Tingkatkan Nilai Tambah, Prodi TIP UTM Gelar Pelatihan Diservikasi Produk Turunan Kelor

Pelatihan Diservikasi Produk Turunan Kelor (RRI/Miftah)

KBRN, Bangkalan: Kelor (Moringa Oleifera) merupakan tanaman konsumsi yang popular bagi masyarakat di pulau Madura. Umumnya, masyarakat mengolahnya menjadi sayur.

Pada saat ini konsumsi kelor semakin meningkat seiring dengan permintaan kelor untuk produk kesehatan menyusul sejumlah hasil riset yang membuktikan komposisi gizi yang melimpah pada kelor serta khasiat mengonsumsinya.

Merespon tantangan tersebut, Prodi Teknologi Industri Pertanian (TIP) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat di Desa Larangan Dalam, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan.

Ketua tim KKN tematik kelompok 37 Taufiq mengtakan, kegiatan pengabdian merupakan hasil dari proses Pendidikan dan Penelitian di Kampus UTM. Kegiatan berkolaborasi dengan tim KKN tematik kelompok 37 UniversitasTrunojoyo Madura.

“Kami mengambil tema kegiatan, Peningkatan Nilai TambahKelor dengan Deversifikasi Produk Turunan Kelor dengan mendatangkan para akademisi dari program studi Teknologi Industri Pertanian Universitas Trunojoyo Madura diantaranya Askur Rahman, S.TP., M.P., dan Mojiono, S.TP., M.Si,” ungkapnya. Kamis (2/12/2021)

Ia menambahkan, kegiatan yang dilakukan di Bali Desa Larangan Dalam berlangsung dalam 4 tahap, diikuti oleh 30 peserta. Tahap pertama adalah penyampaian tujuan abdimas yang dilanjutkan dengan presentasi mengenai peluang usaha dan teknologi pengeringan daun kelor.

“Sesi berikutnya adalah penjelasan pembuatan produk, yaitu kelor celup, stik dan kukis. Terakhir acara ditutup dengan sesi diskusi bersama peserta,” ujarnya.

Dikesempatan yang sama, salah satu narasumber Askur Rahman mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian implementasi salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi.

“Misi kegiatan adalah menyampaikan perkembangan teknologi pengolahan kelor serta manfaat kesehatan mengonsumsi kelor. Karena dari sisi gizi daun kelor adalah sumber vitamin seperti vitamin A dan C serta mineral antara lain kalsium dan kalium. Nilai kalori rendah pada daun kelor membuatnya cocok digunakan untuk diet anti obesitas. Inovasi pengolahan kelor perlu terus di gilakkan kepada masyarakat,” kata pria kelaharin Sumenep itu.

Sementara itu, salah seorang peserta Fathorrahman menyampaikan, dirinya bersama masyarakat yang lain menyambut positif untuk menjadi tambahan wawasan terutama seputar pemanfaatan kelor untuk bahan produk pangan.

“Pengembangan produk kelor di masa mendatang sangat prospek. Apalagi, budidaya tanaman kelor mudah dilakukan. Peluang ini harus bisa dimanfaatkan sebaik mungkin oleh masyarakat,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar