Gendongan Anak Suku Dayak Kenyah

Sumber Foto : Istimewa

KBRN, Samarinda : Desa Budaya Pampang terletak di pinggir Kota Samarinda tepatnya 23 kilometer dari Pusat Kota. Di Bulan ini Desa Pampang mengadakan Festival Budaya Dayak Kenyah 2022, sekaligus syukuran pasca panen dan HUT Desa Pampang ke 49 Tahun. Acara sudah dibuka sejak Kamis kemarin, (23/06/2022) oleh Walikota Samarinda Dr. H. Andi Harun, S.T., S.H., M.Si, dan  masih akan berlangsung sampai Minggu (26/06/2022).

Dalam kegiatan Festival Dayak Kenyah kali ini  ditampilkan berbagai tradisi dan kesenian khas suku Dayak Kenyah. Dari pantauan RRI ada hal menarik yang jarang kita liat, yaitu  tradisi menggendong anak yang dilakukan ibu-ibu suku Dayak dengan menggunakan  bening aban.

Bening Aban atau gendongan bayi dari Suku Dayak Kenyah adalah alat tradisional untuk menggendong anak yang memiliki simbol dan beragam manik-manik, yang dibuat oleh perempuan Suku Dayak.

Dilansir dari wikipedia, Bening digunakan sebagai gendongan bayi suku Dayak pada saat anak umur 6 bulan hingga 1,5 tahun. Cara menggunakan bening seperti menggunakan tas ransel, bening berada di punggung sang ibu dengan dua tali pengait ke lengan, posisi anak yang digendong di punggung akan menghadap kedepan, sehingga seluruh bagian tubuh anak seolah menyatu dengan punggung.

Gendongan bayi ini digunakan untuk memudahkan ibu saat beraktifitas sehingga anak tetap terjaga. Dengan gendongan ini ibu dapat leluasa menjalankan kegiatannya mengurus rumah, memasak, berladang hingga bepergian. Namun tak hanya untuk menggendong bayi, fungsi bening lainnya adalah untuk meninabobokkan bayi. Caranya dengan meletakkan satu kaki ibu dalam posisi ke depan sedangkan posisi kaki lainnya ke belakang, kemudian si ibu menggerak-gerakkan badannya ke depan dan ke belakang ataupun dengan bergerak maju dan mundur, sehingga anak terbuai dalam ayunan ibunya hingga bisa lekas tertidur.

Bentuk dan ukiran (paren) bening dayak ini dibedakan berdasar tingkat sosial masyarakatnya, ada dua jenis ukiran (paren) yaitu ukiran masyarakat biasa dihias manik-manik berbentuk anjing tanpa ada hiasan gigi harimau dan gigi macan, sedangkan ukiran (paren) untuk keturunan bangsawan dihias dengan manik-manik bentuk wajah manusia atau harimau dan tentunya ada tambahan hiasan gigi macan dan gigi harimau, atau beruang.

Motif yang biasanya ditemukan pada bening adalah hiasan berupa pohon kehidupan yang memiliki makna pengharapan pada sang anak agar dapat hidup sehat serta panjang umur. Motif hiasan uang logam dan taring harimau melambangkan pengharapan agar kelak sang anak menjadi orang yang bijaksana dan luhur budi, sedangkan motif dedaunan mengandung harapan agar sang anak memiliki sifat rendah hati.

Gendongan bayi juga kerap digunakan oleh suku-suku Dayak di antaranya adalah suku Dayak Apo Kayan (Kenyah, Kayan, Bahau), Dayak Kadazan (Dusun Kajang), Dayak Berawan, Dayak Punan, Dayak Penan, dan Dayak Kerayan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar