Penerapan PPKM Mikro Akibatkan UMKM Merugi Hingga 85 Persen

Kasus terkonfirmasi positif Covid 19 semakin meningkat di Kalimantan Timur, setiap harinya ribuan kasus bertambah membuat pemerintah terus meramu berbagai racikan regulasi untuk memutus pesebaran virus corona ini baik dengan PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar, peraturan yang diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19 agar bisa segera dilaksanakan di berbagai daerah pada tahun lalu kemudian pada tahun ini kembali menerapkan PPKM Darurat dengan pembatasan yang hampir sama.

Pembatasan demi pembatasan ini jelas memberikan dampak ekonomi bagi para pelaku usaha yang menuai rupiah setiap hari dari hasil berjualan, tak berjualan maka tak ada uang yang masuk .

suara-suara pilu dilontarkan oleh pelaku usaha merugi akibat penerapan PPKM ini di Samarinda.

Refi Zukarami salah satu pemilik usaha kopi di Samarinda mengatakan bahwa penerapan PPKM ini memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pendapatannya , namun untuk meningkatkan keuntungan pihaknya tetap berjualan secara online, kendati masih diperbolehkan berjualan namun system yang digunakan adalah bawa pulang atau take away jelas menurutnya tidak fresh bagi dagangannya. Dalam kesempatan itu Refi berharap pandemi tidak semakin tinggi lagi agar tidak ada karyawannya yang harus dirumahkan hingga diberhentikan.

Tidak hanya usaha kopi yang terdampak namun usaha di sector property atau perumahan di Kaltim juga menuai kerugian, seperti yang diakui oleh salah satu pemilik perumahan di Benua Etam ini Samsudin. Ia mengakui perjualan rumah tidak sama seperti pada waktu sebelum pandemi melanda Indonesia, namun dikarenakan ia memiliki usaha lain yakni percetakan maka inilah yang dapat menyelamatkan usahanya, selain itu Ia juga mengajak warga untuk melihat peluang usaha lain selama persebaran virus ini masih tinggi seperti yang Ia lakukan banting stir ke sector kuliner dengan harga terjangkau . //

pendengar, PPKM Mikro Darurat mengancam keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sepanjang 2020, saat pemerintah melakukan pengetatan mobilitas, setidaknya 30 juta unit UMKM berhenti beroperasi permanen maupun sementara.

Dan tahun ini kembali diberlakukan, Bawon Islamiah salah satu pengusah di Samarinda yang tergabung dalam Ikatan Pengusaha Muslim Indonesia Kota Samarinda ini juga mengeluhkan hal yang sama, bahkan selama pandemi ini kerugian telah mencapai 85 persen.

Menanggapi keluhan pelaku usaha di Kaltim ini, Kepala Disperindagkop Provinsi Kalimantan Timur HM. Yadi Robianur mengakui memang adanya pandemi ini sangat berdampak bagi pelaku UMKM sehingga Ia mengingatkan semua untuk tetap disiplin dalam menerapkan Protokol Kesehatan saat berjualan.

Selain itu, Roby juga tetap meyakinkan para pelaku UMKM bahwa Pemerintah Provinsi juga tetap mengusahakan bantuan bagi pelaku usaha baik dari APBN maupun APBD yang tahun ini nilainya meningkat dibandingkan tahun lalu senilai 249 Miliar sementara tahun ini 295 Miliar Rupiah yang akan diberikan kepada pelaku usaha di Kaltim.

Saudara, kesulitan untuk bertahan di masa PPKM mikro dan darurat banyak diungkapkan pelaku UMKM namun keputusan dilematis ini harus diambil oleh Pemerintah demi menyelamatkan nyawa Warga Negara Indonesia, kendati demikian pemerintah akan kembali menggelontorkan bantuan sosial kepada masyarakat menengah ke bawah selama kebijakan ini. Pandemi virus corona telah berlangsung hampir satu setengah tahun. Bukan mereda, virus corona malah bermutasi dan semakin banyak menginfeksi masyarakat. Oleh karena itu mari bersama kita memutus persebaran virus corona di Kalimantan Timur hingga Indonesia.

Tetap disiplin dalam menerapkan 6M dan lakukan vaksinasi demi keselamatan diri, keluarga dan orang terdekat lainnya, semoga pandemi segera berakhir .(etha).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00