Kisah Yahya Tonang, Anak Pedalaman Kutai Barat Yang Kini Jadi Ahli Mesin dan Pengacara Hebat

Kasus Narkoba Paling Banyak Dipaksakan

Kasus yang paling banyak dialami dengan delik compulsion adalah kejahatan Narkoba. Dalam beberapa kasus orang yang diproses hukum bukan pelaku sebenarnya tetapi orang yang saat kejadian berada sama-sama dengan pelaku, padahal dia tidak tahu apa-apa. Atau pemakai narkoba yang seharusnya direhabilitasi malah dijadikan pengedar atau bandar.

“Maka ada Pasal 132 itu siapa yang mengetahui itu wajib lapor, sementara dia sendiri sebenarnya tidak tahu aktivitas itu. Kadang kita temukan di lapangan siapa pun yang ada di dalam lingkungan itu semua adalah pelaku, ini gimana,” pungkas Tonang.

Yahya Tonang menyebut penerapan hukum yang salah ini adalah Pekerjaan Rumah bagi APH dan pakar-pakar hukum dalam negeri. Sebab jika dibiarkan maka harapan masyarakat menjadikan hukum sebagai panglima tertinggi dalam mencari keadilan akan sulit terwujud.

“Ini yang kadang menjadi PR besar bagi para penegak hukum khususnya advokat itu melakukan pembelaan pendampingan hukum sejak awal pemeriksaan,” sebut Tonang.

Soal Penyidik Paksa Buat Pengakuan Palsu

Yang lebih prihatin lagi lanjut dia ada oknum penyidik kerap memaksa seseorang mengakui kesalahan atau membuat pengakuan palsu meski tidak melakukan perbuatan pidana.

“Tetapi sebenarnya pengakuan palsu itu sendiri harus dibuktikan juga. Jadi PR penegak hukum bukan hanya begitu dengar pengakuan lantas inilah pelakunya begitu, tidak. Makanya saya katakan walaupun tidak ada yang sempurna di dunia ini, tapi sebenarnya praktek-praktek itu di payungi teori yang cukup sempurna hanya bagaimana aplikasinya,” tutur penasihat hukum muda ini.

Untuk itu seorang advokat kata dia harus membekali ilmu hukum dengan baik.

“Dalam mengaplikasikan hukum kalau kita sebagai pelaku hukum sendiri nggak ngerti hukum itu menjadi persoalan,” cetus Yahya Tonang Tongqin.

Meski begitu dalam membela kliennya Tonang selalu mengedenpankan asas kejujuran. Tujuannya agar advokat bisa mencari celah-celah hukum yang bisa digunakan saat persidangan di pengadilan.

“Makanya ada filosofi mengatakan berpikir dulu sebelum berbuat. Masyarakat awam yang tidak mengerti hukum dia harus bisa menyadari pada saat dia melakukan kesalahan dia harus terbuka, harus jujur kepada advokat yang membela. Karena kami ini bukan seorang peramal bukan seorang ahli psikologi bisa tahu isi otaknya si klien. Kalau dia udah bohong itu menjadi kesulitan bagi kami mendampingi memberikan pembelaan,” pesan pria kelahiran 1981 ini.

Selanjutnya : Yahya Tonang Bukan Pengacara Kaleng-Kaleng. Pernah Bebaskan 6 Terdakwa

Halaman 3 dari 4

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar