Mengenal Kearifan Lokal Kehidupan Warga Liu Mulang Di Perbatasan

Di hulu sungai Mahakam, Kabupaten Mahakam Ulu  kampung Liu Mulang Kecamatan Long Pahangai Kalimantan Timur, masyarakat adat Liu Mulang hidup dengan kearifan lokal yang dijaga secara turun temurun. Tradisi hidup selaras dengan alam dilestarikan lewat aturan adat yang dilakoni dan dihayati.

Dilansir dari m.kbr.id, Menurut Kepala Kampung Liu Mulang, Hendrikus Helaq. Liu Mulang merupakan komunitas adat subsuku Dayak Bahau Busang Uma Lakwe.  Mereka terkenal dengan tradisi hidupnya yang selaras dengan alam. luas lahan 6 ribu hektare hutan adat atau tanah ’peraa’ dikelola hati-hati agar tetap lestari

“Tanah ‘peraa’ itu istilah bahasa adat di sini tanah yang kita sayangi. Yang tidak boleh diganggu gugat tanah itu bahkan oleh masyarakat sendiri. Tanah itu dia berupa hutan, tanam tumbuh hutannya,” kata Hendrikus.

selain menjaga ekosistem hutannya mereka juga membatasi untuk menebang pohon dan melarang masyarakat lokal maupun non lokal untuk mengambil ikan dengan cara menyetrum atau meracuni

“Siapa yang bawa setrum, setrumnya kita sita alat-alatnya. Sudah ada perjanjian itu. Jadi mereka sadar tidak pernah berani masuk tanpa izin. Pernah orang datang izin mau datang ke sini, cari ikan. Tapi jangan diperjualbelikan saya bilang, jangan bawa setrum, atau macam racun itu,” imbuhnya. Tiap pelanggar harus membeli gong sebagaimana diatur dalam kitab adat.

Wilayah adat tanah peraa menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup warga Liu Mulang. , Rencana menyulap kampung Liu Mulang menjadi obyek wisata alam sudah lama dibahas. Namun, butuh banyak persiapan terutama membangun infrastruktur dan akses jalan, kata Kepala Badan Pemusyawaratan Liu Mulang, Yosep Liling.

“Potensi alam seperti arung jeram di atasnya sana nanti mungkin ada yang namanya mancing. Di samping itu bisa juga wisata berburu kalau ada wisatawan yang hobi trekking juga bisa. Seperti berburu babi, berburu rusa,” kata Yosep

Selain hutan adat, warga Liu Mulang juga punya Sungai Danum Usaan. Anak sungai Mahakam ini dijaga lewat tradisi turun temurun.

“Tahun kemarin ada satu perusahaan HPH (hak pengusahaan hutan) mau masuk. Saya larang perusahaan itu masuk ke wilayah pinggiran sungai. Karena saya anggap sungai itu sangat penting bagi masyarakat. Ketika sudah digarap perusahaan mungkin sungai itu bisa keruh, mempengaruhi habitat-habitat yang ada, termasuk ikan,” ujarnya.

Menjaga kearifan lokal masyarakat kampung liu mulang menjadi teladan hidup selaras dengan alam, dengan menjaga  ekosistem yang sudah di wariskan antar generasi

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar