan, di Indonesia sudah terdapat 4.660 kasus kekerasan seksual dari berbagai kalangan. Maka, fungsi dari Satgas PPKS dan Konseling mahasiswa adalah untuk mengawal agar tidak terjadinya kekerasan seksual di ligkungan Perguruan Tinggi. 

Dosen Fakultas Psikologi USM Anna Dian Savitri SPsi MSi Psikolog menjadi moderator pada seminar ini. Adapun narasumber yang mengisi seminar antara lain Ketua Satgas PPKS Universitas Semarang Helen Intania SH MH dan Ketua Satgas Konseling Mahasiswa USM Yudi Kurniawan SPsi MPsi Psikolog.

Helen Intania SH MH menjelaskan kekerasan seksual merupakan sebuah perbuatan yang merendahkan, menghina, melecehkan dan menyerang pada seseorang. Yang akibatnya akan mengganggu kesehatan reproduksi serta pola pikir seseorang.

Menurutnya, pada lingkungan kampus, mahasiswa lebih dominan menjaadi korban khususnya perempuan. Namun, tidak menutup kemungkinan dosen dan karyawan turut menjadi korban.

Maka dari itu, dengan adanya Satgas PPKS ini dapat melakukan pengawalan sehingga kampus dapat menjadi lingkungan yang sehat, aman, nyaman, dan tanpa adanya kekerasan seksual.

Yudi Kurniawan SPsi MPsi Psikolog, menyampaikan terbentuknya Satgas Konseling Mahasiswa, karena Karena belum terdapat UU yang mengatur satgas konseling, guna perlunya layanan konseling bagi mahasiswa.

Dari isu masalah mental emosional pada mahasiswa telah menjadi isu global, ketiadaan pertemuan offline membuat kondisi emosional menurun, karena dengan tidak ada support sistem.

Contohnya, izin kuliah tapi tidak kuliah, maka inilah fungsi satgas konseling dalam mensosialisasikan kepada mahasiswa agar tidak terjadi kejadian tersebut.

Demikian rangkaian acara Hybrid Seminar dalam rangka Launching Satuan Tugas (Satgas) Konseling Mahasiswa dan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) USM, yang dimulai pukul 08.30 - 12.50 WIB dan ditutup dengan foto bersama.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar