Populasi Kian Langka, Harga 'Salai Jukut Baong' di Muara Enggelam Melejit

Ibu Leni Marlina, Penjual Salai Jukut Baong.jpg

KBRN, Kutai Kartanegara : Ikan Baung atau penduduk asli di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kerap menyebutnya sebagai jukut baong menjadi salah satu jenis ikan endemik di Pulau Kalimantan.

Ikan ini tumbuh dan berkembang biak secara liar di perairan Sungai Mahakam maupun anak sungai di hampir seluruh pelosok perkampungan warga.

Namun jenis ikan yang biasa dijadikan sebagai ikan salai atau ikan asap oleh warga setempat justru mengalami penurunan populasi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

"Urang sini tulak dulu baong tu jadi jukut salai. Dibelah dulu perutnya, buangi isinya tu habis itu baru di asap sehari semalam supaya kawa tahan sampai bebulan - bulan (warga di sini dari dulu mengasapi ikan baung agar awet dan bisa dikonsumsi dalam waktu lama)," ungkap Leni Marlina, salah seorang penjual Salai Jukut Baong di Desa Muara Enggelam, Kabupaten Kukar Sabtu (13/08/2022) Siang kepada RRI.

Ibu dua anak ini mengaku sudah 7 tahun menjadi pembuat Ikan Salai. Namun, dua tahun terakhir dirinya memutuskan untuk berhenti memproduksi sendiri ikan salai yang resepnya secara khusus Ia pelajari dari sang Nenek.

"Mata saya jadi rabun karena sering terkena asap pas mengasapi salai," akunya.

Usahanya kemudian dilanjutkan oleh saudara sepupu dimana Leni menjadi perantara untuk menjual produk salai tersebut. 

Namun, dalam satu dekade terakhir dirinya kesulitan untuk memenuhi permintaan pasar yang seiring waktu bertambah banyak. Alasannya, nelayan Muara Enggelam tidak lagi mudah mendapatkan ikan baung di Sungai.

Potret Kehidupan Desa Muara Enggelam

Menurut Leni, alat tangkap nelayan yang dikenal dengan sebutan pukat tak lagi mampu menjaring banyak ikan baung. 

"Payah (susah) dapatnya sekarang. Dulu waktu saya masih molah (membuat) salai tu bisa sepikul sampai dua pikul sekali mengirimkan salai baong ni ke Tenggarong kah, Samarinda sampai Surabaya. Wayah ini paling banyak 30 kilo, 20 kilo gin dah be-syukur," tambahnya lagi.

Dari penuturan nelayan setempat, populasi ikan baung menurun sejak beberapa tahun terakhir. Keinginan membudidayakan ikan jenis ini pun harus pupus ditengah jalan sebab ikan baung tak bisa dipelihara dalam tambak.

"Mana ada bisa dibudidaya. Nde mau ikannya," katanya.

Penuturan serupa turut disampaikan Ayyub, motoris kapal longboat sekaligus nelayan. Dari cerita Ayyub, para Nelayan mengakui ikan baung adalah salah satu ikan yang susah ditangkap.

"Musim banjir tegak sekarang ni harganya mahal itu 35 ribu per kilo (ikan segar). Tapi kalau sudahnya lagi payah (susah) didapat bisa sampao 60 ribu sekilo," terang Ayyub.

Populasinya yang semakin langka membuat harga jual Ikan Baong Asap ini melejit. Leni mengungkapkan terakhir kali memproduksi salai, harga untuk satu kilogram ikan berkisar Rp 130.000 hingga Rp 150.000.

"Sekarang kami jual Rp 250.000 per kilo. Baongnya susah dicari, kayu bakar jua kami mbeli Rp 3.000 per potok (batang/satuan)," sebutnya lagi.

Namun Ia bersyukur berkat penetapan Muara Enggelam sebagai salah satu daerah tujuan wisata maka semakin banyak warga yang mendatangi desanya. 

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar