Penjara Kolonial Di Sanga-Sanga Tetap Dipelihara Di Tengah Pandemi Covid 19

KBRN,Samarinda : Di tengah Pandemi Covid 19 yang tengah tinggi di Kalimantan Timur , Cagar Budaya Penjara Kolonial Sanga-Sanga di Kabupaten Kutai Kartangera tetap dijaga dan dirawat.Sejarah Sanga - Sanga di Kabupaten Kutai Kartanegara tidak bisa dilepaskan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa heroik di Sanga - Sanga terjadi pada 27 Januari 1947 yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Merah Putih Sangasanga.

Jejak sejarah perjuangan ini dapat dilihat dari Rumah Penjara Sanga-Sanga. Bangunan Rumah Penjara ini dulunya pada bagian dinding terdapat kawat besi yang dialiri listrik untuk mencegah para tahanan melarikan diri.Pada halaman depan, dapat dijumpai sebuah sumur kuno yang diperkirakan sezaman dengan keberadaan Rumah Penjara Sanga-Sanga.

Rumah Penjara ini merupakan sebuah bangunan panggung yang memiliki 6 ruangan penjara yang sempit. Bangunan Rumah Penjara ini menggunakan bahan kayu ulin dan karena itu pula sering disebut sebagai Penjara Ulin.

Hal tersebut di sampaikan oleh Pengkaji Pelestari Cagar Budaya dari , Balai Pelestari Cagar Budaya Provinsi Kalimantan Timur Edy Gunawan.

Ia menjelaskan penjara ini dahulunya digunakan untuk menempatkan para tahanan Belanda namun ketika Belanda hengkang dari Indonesia penjara ini pun sempat digunakan untuk menahan warga pibumi yang melakukan kejahatan hingga pada akhirnya oleh Jepang selama beberapa tahun  saat untuk menjajah Ia gunakan menyimpan tangkapan perang .

Pendengar, tau kah anda penjara Kolonia Sanga-Sanga ini hingga hari ini masih mempertahankan kodisi awal tanpa mengubah bentuk dan material bangunan kendati ada perubahan inpun hanya berupa cat dinding yang sahulunya tidak erwarga namun kini berwarna hijau dan krem mendekati kuning .

Penjara Kolonial Belanda ini masing-masing ruangan memiliki ukuran 1,2m x 1,5 m dengan sebuah pintu serta dua buah ventilasi udara yang berteralis besi pada bagian atas pintu dan sisi dinding belakang.

Penjara Ulin ini digunakan pada masa pemerintahan kolonial Belanda hingga pada masa pendudukan Jepang hingga masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada 1947.

Rumah Penjara ini pada masa lalu dipaksa untuk menampung puluhan orang dalam satu ruangan. Menurut informasi, ketika pendudukan Jepang, penjara ini di isi sekitar kurang lebih 20 orang dalam ruangan sesempit itu, dan dikurung berhari - hari tanpa boleh keluar untuk buang air dan makan, dan ketika salah satu dari mereka sudah berbau amis, mereka di tarik keluar dan di buang di tempat pembakaran yang sekarang menjadi Tugu Pembantaian.Menurut Edy, saksi hidup yang merasakan pedihnya Penjara Ulin ini adalah Pak Paiman .

Penjara Kolonial Sanga-sanga terletak di jalan Masjid, kelurahan Sanga-sanga dalam, kecamatan Sanga-sanga, kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Letak penjara di pinggir sungai dan banyak rumah warga di sekitar bangunan ini sekarang. Untuk menuju ke Penjara ini memakan waktu 1 jam dari kota Samarinda, akses jalan juga relatif baik hanya ada sedikit jalan rusak dibeberapa titik.

Edy Gunawan berharap keberadaan penjara ini turut dirawat dan dijaga oleh warga disekitar lokasi agar pelestariannya dapat terpelihara dengan baik .

Saudara, Penjara kolonial Sanga-sanga sudah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya dan dilindungi oleh undang-undang nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya, jadi bangunan ini tidak boleh dirusak dan dicuri bagian-bagiannya karena akan mendapatkan pidana dan denda sesuai dengan pasal 105 dan 106 di dalam undang-undang tersebut. Penjara ini sudah masuk dalam pengawasan dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Kalimantan Timur.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00