Lamin Pepas Eheng Di Kubar Yang Mendunia Memerlukan Perhatian serius Pemerintah

KBRN, Kutai Barat : Lamin yang dalam bahasa Dayak Benuaq disebut “Lou” adalah rumah adat masyarakat dayak atau suku asli kalimantan.  Secara umum lamin biasanya dihuni oleh 10-50 keluarga. Bentuknya memanjang sehingga ukurannya mencapai panjang 300 meter dan lebar 15 meter. Lamin selain digunakan sebagai tempat tinggal juga digunakan sebagai tempat upacara adat. Namun dewasa ini karena pengaruh arus moderninasi masyarakat dayak sudah hampir semua membuat rumah pribadi dan meninggalkan lamin. Sehingga lamin hanya menjadi tempat berkumpul pada saat upacara adat.

Lamin Pepas Eheng adalah satu dari sekian Lamin (rumah adat masyarakat dayak) yang masih bisa dilihat keberadaannya. Secara administratif berada di wilayah Kampung Pepas Eheng, Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.

Menurut keterangan Kepala Kampung Eheng Armansyah atau biasa disapa Ngudau Lamin Pepas Eheng dibangun di era tahun 70 an dengan kapasitas 1000 orang dan lebar 20 m serta panjang 80 meter. Lamin ini adalah cikal bakal adanya Kampung Pepas-Eheng.

Lamin Pepas Eheng didirikan oleh masyarakat Dayak Benuaq yang bermukim di wilayah tersebut. Sebelumnya masyarakat Dayaq Benuaq di Pepas Eheng tinggal di daerah Pepas. Namun, karena kebutuhan sehari-hari tidak mencukupi diwilayah Pepas maka mereka berpindah ke wilayah yang kemudian diberi nama Pepas Eheng. Lamin ini digunakan sebagai tempat tinggal pada awalnya. Seiring berjalannya waktu banyak penghuninya berpindah dan membuat rumah pribadi sehingga sekarang hanya terdapat satu keluarga saja yang masih bertahan sebagai penghuni di Lamin tersebut.

Bagian- bagian Lamin Pepas Eheng terdiri dari beberapa bagian komponen penyusun maupun komponen pendukung. Bagian tersebut adalah bagian bawah bangunan, bagian tengah bangunan, bagian atas bangunan. Bagian bawah bangunan adalah kolong, tangga, dan tiang bangunan. Bagian tengah terdapat serambi depan, ruang utama, dan ruang privat. Sedangkan bagian atas bangunan adalah atap dan kuda-kuda atap.

Bagian bawah Lamin Pepas Eheng memiliki fungsi masing-masing. Kolong biasanya digunakan masyarakat Dayak Benuaq sebagai kandang binatang ternak (babi, ayam, dll) serta tempat menyimpan peralatan yang dipakai sehari-hari.

Di era dewasa ini kolong digunakan sebagai tempat parkir kendaraan roda 2. Tangga di Lamin Pepas Eheng terdapat 7 buah, memiliki komposisi 1 buah sebagai tangga utama dan 6 buah tangga pendukung.

Tangga utama memiliki ciri khas berbeda dari tangga yang lain. Tangga ini terbuat dari batang pohon yang takik-takik membentuk 7 undakan (anak tangga),terdapat hiasan motif bunga dan sulur. Pada pangkalnya terdapat antromorfik berbentuk kepala pada pegangan atas dan terdapat tempat duduk pada kanan kirinya. Tiang bangunan dari Lamin ini terdapat 24 buah dan seluruh sukaq(tiang dalam bahasa dayaq benuaq) terbuat dari kayu ulin(Eusideroxilon zwageri) dengan diameter 40-80 cm dan panjangnya 6 meter.

namun sayang kondisinya kini mengalami beberapa kerusakan seperti disampaikan oleh Kepala Kampung Eheng Ngudau.

Bahkan Ngudau menyebut, Lamin Eheng yang sangat mendunia ini selain menghadapai kerusakan pada bangunan juga harus dihadapkan dengan tidak adanya wisatawan yang datang akibat pandemi Covid 19 sehingga Ia berharap sektor pariwisata dapat kembali bangkit seiring Covid 19 segera berlalu.

Sebagai kepala kampung Eheng Ngudau memiliki besar Lamin Eheng bisa terus dikenal dan dikunjungi oleh wisatawan luar Kaltim hingga mancanegara sehingga dapat menjadi icon tidak hanya bagi kampong Eheng namun bisa lebih luas yakni Kutai Barat maupun Kaltim hingga Indonesia.

Lamin Eheng  merupakan kebanggaan masyarakat dayaq Benuaq kampung Pepas Eheng karena memiliki volume terbesar diantara lamin yang lain. Bahkan hanya beberapa kampung yang memiliki lamin sendiri, seperti kampung Lambing, Engkuni, dan Tanjung Isui.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar