BPBD Kudus Tambah EWS di Wilayah Rawan Longsor

KBRN, Kudus : Hujan mulai kerap terjadi di Kudus pada bulan Oktober ini, meski masih dengan intensitas sedang. Dan, bulan November mendatang, diperkirakan Kudus sudah mulai memasuki musim penghujan. Yang perlu diwaspadai saat masuk musim penghujan adalah bencana banjir dan tanah longsor.

Apalagi tahun 2022 mendatang, beberapa masyarakat yang tinggal diwilayah atas (Lereng Muria) memperkirakan akan terjadi siklus delapan tahunan.

Mengantisipasi adanya bencana saat musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus menambah pemasangan alat Early Warning System (EWS). Alat tersebut betujuan untuk mendeteksi dini jika ada pergerakan tanah yang berpotensi menjadikan longsor.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kudus Budi Waluyo, mengatakan, pemasangan alat EWS kini ditambah di satu titik di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Sebelumnya, di Kudus ada dua alat EWS yang sudah terpasang di Dukuh Kambangan, Desa Menawan.

Namun salah satu alat itu sudah rusak. Akibat dirusak sendiri oleh warga yang merasa terganggu dengan bunyi sirene. Hal itu tentunya sangat disesalkannya.   

"Cara kerja alat itu ketika ada curah hujan yang tinggi, maka akan berbunyi. Sehingga masyarakat perlu waspada. Begitu juga ketika ada pergerakan tanah, alat itu juga akan bunyi maka warga sekitar harus siaga untuk dievakuasi. Tapi bunyi sirinenya berbeda," katanya, Senin (25/10/2021).

Pemasangan alat deteksi dini longsor memang sangat dibutuhkan untuk mengantisipasi agar tidak terjadi korban. Selain Dukuh Kambangan di Desa Menawan, alat itu juga dipasang di Desa Rahtawu yang berada di lereng Muria yang juga adalah salah satu desa yang rawan longsor.

"Apalagi masyarakat di Desa Rahtawu itu ada ilmu titen dimungkinkan terjadi bencana besar setiap delapan tahunan, dan siklus itu diperkirakan terjadi tahun depan. Jadi kami prioritaskan disana," ungkapnya.

Pihaknya juga sudah menyosialisasikan dan membentuk tim relawan siaga bencana. Sehingga, ketika nanti alat tersebut bunyi tim tersebut bisa langsung bertindak sesuai  langkah - langkah yang harus dilakukan.

"Itu tim khusus dari relawan desa, sudah kami latih kami berikan simulasi. Bahkan kami menyiapkan jalur evakuasi satu pintu jika memang terjadi bencana," ujarnya.

Sementara Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kudus Wiyoto menambahkan, sirine pada alat pendeteksi dini longsor itu bisa terdengar cukup jauh. Bahkan mampu terdengar hingga radius satu kilometer.

"Apalagi di Semliro Rahtawu itu tempatnya terbuka, pastinya radius terdengar nya akan lebih jauh. Ketika alat itu bunyi, nantinya dari Pemrov Jateng juga akan menerima pemberitahuan. Karena itu tersambung secara otomatis," jelasnya. (Roy Kusuma)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00