Kayu Ulin di Kutai Barat Terancam Punah, Ini Penyebabnya

Kepala Dinas lingkungan hidup Kabupaten Kutai Barat, Ali Sadikin melakukan penanaman kayu ulin di hutan kota Kutai Barat, (24/6/2022). Foto: RRI/Andreas

KBRN, Sendawar : Kayu ulin (eusideraoxylon) adalah jenis kayu khas pulau Kalimantan, termasuk di Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur.

Namun kayu yang terkenal akan kekuatannya bahkan disebut kayu besi itu kian langka. Laju pertumbuhan penduduk yang terus bertambah dan pesatnya pembangunan membuat permintaan kayu ulin ikut meningkat.

Potensi kayu ulin yang awalnya cukup besar dan mudah ditemui di hutan, kini sudah semakin menipis bahkan beberapa tempat kian sulit ditemukan.  

Kondisi ini mengancam kelestarian pohon ulin, karena sumber bahan baku kayu ulin hanya diambil dari hutan alam tanpa memperhatikan kelestariannya.

Apalagi  proses pemuliaan alami di hutan bekas tebangan umumnya kurang berjalan dengan baik. Sementara perkecambahan biji Ulin  membutuhkan waktu lama antara 6-12 bulan dengan persentase keberhasilan relatif rendah, produksi buah tiap pohon juga sedikit.

“Kayu ulin untuk di Kutai Barat ini terancam punah,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Barat, Ali Sadikin, usai penanaman pohon di hutan kota kompleks perkantoran Pemkab Kubar, Jumat (24/6/2022).

Baca Juga:

DLH Kubar Tanam 1000 Pohon di Hutan Kota

Ali menyebut, kayu Ulin memiliki spesifikasi khusus karena punya kekuatan luar biasa.

“Makanya orang bilang kayu besi. Karena dalam kondisi ekstrem apapun kayu ini bisa bertahan,” ujarnya.

Ali Sadikin tidak memungkiri permintaan tinggi kayu ulin tidak hanya di Kutai Barat melainkan masyarakat luar daerah.

Hal itu yang memicu perambahan hutan berlebihan tanpa adanya upaya penanaman kembali.

“Kalau untuk masyarakat lokal itu berapa sih kebutuhannya, kan jumlah penduduknya tidak seberapa. Yang repotnya ini karena mekanis akhirnya terjadi perambahan. Dan kalau kita tarik benang merahnya bukan orang Kutai Barat yang melakukan perambahan. Justru di Kutai Barat ini mereka jaga, mereka lindungi karena kayu ulin itu untuk buat rumah adat, lamin,” terang Ali.

Disamping itu penegakan hukum terhadap pelaku perambahan (illegal logging) belum efektif.

“Dari sisi penegakan hukum kita masih kurang,” tegasnya.

Ali mengatakan, jika tidak ada upaya pelestarian maka kepunahan kayu ulin tinggal menunggu waktu saja.

“Sekarang saja kita sudah sulit melihat kayu ulin. Apalagi anak cucu kita kedepan,” papar Ali.

Pemerintah lanjut Ali Sadikin sudah menetapkan kayu ulin sebagai kayu endemik dan dilindungi. Yaitu melalui Peraturan daerah Nomor 6 tahun 2014 tentang Perlindungan terhadap Hutan Adat, Situs-Situs Bersejarah, Flora dan Fauna serta Pelestarian Lingkungan Hidup dalam Wilayah Kabupaten Kutai Barat.

Kemudian ada aturan dari lembaga adat yang melarang penebangan ulin.

“Di Perda kita sudah ada larangan dan memang secara nasional itu kayu ulin dilindungi,” katanya.

Baca Juga:

ASN dan Non ASN Wajib Tanam Tanaman Pangan di Pekarangan Rumah

Pemerintah daerah juga kini fokus melakukan konservasi untuk melindungi kayu ulin. Salah satunya melalui penetapan hutan adat khusus ulin dan penanaman rutin tiap tahun.

“Upya konservasi ini salah satunya hari ini kita lakukan penanaman di hutan kota ini sebanyak 50 bibit. Kemudian ada hutan adat di gunung Menaliq kecamatan Bentian Besar yang sudah kita usulkan ke Kemen LHK untuk dijadikan hutan adat khusus konservasi ulin,” pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar