2000 Lebih Lubang Tambang Ancam Keselamatan Warga Kaltim

KBRN, Samarinda : Lebih dari 2000 Warisan lubang akibat ekploitasi pertambangan di Kalimantan Timur dampaknya tengah dan akan terus dihadapi oleh warga Benua Etam.

Ungkap Ketua Bidang Pertambangan dan lingkungan KIKA Kaltim dan dosen hukum dosen Megister hukum S2 bidang pertambangan Dr.Haris Retno kepada RRI.

Ia menyebut saat ini ada 1400 lebih iizn tambang legal dan 162 tambang illegal di Kaltim yang sama-sama meninggalkan lubang tambang, mengingat secara teori penambangan masing-masing tambang pasti akan meninggalkan minimal dua lubang dan bisa lebih .

“selain nanti warisan lubang-lubang tambang baik yang legal maupun ilegal yang jumlah nya ribuan nah itu akan menjadi persoalan kriris ekologi juga di kalimantan, ya kalau kita merujuk pada izin yang legal saja 1400 an yang kemudian diaudit menjadi sekitar 1000 tetapi sisanya yang 400 ratus ini kan tidak ada evaluasi misalnya situasi dilapangan seperti apa, apakah mereka juga meninggalkan lubang atau enggak, secara teori penambangan masing-masing tambang pasti akan meninggalkan minimal dua lubang jadi kalau sekarang sisa 1000 kalikan dua saja nah itu kalau cuman dua tetapikalau lebih dari dua yang bisa lebih dari itu”,kata Dr.Haris Retno, Ketua Bidang Pertambangan dan lingkungan KIKA Kaltim dan dosen Megister hukum S2 bidang pertambangan kepada RRI Minggu (7/8/2022) di Samarinda

Pengamat Hukum Pertambangan itu juga menjelaskan saat ini banyak dalih yang menyebut lubang-luibang tambang itu belum bisa ditutup karena mayoritas masih beroperasi namun nyatanya Dr.Haris Retno menilai mengacu pada teori penambangan perusahaan tambang pasti akan meninggalkan lubang yang tidak bisa ditutup karena bagian yang digali adalah bagian dari tanah dan jika penggalian dilakukan hingga jutaan ton maka Ia menyebut akan diganti dengan apa jelas tidak bisa diganti atau ditutup, hal ini terangnya akan menyisakan lubang tambang yang pasti merusak ekologi di Kaltim hingga waktu yang sangat lama.

Tindakan itu yang disayangkan Haris tidak terbukanya pemerintah terhadap warga terhadap resiko dari pembukaan lahan untuk pertambangan baik lagal maupun illegal yang menurutnya sama-sama menyisakan dampak buruk bagi lingkungan di Kaltim.

“Nah Banyak dalih yang mengatakan lubang-lubang tambang itukan mayoriyas tambangnya masih beropreasi belum bisa dilakukan penutupan tapi secara teori penambangan satu hal yang pasti perusahaan tambang itu akan meninggalkan lubang yang tidak akan bisa ditutup kenapa karena bagian yang digali bagian dari tanah kalau sampai jutaan ton yang digali itu akan mengantinya dengan apa kan tidak ada gantinya jadi pasti akan menimbulkan lubang nah ini yang tidak dikomunikasi dengan jujur oleh pemerintah kepada masyarakat terhadap resiko penambangan baik illegal amupun illegal jadi kalau yang legal berpotensi menimbulkan lubang sebanyak itu apalagi yang illegal karena kita tidak tahu penegakan hukum oleh pemerintah sudah sampai mana”,tandas Haris.

Dr.Haris Retno Dosen S2 fakultas Hukum Unmul ini menegaskan , Tambang ilegal dan legal sama-sama merusak lingkungan, tetapi skala kerusakan tambang legal jauh lebih mengerikan karena izin yang sangat luas sehingga Harris mendorong moratorium pertambanagn untuk segera dilakukan di Benua Etam .

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar