Sejarah Panjang "Batik" sebagai Tenun Keragaman

KBRN, Samarinda: Batik adalah salah satu bentuk kriya busana atau fesyen yang memang sangat khas Indonesia. Sebagai salah satu produk kebudayaan yang mudah dikenal dan mudah dipakai, batik seperti menjadi pembawa pesan bahwa peran Indonesia dalam perdamaian dunia seperti halnya batik bagi pemakainya. Dia memberi warna tetapi sekaligus bisa lentur dan sesuai dalam berbagai suasana. Seperti motto diplomasi Indonesia, bebas aktif.

Sebagai salah satu produk kebudayaan yang mudah dikenal dan mudah dipakai, batik memberi warna tetapi sekaligus bisa lentur dan sesuai dalam berbagai suasana.

Saat batik dipilih menjadi baju penanda atau "dresscode" dalam Sidang Dewan Keamanan PBB yang berlangsung pada 2019 di New York, Amerika Serikat, harus diakui itu adalah ide yang cerdas.

Batik bukan hanya menjadi tanda penghormatan bagi Indonesia yang menjadi presiden Dewan Keamanan PBB pada Mei, tetapi di sisi lain secara tidak langsung menjadi simbol diplomasi Indonesia.

Perdagangan Lintas Samudera

Seperti dilansir dari indonesia.go.id, Batik berkembang di Indonesia mewakili sejarah panjang yang rentangnya ditarik sejak bangsa-bangsa Austronesia dari kawasan Cina Selatan mampu merambah kepulauan Melayu hingga Pasifik. Jejak peradaban berciri kapak persegi menandai munculnya leluhur yang mempunyai kemampuan olah kayu, keramik, hingga sulam atau tenun.

Pola-pola garis-garis bersudut dengan bentuk-bentuk mozaik banyak didapati di dalam artefak-artefak yang ditengarai berasal dari jaman peradaban Dong-son atau Nekara-Perunggu. Para ahli memperkirakan umurnya sekitar 2000 tahun yang lalu.

Teknologi tenun sendiri, diperkirakan para ahli, sudah dikenal di Nusantara sejak dua ratus tahun sebelum masehi. Michael Hitchcok, peneliti dari Hull University, memperkirakan masa itu sezaman dengan berkuasanya dinasi Han di Cina. Patung-patung perunggunya mempunyai kesamaan dengan yang ditemukan di wilayah timur Indonesia. Artefak itu memperlihatkan sosok orang yang sedang menenun. Baik patung dari dinasti Han maupun dari Flores memperlihatkan sosok penenun yang menggunakan alat tenun ikat. Orang Jawa mengenalnya sebagai Gedogan.

Sejarah perkembangan alat-alat tenun Asia Tenggara selanjutnya terpatri di dalam relief-relief candi Borobudur. Gambar perempuan menarik bilah bambu yang merupakan bagian dari alat tenun ikat terlihat dalam relief-relief yang diperkirakan dibuat pada abad 9 Masehi. 

Catatan ahli sejarah Cina Yi Jing adalah salah satu yang mencatat perjalanan para biksu Buddha yang belajar di Sriwijaya pada masa-masa itu. Bagian dari catatan tentang negeri besar yang ada di Pulau Sumatra itu telah mengenal teknologi tenun katun. Bahkan raja yang berada di ujung utara Pulau Sumatra tercatat telah mengenakan kain sutera. Yang jelas, perkembangan teknologi penelitian genomic leluhur orang-orang Asia Tenggara, telah mengkonfirmasi bahwa jalur perdagangan laut di Samudera Hindia memang telah sangat berdiaspora setidaknya sejak 2000 tahun lalu.

Catatan dokumen-dokumen yang mengatur wilayah Sima (perdikan) pada kurun waktu abad ke-10 hingga ke-15 Masehi memperlihatkan jejak perkembangan produk teknologi tenun selanjutnya. Jan Wisseman Christie, juga dari Hull University, mencermati adanya berbagai macam kain sebagai persembahan dalam upacara untuk menghormati pejabat-pejabat tinggi istana.

Kesaksian Ma Huan (abad 15), pencatat dari armada Cheng Ho, dan Tome Pires (abad 16), apoteker dari Portugis, adalah petunjuk selanjutnya tentang keberadaan produk-produk tenun di Indonesia. Entah didatangkan dari India atau Cina, kain-kain itu telah menjadi busana yang dipakai sehari-hari.

Pemukiman-pemukiman pedagang kosmopolitan di sepanjang pesisir utara Jawa memperlihatkan keelokan penghuninya. Mereka berpenampilan menarik dan rupawan sebagai akibat dari perkawinan campur antarbangsa. Dari kawasan ini akan hadir kelas penguasa baru bersamaan dengan perkembangan Islam.

Praktis sejak kedatangan Portugis dan keberhasilan mereka menduduki Malaka, catatan-catatan tentang produk tenun, kain katun, sutera, maupun yang kemudian dikenal sebagai batik sudah mulai masuk dalam perbendaharaan dunia. Belandalah yang mencatat kata 'batick' pertama kali pada 1641. Catatan pengiriman dari Batavia ke ke Sumatra memperlihatkan paket pakaian dengan nama itu. Belanda pula lah yang kemudian mengembangkan perdagangan tekstil dan merintis industri batik di berbagai wilayah yang hingga saat ini menjadi 'kluster' batik.

Kluster Batik Nusantara

Kilas balik sejarah batik Nusantara, dari zaman prasejarah, zaman pertengahan, hingga awal masa modern memperlihatkan jejak panjang batik sebagai warisan budaya dunia. Sebagai produk budaya yang lekat dalam dirinya peleburan dari berbagai bangsa, batik memang sudah pantas hadir dalam pergaulan budaya internasional.

Hingga zaman modern ini, batik di Indonesia secara umum bisa ditemui di berbagai daerah. Mantan ibu negara, Ani Yudhoyono, dalam bukunya My Batik Stories (2010) mengelompokkan batik-batik yang berkembang di Indonesia menjadi beberapa kelompok. Yang pertama adalah Batik Priangan, yang meliputi Garut dan Tasikmalaya. Yang kedua adalah Batik Pesisiran, wilayahnya membentang dari Betawi, Indramayu, Cirebon, Pekalongan, Lasem, Tuban, dan Madura. Sedangkan yang ketiga adalah Batik Pedalaman. Wilayahnya meliputi Banyumas, Bagelen-Kedu, Yogyakarta, Surakarta, Sragen, dan Pacitan.

Terbaginya batik-batik Indonesia di berbagai kluster di atas mempunyai latar sejarah yang kompleks dan beragam. Batik Pesisir misalnya. Nuansa, Cina, India, Persia, hingga Portugis, dan Belanda semuanya mempunyai berbagai ekspresinya. Beberapa perkembangan dalam sejarah juga menentukan berbagai gaya dan selera. Sementara itu, batik-batik pedalaman dalam banyak hal mewarisi tradisi yang lebih tua tetapi dalam ekspresi yang sangat modern.

Beberapa riwayat konflik dan perang dalam sejarah masa lalu juga menjadi pembeda mengapa beberapa variasi batik yang sangat populer tidak bisa ditemukan atau tidak digemari di wilayah yang lain.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar