Produksi Pertanian Kakao Di Mahulu Targetkan Pasar Ekspor

Kakao Mahakam Ulu.png

KBRN, Mahulu : Petani kakao di  Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) memiliki kualitas produksi bii kakao yang sangat baik. Untuk itu Pemerintah Kabupaten setempat  melirik pasar ekspor luar negeri dengan harga yang bagus, namun masih menunggu sertifikasi sebagai salah satu syarat untuk ekspor.

Untuk pengembangan produksi kakao, petani di wilayah ini sejak beberapa tahun lalu telah mendapat pendampingan dari WWF, kemudian WWF juga telah menggandeng PT Mars untuk melakukan sertifikasi kakao melalui Rikolto di Indonesia.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Mahulu Saripudin menuturkan, Jika kakao di Mahulu ini lolos sertifikasi, maka akan segera dilakukan ekspor ke Amerika melalui perwakilan perusahaan yang ada di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.

"Produksi kakao di Mahulu sudah bagus, mutunya juga sudah bagus dengan level A dan A Plus, sehingga sudah layak untuk diekspor. Jadi sekarang tinggal menunggu sertifikasinya saja," ujar Saripudin, Sabtu (2/7/2022).

Dikatakan luas tanaman kakao di Mahulu saat ini sebanyak 2.300 hektare (ha) yang tersebar pada lima kecamatan, yakni Kecamatan Long Apari, Long Pahangai, Long Bagun, Laham, dan Kecamatan Long Hubung.

Sementara itu untuk hasil produksi yang dihasilkan antara 250 ton hingga 300 ton biji kakao kering per tahun, yakni rata-rata dua kali panen dalam setahun. Saat ini produksi biji kakao di Mahulu masih dijual ke Samarinda dengan harga fluktuatif, yakni di kisaran Rp22 ribu hingga Rp26 ribu per kilogram (kg).

“Angka tersebut merupakan harga yang diterima petani di tempat. Ada pengumpul di masing-masing kecamatan yang langsung membeli kakao dari petani seharga itu," katanya.

Melalui pembinaan yang dilakukan selama ini, diharapkan perkebunan kakao di Mahulu terus meningkat, apalagi jika ke depan kakao tersebut bisa menembus pasar ekspor yang tentunya juga diperlukan tambahan produksi lagi.

Untuk subsektor perkebunan lainnya, hingga saat ini di Mahulu belum ada yang dikembangkan secara besar dari masyarakat, adapun yang skala besar namun bukan perkebunan rakyat, tetapi dilakukan oleh perusahaan, yakni perkebunan sawit.

Saat ini ada 11 perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi di Mahulu. Sebagian sudah lama panen dan sebagian lagi masih dalam tahap penanaman atau belum produksi. Selain pabrik yang sudah beroperasi di Kampung Mamahak Besar, kini sedang dibangun pabrik sawit di Kampung Long Gelawang, Kecamatan Laham.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar