Penyerahan Santunan PT Jasa Raharja Samarinda Naik 8.2 Persen

Humas PT Jasa Raharja Perwakilan Samarinda, Imam Mukhtar Rofik. (Rendy)

KBRN, Samarinda: Santunan kecelakaan yang dibayarkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tergabung dalam Indonesia Financial Group, PT Jasa Raharja Perwakilan Samarinda, mengalami peningkatan hingga 8.2 persen. Demikian terungkap pada konfrensi pers terkait asuransi sosial yang digelar pada Senin (04/07/2022), di Swiss Bell Hotel, Kota Samarinda.

Humas PT Jasa Raharja Perwakilan Samarinda, Imam Mukhtar Rofik, menjelaskan pembayaran santunan di wilayah Samarinda pada triwulan kedua Januari-Juni 2022 mengalami peningkatan 8.2 persen.

Hal tersebut dapat terlihat pada data yang disampaikan, diantaranya penyerahan santunan meninggal dunia sebesar Rp 5.205.000.000, sementara santunan luka-luka Rp 928.861.242.

Imam menjelaskan,  santunan yang akan dikeluarkan, Imam belum bisa memprediksi nilai santunan yang akan diberikan pada tahun 2022. Ia berharap masyarakat lebih berhati-hati dalam berkendaraan untuk menghindari kecelakaan.

"Harapan kami, masyarakat lebih aware (hati-hati) dalam berkendara. Maksudnya lebih baik dalam menaati peraturan lalu lintas. Jadi kita tidak bisa memprediksi karena bagaimana kecelakaan kedepannya. Karena itu kita juga nggak ingin ada kecelakaan,” ucap Imam Mukhtar Rofik.

Sebagai bentuk menyadarkan masyarakat untuk lebih bisa hati-hati lagi dalam berkendara, Imam juga mengatakan jika PT Jasa Raharja bersama Polresta Samarinda akan terus menggalakan sosialisasi.

“Jadi upaya-upaya kami dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat berkendara yang baik, bersama Satlantas juga Polresta Samarinda, dan Kami juga sering mengadakan sosialisasi baik itu keselamatan tentang berkendara," terangnya.

Lebih lanjut, Imam menyebutkan perbedaan presentase antara tahun 2022 dan dua tahun sebelumnya saat era pandemi, Imam kembali menjelaskan bahwa penyerahan santunan tidak terlalu signifikan, hanya saja banyaknya aksi balapan liar oleh para pelajar yang sering terjadi adanya suatu kecelakaan.

"Kalau kenaikan itu tidak begitu signifikan ya. Kalau tahun 2021 lalu kan masih pandemi. Bahkan pas tahun 2020-2021 itu ada kenaikan. Hal itu karena anak sekolah itu nggak masuk sekolah, dia malah pergi kelayapan. Jadi dia gak sekolah malah pergi keluar untuk mencari kegiatan yang tidak bermanfaat yang akhirnya menimbulkan kecelakaan,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar