BKKBN dan Pemkot Semarang Komitmen Atasi Stunting

KBRN, SEMARANG : Setelah ditunjuk Presiden RI sebagai ketua percepatan penurunan stunting nasional, Kepala Badan Kependudukan dan keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI Dr dr Hasto Wardoyo SPOG (K) melakukan road show ke Jawa Tengah untuk menemui sejumlah kepala daerah. Salah satunya Kota Semarang yang dinilai sebagai salah wilayah yang  dijadikan proyek percontohan  dalam upaya penurunan angka kematian ibu, bayi, dan stunting.

Hal tersebut disampaikan Hasto Wardoyo saat melakukan pertemuan dengan Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu, Kamis malam (14/10/2021).

“Kami terkejut nih dan bahagia karena di Semarang ini dengan penduduk 1,6 juta itu angka stuntingnya bisa 3 persen, ini luar biasa, saya belum menemukan dikota kota lain bahka rata rata 6 persen,” tandasnya.

Hasto Wardoyo mengatakan,  sistem yang dikerjakan Kota Semarang dalam penangan stunting  terstruktur, sistimatis, dan dikeroyok dari segala penjuru.

“Di Kota Semarang sendiri ini sudah sangat bagus, kebijakan Pemkot Semarang sangat baik, semua kelurahan ada bidannya, juga ibu hamil di sini juga ada sistem pengawalannya. Jadi kami optimis Semarang ini sangat layak  menjadi pilot projek secara nasional ," tuturnya.

Menurut dia, kunjungannya ke daerah-daerah ini untuk meminta dukungan dan masukkan kepala-kepala daerah, agar semua yang berisiko stunting dapat di sentuh sesuai arahan dan intruksi Presiden RI Joko Widodo.

Dalam kesempatan itu, Hevearita G. Rahayu yang dikenal Mbak Ita menyatakan, Pemkot Semarang berkomitmen menurunkan angka stunting secara masif agar tercipta zero stunting, sehingga menjadi tolak ukur daerah lain di Indonesia.

“Jadi kami mendapatkan arahan dari Kepala BKKBN RI terkait penanganan stunting, nah kita dijadikan proyek percontohan di Indonesia lokasinya di wilayah Kelurahan Tanjung Mas yang merupakan wilayah pesisir,” ngkapnya.

Ita menjelaskan,  lokasi pilot proyek penanganan stunting di Kelurahan Tanjungmas ini sangat tepat karena selain wilayah pesisir, juga tingkat kemiskinannya  dan stuntingnya masih sangat tinggi.

“jadi di Kelurahan Tanjungmas Semarang ini ada sekitar 79 yang diintervensi, 12 ibu hamil yang alami anemia dan 4 lainya kekurangan enegri kronis(KEK),” jelasnya.

Dia mengatakan, bagi warga yang mengalami kekurangan gizi ini sejak 1 Oktober 2021 hingga 31 Desember 2021 mendapatkan asupan gizi berupa makanan tambahan dengan anggaran yang disiapkan mencapai Rp  360.000.000.

“Ya jadi angggaran Rp 360.000.000 itu hanya untuk makanan saja, dimana dari Kepala Dinas Kesehatan dijelaskan, untuk makanan sekali makan ini adalah Rp 12.500, dan snaknya Rp 6.000,” ungkapnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00