Wanita Suku Dayak Dengan Telinga Panjang

KBRN, Samarinda : Standar kecantikan bukan saja diukur dari wajah yang cerah, kulit yang mulus, tubuh yang langsing, hidung mancung sampai pipi yang tirus. Tetapi Suku Dayak di Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur memiliki standar kecantikannya sendiri yaitu bertelinga panjang.

Telingaan Aruu adalah tradisi memanjangkan telinga oleh orang-orang dari Suku Dayak. Tradisi memanjangkan telinga di kalangan Suku Dayak ini telah lama dilakukan secara turun temurun. Pemanjangan daun telinga ini biasanya menggunakan pemberat berupa logam berbentuk lingkaran gelang dari tembaga yang bahasa kenyah di sebut "Belaong" . Dengan pemberat ini daun telinga akan terus memanjang hingga beberapa sentimeter

Dilansir dari Wikipedia, Tradisi Telingaan Aruu dimulai saat seseorang masih bayi. Awalnya proses penindikan telinga si bayi, setelah luka bekas tindikan mengering, kemudian di pasang benang yang nantinya diganti dengan kayu, sehingga lubang telinga kian lama semakin membesar. Prosesi penindikan telinga ini dikenal dengan sebutan ''Mucuk Penikng''. Anting akan ditambahkan satu persatu ke dalam telinga yang lama kelamaan akan mebuat lubang semakin membesar dan memanjang.

Telinga panjang bagi suku yang berada di Kalimantan ini sebagai lambang bahwa mereka adalah keturunan bangsawan. Strata sosial mereka akan semakin terangkat seiring banyaknya dan panjangnya telinga mereka. Telinga panjang ini juga menandakan buah kesabaran, dan ketahanan akan penderitaan rasa sakit bagi kaum hawa Suku Dayak.

Ada beberapa jenis anting-anting yang dikenal dalam tradisi Telingaan Aruu. Pertama ''Hisang Kavaat'' yaitu anting-anting yang dipasang di lubang daun telinga dan ujung lingkarannya berselisih. Kedua ''Hisang Semhaa'' , anting-anting yang dipasang di sekeliling lubang daun telinga. Selain itu adanya aturan dalam Telingaan Aru yaitu, bagi kaum laki-laki tidak boleh memanjangkan telinganya sampai melebihi bahunya, sedang kaum perempuan boleh memanjangkannya hingga sebatas dada.

Meski jumlahnya banyak, hisang yang bertengger di telinga tak mengganggu aktivitas mereka sehari-hari. Mereka seolah tak merasa keberatan dengan puluhan hisang di telinganya. Bunyi hisang yang bertabrakan selalu menemani langkah kaki para wanita Suku Dayak.

Dengan perkembangan zaman, Wanita Suku Dayak yang bertelingga panjang sekitar tak lebih dari 100. Beberapa orang lanjut usia saja yang masih mau mempertahankan tradisi budaya ini.  Dari waktu ke waktu, kini nyaris tak ada yang ingin memanjangkan cuping telinga. Melestarikan budaya seperti para leluhur mereka.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar