Berbakti Demi Negeri, Kisah Relawan Covid 19

KBRN, Samarinda : "Puanase pol," ujar Syarif (31) sambil sesekali mengelap peluh di dahinya.

Lelaki berperawakan tinggi kurus ini tak kuasa menahan haus. Ia lantas mengambil air mineral botol di mobil ambulance dan meminumya. Syarif terpaksa membatalkan puasa Siang itu.

Batal puasa adalah lumrah bagi relawan yang tergabung dalam Tim Evakuasi Satgas COVID-9 BPBD Kota Samarinda.

"Daripada kita dehidrasi. Jangan sampai niat kita menolong orang, malahan kita yang ditolong orang," timpal Nusa Indah (45).

Selama hampir satu bulan Ramadhan 1442 H, beberapa kali Ia terpaksa membatalkan puasa wajib. Tahun ini, kerja mereka sebagai petugas penjemputan jenazah Covid 19 cukup berat.

"Kalau Puasa tahun lalu, sedikit yang dikebumikan. Tahun ini banyak. Kemarin satu hari ada yang sampai 3 jenazah. Tengah hari terik, jadi teman-teman pada ngga kuat," ujar Nusa.

Nusa dan 9 relawan lainnya sudah satu tahun terakhir menjadi relawan Covid 19 yang bertugas mengevakuasi korban Covid baik yang sedang menjalani Isolasi Mandiri di rumah maupun yang telah dalam kondisi meninggal dunia di rumah sakit.

BACA JUGA KISAH: Ojol Inspiratif : Pahlawan dari Gang Thalib

Perjuangan berat meninggalkan keluarga dijalani dengan hati ikhlas.

"Awal-awal kasus Corona, kami semua ngga pulang ke rumah. Dua bulan," Nusa mengawali kisahnya.

"Kalau dibilang mau nangis ya iya. Ngga bisa peluk anak. Hanya bisa liat dari jauh. Mau nangis tapi malu sama tetangga". 

Kenangan satu tahun lalu masih membekas dibenak Nusa. Mengingat kembali perjuangannya di masa awal pandemi.

Namun, perasaan sedih dan berat meninggalkan keluarga tidak lantas membuat Nusa berhenti menjadi relawan.

"Padahal Kita tahu jadi relawan itu ngga ada uangnya. Kadang kita sendiri susah. Tapi saat menolong orang lain itu ada rasa puas di hati," terangnya.

Nusa sudah 20 tahun atau hampir separuh usia menjadi relawan tanpa gaji, tanpa penghasilan pasti.

"Pokoknya yang penting kita menolong dulu. Yang penting ada bensin untuk pergi ke TKP. Nanti pulang biasa ada aja rezeki ngga tahu dari mana - mana," katanya.

Nusa sendiri mengawali perjuangan sebagai Relawan Sungai Kapih Peduli  (SKP) yang merupakan lokasi dimana Ia dan keluarga tinggal.

"Dulu ikut memadamkan kebakaran lahan, hutan, rumah warga, sampai menolong korban banjir, korban kecelakaan, sampai sekarang direkrut di Tim Evakuasi nangani jenazah Covid".

Satu tahun bertugas di TPU Covid 19, banyak kejadian yang dialaminya.

"Kita pernah menguburkan jenazah saat hujan badai. Ambulance mogok, jadi Kita mindahin mayat ke ambulance lain hujan-hujan," cerita Nusa.

Belum lagi lokasi TPU yang cukup jauh dan kondisi lahan pemakaman penuh dengan tanah lumpur membuat Ia dan tim seringkali terjebak dalam kubangan tanah.

"Sering juga Kita menghadapi keluarga almarhum yang ingin menguburkan Jenazah sendiri. Harus banyak sabar menjelaskan ke keluarga korban," tambahnya.

Belum lagi selaku kepala rumah tangga, tentu ada anak dan istri yang harus Nusa nafkahi.

BACA JUGA: Kisah Pengasuh Taman Baca Tanpa Nama

Beruntung, Ia memiliki Rini Safitri. Sosok istri penyabar yang rela membagi raga sang suami demi menolong jiwa-jiwa yang lain.

"Sudah jiwanya. Biar jauh, kalau ada bencana atau ada yang minta tolong. Tetap pergi. Yang penting ada bensin. Pergi," kata Rini.

Tidak mudah bagi Rini mengikhlaskan suami bergelut dengan jenazah Covid 19. Tetapi keyakinan sang suami membuat Rini Tenang.

"Khawatir tetap khawatir. Tetapi ya Dia (Nusa) bilang namanya sudah panggilan hati," aku Rini.

Pilihan sang suami menjadi relawan diyakini sebagai ladang amal yang kelak jadi bekal keluarganya mengetuk pintu syurga.

"Kita sebagai keluarga mendukung aja. Apapun pilihan Bapak, yang penting dia sehat. Paling yang protes Faiz (anak kedua Nusa)," kata Rini sembari sesekali mengelap air dipelupuk mata Fariz (8).

Tangis anak bungsunya pecah saat kami menanyakan tentang tugas sang ayah. 

"Fariz maunya ayah dirumah aja ya nak?", tanyaku.

Fariz hanya mengangguk dengan berlinangan air mata.

"Kalau Ayah lagi dinas, katanya Faiz suka video call ayah ya? Ngomongnya ke ayah gimana? tanyaku lagi.

"Yah, kapan pulang? jawab Faiz singkat.

BACA JUGA: Asa di Usia Senja

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Samarinda Ifran turut mengakui Nusa adalah sosok relawan sejati.

"Waktu Samarinda banjir besar, Shubuh Saya telepon beliau. Pak Nusa bisa bantu ? Kita kekurangan orang. Seminggu full, Dia di lokasi ngga pulang. Padahal ngga dibayar. Disitu salutnya," kenang Ifran.

Menjadi relawan yang harus meninggalkan keluarga demi mengurus keluarga lain tentu tidak mudah. Lalu mengapa masih tetap memilih jalan hidup menjadi relawan?

"Saat Kita dengar orang bilang terima kasih. Lalu doa dari mereka yang dengan ikhlas mendoakan Kami sehat. Itu sudah bayaran yang luar biasa untuk Kami. Tidak ternilai, rasanya puas. Ngga bisa dibayar dengan apapun," sahut Nusa sembari tersenyum lebar.

Kisah petugas pemakaman jenazah Covid 19 di TPU Serayu Tanah Merah Hari ini membuat Kami belajar satu hal. 

Tidak ada yang berat, ketika kita sebagai hamba memasrahkan segala pada Sang Pencipta.

Para relawan ini bukan mengejar materi, melainkan mencari kepuasan batin demi melihat senyum Ibu Pertiwi.

Terima kasih Kami untuk seluruh Relawan Covid 19 di Indonesia !!

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00