Berinteraksi Dengan Penyandang Disabilitas

KBRN, Samarinda: Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling istimewa memiliki hak yang sama, tanpa memandang perbedaan apapun, termasuk penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas juga berhak memperoleh keadilan, perlindungan hukum, hidup mandiri atau dilibatkan dalam kegiatan bermasyarakat, dan memperoleh aksebilitas.

Dikutip dari berbagai sumber dan dari Dialog Suara Disabilitas RRI Samarinda, sebagai sesama makhluk sosial, sudah seharusnya kita saling memahami dengan saudara-saudara kita yang menyandang disabilitas. Konteks saling memahami di sini adalah kita lah yang harus belajar etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas.

Apa Itu Disabilitas?

Disabilitas adalah keterbatasan diri yang bersifat fisik, kognitif, sensorik, emosional, perkembangan, atau kombinasi dari beberapa sifat tersebut.

Secara luas, disabilitas dibedakan menjadi dua jenis, yakni disabilitas fisik dan disabilitas mental.

Adapun disabilitas fisik meliputi tunanetra (tidak bisa melihat / buta), tuna rungu (tidak bisa mendengar / tuli), tuna wicara (tidak bisa berbicara / bisu), tuna daksa (cacat tubuh), dan tunalaras (cacar suara dan nada).

Selain disabilitas fisik, ada juga disabilitas mental yang terdiri dari tunalaras (kesulitan mengendalikan emosi dan sosial), tunagrahita (cacat pikiran atau lemah daya tangkap), dan tunaganda yang bisa merupakan kombinasi dari disabilitas fisik dan mental alias menderita lebih dari satu kecacatan).

Jika dulu penyandang disabilitas lebih sering dikasihani dengan dibuatkan acara penggalangan dana (charity) dan sebagainya, kini banyak penyandang disabilitas yang justru menolak untuk dikasihani. Sebagaimana yang kita tahu, mereka juga berhak memperoleh segala sesuatunya sama dengan orang-orang lain yang tidak memiliki kecacatan fisik maupun mental.

Pemerintah juga memperhatikan hak-hak penyandang disabilitas. Hal tersebut bisa kita lihat dari banyak aksesibilitas yang memudahkan para difabel untuk lebih mudah beraktivitas di fasilitas umum yang juga menjadi hak mereka. Tak sedikit pula kantor pemerintahan yang mempekerjakan penyandang disabilitas dan mengangkatnya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Sebagai masyarakat awam, bagaimana cara kita memperlakukan penyandang disabilitas agar mereka tidak tersinggung dan merasa ‘sama’ dengan diri kita? Berikut adalah beberapa cara yang bisa kamu lakukan.

1. Bertanya Sebelum Memberikan Bantuan

Reaksi pertama sebagian orang kita menjumpai kaum difabel adalah berusaha menolong, terutama ketika mereka sedang kesusahan melakukan sesuatu. Percayalah bahwa tidak semua saudara-saudara kita yang mengalami disabilitas suka dikasihani.

Agar tidak menyinggung perasaan mereka, sebaiknya tanyakan dulu sebelum memberikan bantuan. Pasalnya, bisa saja bantuan yang kita berikan justru semakin mempersulit mereka.

2. Jaga Ucapan dan Tindakan

Sama seperti kita memperlakukan orang lain, terutama yang baru saja dikenal, kita juga harus memperlakukan penyandang disabilitas dengan santun. Jagalah ucapan dan tindakan kita agar tidak melukai perasaannya.

Memang tidak semua orang-orang difabel memiliki perasaan yang sensitif. Akan tetapi, jika ingin memulai pergaulan dengan mereka, jagalah ucapan dan tindakan. Lebih baik menunjukkan sikap yang ramah dibanding gesture atau sikap yang justru menunjukkan rasa kasihanmu.

3. Mengajak untuk Terlibat dalam Kegiatan Sehari-hari

Bersosialisasi dengan penyandang disabilitas tidak susah, lho. Dewasa ini, kaum difabel justru tidak ingin diperlakukan berbeda. Nah, agar kita bisa dengan mudah bergaul dengan mereka, libatkan mereka dalam kegiatan sehari-hari.

Cara melibatkan penyandang disabilitas dalam kehidupan sehari-hari bisa dengan cara mempekerjakan mereka sesuai bidang dan kemampuan atau justru melibatkan mereka dalam kegiatan sosial. Dengan begitu, mereka akan merasa lebih dihargai dan dibutuhkan oleh orang lain.

4. Sadari Hak Penyandang Disabilitas

Penyandang disabilitas memang memiliki keterbatasan beraktivitas karena kekurangan fisik maupun mentalnya. Namun, ingatlah akan satu hal bahwa mereka juga mendapatkan hak yang sama dengan diri kita sendiri.

Hargai penyandang disabilitas dengan cara menyadari hak mereka. Untuk beberapa hal, penyandang disabilitas memang memperoleh hak yang lebih khusus. Seperti ketersediaan aksesibilitas di fasilitas umum, contohnya lift di jembatan penyeberangan. Kesadaran kita akan hak disabilitas bisa ditunjukkan dengan cara memberikan tempat terlebih dahulu bagi mereka untuk mengakses aksesibilitas yang memang menjadi haknya.

Itulah beberapa poin yang bisa anda lakukan kepada saudara-saudara kita yang menyandang disabilitas. Perlu diingat bahwa tidak semua penyandang disabilitas bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Oleh karena itu, pelajari etika berinteraksi dengan penyandang disabilitas sesuai dengan jenis disabilitas mereka masing-masing-masing.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar