Kisah Yahya Tonang, Anak Pedalaman Kutai Barat Yang Kini Jadi Ahli Mesin dan Pengacara Hebat

KBRN, Sendawar : Nasib seseorang tak ada yang tahu. Begitu juga dengan Yahya Tonang Tongqing. Pria keturunan suku Dayak Kutai Barat (Kubar) Kalimantan Timur yang dulunya hidup di pedalaman kini malah jadi ahli mesin dan pengacara hebat.

“Manusia hidup itu sudah ditentukan garisnya. Kalau harus mati walaupun saya duduk hari ini bisa saja Tuhan Panggil. Tapi kalau memang Tuhan masih memberikan kesempatan saya untuk berkarya membantu orang -orang yang membutuhkan pertolongan, saya pikir walaupun bahaya di depan, bukan saya kebal tapi mungkin bahaya itu sendiri yang menghindar,” begitulah ungkapan inspiratif Tonang saat diwawancarai RRI di Kawasan Kota Sendawar, Kubar Minggu (25/4/2021) petang.

Yahya Tonang, SH

Si Anak Kampung Pedalaman: Dari Teknisi Mesin Sampai Jadi Pengacara Hebat

Pria kelahiran 1981 asal kampung Lambing Kecamatan Muara Lawa Kabupaten Kutai Barat ini adalah sosok multi talenta. Pasalnya selain jadi ahli mesin diesel, Tonang juga menjelma jadi pengacara hebat. Uniknya perjalanan Tonang jadi juragan mesin dan advokat handal dilalui dengan penuh perjuangan.

Sebab dia hanyalah anak pedalaman yang untuk mengenal dunia luar seolah hanyalah mimpi. Apalagi Tahun 1980-an kampung Lambing hanyalah sebuah dusun kecil tanpa hiruk pikuk moderenisasi dan teknologi modern seperti sekarang ini.

Namun nasib Yahya Tonang sedikit beruntung karena ayahnya adalah seorang guru dan harus berpindah-pindah tempat tugas yang membuat Yahya kecil belajar banyak hal.

“Terus terang memang kami berasal dari keluarga sederhana karena ayah saya hanya seorang guru SD dan ibu saya cuma ibu rumah tangga. Dulu ayah saya mengajak kami tinggal di kota di Tenggarong waktu itu saya masih umur 2 tahun dan itu kami pindah dari satu tempat ke tempat yang lain ngontrak, sangat susah tahun 80-an,” kenang Tonang mengisahkan perjalanan hidupnya.

Meskipun dalam kesulitan, Ayahanda Tonang rupanya tak mau hidup putra putrinya kelak tambah susah. Sehingga ia terus memotivasi Tonang dan empat anak lainnya agar tidak patah semangat.

“Walaupun lebih banyak makan ikan asin daripada makan yang segar, tapi ternyata perjuangan beliau sangat luar biasa. Dan itu juga yang menjadi motivasi saya bahwa saya harus bisa besar walaupun saya asal muasalnya memang dari perkampungan yang boleh dikatakan pada waktu itu ya terisolasi,” katanya.

Motivasi itu rupanya membuat anak ketiga dari lima bersaudara itu makin semangat. Tonang kecil akhirnya mengikuti keluarganya pindah ke Tanggarong dan mulai sekolah di SD 003 Tenggarong yang kala itu masih jadi kabupaten Kutai. Dia lulus SD Tahun 1994 dan melanjutkan Pendidikan SMP Negeri 1 Tenggarong dan lulus tahun 1997.

Bakat dan Keahlian Tonang di Dunia Otomotif

Yahya Tonang saat Dalam Ruang Simulator Mesin

Bakat Tonang di dunia otomotif mulai terasah saat dia masuk Sekolah Teknologi Menengah (STM) Negeri Samarinda yang kini jadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di tahun 2000. Setelah lulus dia langsung bekerja di  sebuah workshop yang menangani mesin-mesin diesel.

“Disitu saya bekerja kemudian saya lihat setiap masalah yang ditangani bengkel lain tidak selesai, kemudian saya perbaiki ternyata berhasil,” ujarnya.

Dia kemudian terus belajar otomotif hingga mampu memodifikasi mesin mobil. Bahkan kendaraan model baru yang sudah menggunakan sistem elektronik bisa dimodifikasi tanpa peralatan canggih.

“Itu kalau system elektroniknya rusak bisa saya modif secara manual dan berhasil jalan normal,” katanya.

Penemuan Tonang ini juga diakui beberapa rekan pengacara dan masyarakat umum.

“Mereka bilang kamu ini pengacara kok bisa perbaiki mobil,” beber dia dengan gelak tawa.

Mesin Kapal Mati, Diselamatkan Tonang

Bahkan dalam satu peristiwa maut, Tonang berhasil menyelamatkan kapal yang hampir tenggelam akibat mati mesin. Alhasil mesin kapal kembali hidup dan menyelamatkan nyawa penumpang.

“Artinya Pekerjaan saya sebagai seorang teknisi itu juga menyelesaikan sebuah masalah. Nah kemudian saya di advokat menyelesaikan masalah manusia. Itulah yang saya lihat dua sisi ini sebenarnya sama-sama menarik. Sampai sekarang masih di tekuni dan kalau tidak ada sidang saya di bawah kolong mobil,” pungkasnya.

Selanjutnya : Pertama Kali Terjun di Dunia Advokasi Hukum

Halaman 1 dari 4

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00