Kisah Bidan Yolanda dari Pedalaman Kubar, Sempat Dibully, Akhirnya Ditangisi Warga Saat Dipindahkan

KBRN, Sendawar : Bidan Tangguh ! Itulah sekelumit perjalanan Yolanda Vivian. Bidan desa yang bertugas di Kampung Kelian Dalam Kecamatan Tering Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur. Ia harus Tangguh menapaki perjalanan dengan medan sulit namun juga harus tangguh menghadapi kritikan masyarakat terhadap dirinya.

Motor Matic Yang menjadi teman perjalanan Bidan Yolanda Vivian ke tempat tugas. (Foto by aku FB. Yolanda Vivian Mekky).

Sebuah motor buntut dengan ban semi trail yang sudah dimodifikasi seolah jadi teman setia Yolanda Vivian menerjang kerasanya perjalanan dari ibu kota kabupaten ke Kampung Kelian Dalam.

Maklum kondisi jalan sepanjang 40-an kilo meter dari Tering ibu kota kecamatan hingga kampung Kelian Dalam, 90 persen beralaskan tanah. Untuk sekali perjalanan dari kota Sendawar menuju Kelian Dalam memakan waktu sekitar dua jam. Jika hujan maka bisa lebih lama.

Jalan berlubang, becek, tanjakan dan turunan menukik hingga jembatan gantung adalah pemandangan biasa bagi Yolanda Vivian sejak pertama kali ia ditugaskan di Kampung Kelian Dalam tahun 2018 silam.

Jalan dan Jembatan Gantung menuju Kampung Kelian Dalam (Foto RRI 6/5/2021)

Uniknya ini adalah pengalaman pertama dirinya mengabdi sebagai tenaga kesehatan dan langsung ditugaskan di wilayah pedalaman.

“Jadi kami dua orang sama teman perawat yang sudah lebih dulu tugas disana. Dia itu sudah 13 tahun bertugas di Kelian Dalam. Tapi saya tinggal sendiri di Pustu, ngga sama perawat saya,” ujar Yolanda saat diwawancarai RRI di Sendawar, Senin (10/5/2021).

Perempuan 26 tahun itu mengaku awalnya ia sempat stres ditugaskan di lokasi yang cukup jauh dari keluarga. Pasalnya kondisi kampung di wilayah perbatasan kabupaten Kutai Barat dengan Mahakam Ulu itu belum ada listrik dan air bersih. Ditambah lagi tahun 2018 wilayah setempat belum ada jaringan telpon seluler.

Namun lambat laun ia akhirnya membiasakan diri dengan kondisi setempat. Warga Kelian Dalam juga makin akrab dan ramah terhadap dirinya.

“Dari dulu susah air terus akhirnya ada air, dari susah listrik sama sinyal akhirnya ada listrik ada sinyal itu saya lewati. Masyarakatnya ramah-ramah sebenarnya,” kata Yolanda.

Dia mengaku banyak hal dan pengalaman berharga selama 3 tahun bertugas di wilayah pedalaman. 

“Masyarakat yang mengenal saya itu semuanya ramah-ramah. Hanya beberapa saja yang memang tidak terlalu percaya dengan petugas kesehatan,” katanya.

Pengalaman sebagai tenaga Kesehatan (Nakes) muda di wilayah serba sulit tak membuat Yolanda patah semangat. Apalagi sejak akhir 2019 pemerintah kampung dan Kabupaten memfasilitasi penyambungan Listrik PLN hingga akhirnya jaringan telekomunikasi yang sebelumnya blank spot bisa terjangkau di wilayah Kelian Dalam. Meski belum merata setidaknya dua sarana penting itu sangat membantu masyarakat dan petugas kesehatan dalam bekerja dan berkomunikasi.

Ketersediaan listrik PLN dan signal telpon seluler ini membuat Yolanda tak merasa kesepian lagi. Ia makin fokus membantu masyarakat Kelian Dalam.

“Aku bersyukur karna sekarang lumayan betah di tempat kerja di kampung orang. Dulu suka numpang nonton di rumah tetangga. Sekarang bisa nonton dan ngehibur diri sendiri di pustu (emoji lucu). Wah bersyukur sekali. Terimakasih Tuhan atas pernyertaanmu padaku selam hidup ini,” tulisnya di status Face Book pribadi dengan nama akun Yolanda Vivian Mekky pada 10 Juli 2020.

Foto Yolanda Vivian (Dok istimewa)

Bahkan meski kerja di pedalaman perempuan jebolan D4 kebidanan Universitas Kediri dan D3 Kebidanan Respati Yogyakarta ini kembali aktif di sosial media.

Unggahannya tak melulu soal pekerjaan. Beberapa postingan menampilkan aktivitas keluarga maupun aktivitas pribadi. Bahkan bidan berparas cantik ini sempat-sempatnya mengunggah aksi kocaknya saat berjoget di akun tik-tok ala milenial.

Namun ada beberapa unggahan yang menggambarkan kerasnya perjuangan tenaga medis di pedalaman.

“Kalau masuk ke kampung tempat dinas di Kelian Dalam, bawaannya anjat (isi obat obatan, cairan infus, dll), terus kresek kuning isinya baju dinas (baju OK, baju APD), Tabung oxygen, ransel isi Laporan dll. Lain hari lain tanggal lain lain bawaannya ga pernah sedikit,” tulis Yolanda di akun sosial media Face Book pada 30 Maret 2021.

Dalam postingannya Yolanda mengunggah beberapa foto saat dirinya mengendarai sepeda motor dengan barang bawaan dalam anjat atau bakul tradisional dari Rotan.

Yolanda Vivia saat mengendarai motor dengan barang bawaan penuh sesak.

Di unggahan lainnya Yolanda lagi-lagi mengunggah foto saat dirinya berkendara dengan barang bawaan berupa peralatan medis serta obat-obatan.

Dia seolah tak ambil pusing dengan penampilannya. Sebab ia hanya menggunakan tanda pengenal perawat tanpa pakaian dinas resmi.

“Ku pakai ID card ku sekarang, biar kalau singgah pom bensin atau singgah beli sesuatu pas mau ke Kelian Dalam ga di tanyain "mau nores dimana bu?" dan jawabanku karna ga mau ribet jelasin selalu sama "nores ke Kelian Dalam bu / pak,” tulisnya.

Lain hari wanita kelahiran Kampung Melapeh Baru 1995 silam ini membuat warganet salut dengan perjuangannya membantu seorang ibu yang terpaksa melahirkan bukan di fasilitas kesehatan.

“Namanya di pedalaman, walaupun tidak diperbolehkan lahiran di rumah tapi kalau di pedalaman jauh dari fasilitas kesehatan ya disaat tak terduga, kadang saat bidan dipanggil ke rumah untuk cek pembukaan tau taunya anak sudah mau keluar, jadi tidak sempat dibawa ke pustu , karena pasiennya kontraksi hebat. Pasien ga kuat dibawa ke pustu. Jadi bantu aja lahirkan di rumah ibunya saja, demi keselamatan ibu dan anak. Harus siaga,” tulis sang pahlawan kesehatan pada 13 Februari di akun yang sama.

Yolanda saat membantu warga melahirkan di rumah pribadi.

Yolanda mengaku sempat mengajukan pindah tempat tugas ke kampung halamannya di Melapeh Baru kecamatan Linggang Bigung. Namun karena kontrak awal dia harus tugas minimal 5 tahun maka dinas Kesehatan tidak mengizinkan. Belakangan hari-hari yang ditunggu bidan Yolanda akhirnya tiba. Tepat tanggal 3 Mei 2021, ia menerima pemberitahuan dari dinas Kesehatan jika dirinya dipindah tugaskan ke Melampeh Baru.

Hal itu juga dikonfirmasi langsung kepala dinas Kesehatan kabupaten Kutai Barat dr.Ritawati Sinaga.

“Ya pak bidannya kita pindahkan,” ujar dr.Ritawati Sinaga saat dikonfirmasi RRI Senin (10/5/2021).

Meski tak menjelaskan alasan pemindahan dua tenaga kesehatan (Nakes) tersebut, namun kadis Kesehatan memastikan sudah ada penggantinya.

“Dan ada penggantinya,” sebut dr.Rita singkat.

Mengenai pemindahan ini bidan Yolanda mengaku bersyukur.

“Pas tanggal 3 itu keluar SK saya. Jadi waktu itu pas kami swab masal di Kelian Dalam. Saya kan kiranya nggak bakal dipindah karena masalahnya kan Kelian Dalam lagi banyak positif (covid-19). Jadi waktu itu saya juga kaget ibu kadis sama pimpinan Puskesmas saya ngomong langsung, bidan Yolanda sama perawat kami tarik,” ujarnya.

“Saya kan memang minta pindah, tapi waktu itu belum di-ACC. Kami kaget ada rasa juga senang. Saya memang berharap lebih dekat ke keluarga, kalau bisa saya di puskesmas Tering dan perawat saya mau ditarik ke induk langsung jadi kami merasa terbantu lah,” tandas dia.

Keputusan Dinkes menarik dua nakes dari Kelian Dalam sempat menimbulkan rumor di tengah masyarakat jika pemindahan bidan Yolanda dan perawat ada kaitannya dengan peristiwa tolak swab di Kelian Dalam. Namun hal itu dibantah Yolanda.

“Maaf mungkin warga kurang edukasi atau kurang informasi jadi mereka kurang menghargai upaya kami dalam mencegah penyebaran covid. Termasuk yang menolak swab itu. Padahal kami itu kurang dekat apa dengan masyarakat disana,” tukas Yolanda Vivian.

BACA JUGA : 2 Warga Kelian Dalam Yang Ikut Kubur Pasien Corona Dinyatakan Positif Covid-19

Akibat ketidak patuhan masyarakat ini, membuat kasus positif covid-19 di kampung berpenduduk 1200 jiwa itu melonjak hingga 38 kasus.

“Kami sudah tiga kali swab massal. Itu totalnya sekitar 100 kali swab. Kalau enggak salah itu 30-an orang yang positif. Itu kan termasuk angka yang tinggi,” sebutnya.

Di sisi lain ia mengaku alasan Dinkes memindahkan dirinya gegara hubungannya dengan sejumlah aparat desa dan badan permusayawaratan kampung (BPK) kurang harmonis. Itu juga terjadi lantaran kerap selisih pemahaman dalam penanganan virus corona.

“Saya tahu mereka tuh banyak yang sayang sama kami perawat dan bidannya, hanya saja beberapa oknum yang tidak mengindahkan anjuran dari dinas kesehatan untuk swab ataupun tidak mengikuti protokol kesehatan. Itu mungkin pak ya. Masalah ini baru karena covid ini, dulu tentram-tentram aja,” kata bidan Yolanda yang baru pertama kali bertugas di pedalam ini.

Meski begitu di hari terakhir ia sempat berpamitan dengan warga Kelian Dalam. Beberapa warga sampai menangis.

“Dengan ditariknya kami itu membuat mereka sedikit sadar ini loh ngapain kalian buli-buli petugas. Ngapain kalian tidak mengikuti anjuran. Bagaimana kalau petugasnya ditarik apakah kalian merasa sudah tidak butuh. Selama ini kan sikap mereka seolah-olah tidak butuh. Ternyata begitu saya pamit banyak yang nangis,” tutur bidan Yolanda mengisahkan akhir penugasannya di Kelian Dalam.

BACA JUGA : Warga Kelian Dalam Tolak Diswab Usai Kubur Pasien Corona, Polisi dan Tim Gugus Turun Tangan

Bahkan ada warga yang terang-terangan protes ke Dinkes atas pemindahan nakes secara mendadak.

“Kami warga Kelian Dalam memohon pada pihak Bupati dan Dinas Kesehatan bahwa Tenaga Medis kami dipindah tugaskan dengan cara yang mendadak tidak dengan persetujuan dan sepengetahuan kami sebagai warga Kelian Dalam. Seharusnya pihak terkait bertanya dengan kami Warga Kelian Dalam seperti apa kinerja perawat serta bidan kami,” tulis akun Ramlah Rafaza di jejaringan sosmed FB pada 5 Mei 2021.

“Jangan  karena laporan oknum yang tidak bertanggung jawab menjelekan tenaga medis kami. Seharusnya dinas kesehatan turun lapangan bertanya dengan kami warga Kelian Dalam. Jadi kami warga Kelian Dalam sangat memohon kepada Dinas Kesehatan yang terkait jangan menarik tenaga medis kami karena kami sangat memerlukan pelayanan dari mereka,” beber akun Ramlah Rafaza yang dikomentari puluhan warga lainnya.

Imran Rosadi - Kepala Kampung Kelian Dalam Kubar

Selain warga, rasa kehilangan juga diungkapkan kepala kampung Kelian Dalam Imran Rosadi.

“Kalau ada hubungan yang kurang baik itu hanya oknum saja. Kami selalu bekerja sama dan komunikasi baik dengan beliau. Bahkan saya selaku petinggi dan kawan-kawan lain ini bisa dikatakan kehilangan lah dengan pindahnya ibu Yolanda ini,” ungkap Imran Rosadi.

“Kalau saya survey dari ujung kampung sampai ujung kampung ini semuanya baik dengan beliau. Bahkan dukungan yang di akun face book itu betul,” katanya.

Dibalik dukungan itu, ternyata Bidan Yolanda Vivian dan perawat Kelian Dalam juga sempat dapat cercaan di sosial media. Alih-alih menghargai perjuangan nakes, oknum warga malah melakukan perundungan atau bully di sosmed.

Salah satunya diunggah seorang warga dengan nama akun Yosi Aza. Dia protes lantaran bidan Yolanda disebut kerap pulang kampung dan tidak ada di tempat waktu masyarakat berobat di Pustu Kampung Kelian Dalam.

“Jadi tolong bagi yang merasa bertugas dan dapat gaji dari situ kerja dengan benar dan melayani masyarakat dengan baik terkecuali sakit ya kami juga bisa memaklumi itu,” tulis Yozi Aza di group face book keluhan dan saran warga Kubar dan Kaltim Ibu Kota NKRI pada 12 Maret 2021.

Bidan Yolanda tak tinggal diam. Kala itu dia langsung mengklarifikasi tuduhan tersebut hingga sang pengunggah kritikan menghapus postingannya. Menurut Yolanda setiap senin sampai sabtu dia selalu ada di Pustu. Apalagi di saat bersamaan ia harus membantu 38 warga Kelian Dalam yang positif covid-19.

“Saya kan sudah izin waktu itu saya keluar meninggalkan Kelian Dalam itu hari libur waktu Isra Mi'raj Nabi Muhammad tanggal 11 atau 12 Maret. Itu kan hari libur bapaknya nyari saya tanggal segitu ya enggak ada saya di keluarga,” ujar bidan Yolanda mengklarfikasi lagi soal protes warga saat diwawancarai RRI Sendawar Senin (10/5/2021).

Usut punya usut warga yang melabrak bidan Yolanda di sosmed ternyata menyimpan perasaan tertentu dengan sang bides.

“Jadi orang yang mencemarkan nama baik saya itu, dia sebenarnya dulu sering godain saya cuma nggak pernah gubris. Mungkin marah atau gimana saya tidak mengerti kan saya juga tidak pernah bertemu orangnya langsung. Dia cuma chat lewat Facebook begitu, jadi saya konfirmasi lah,” bebernya.

Tidak hanya cercaan di sosial media. Sesorang dengan akun Yosi Aza itu disebut membuat ancamam serius.

“Bapak yang tadi memberitakan saya di FB itu dia juga ada ngancam,” lanjut Yolanda.

Baginya dinamika masyarakat adalah hal yang biasa dalam pelayanan publik. Maka penting seorang calon nakes mengikuti orientasi sebelum diterjunkan ke lapangan.

“Tidak mungkin kita dilepas langsung ke daerah tanpa kita bekali pendidikan dan cara mengatasi masyarakat yang baik dan benar,” tutup dara manis penakluk sungai babi Kelian Dalam ini.

Tonton Video: Kisah desa penghasil emas Kelian Dalam berjuang dari keterisolasian.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00