Astaga! Garim Dalam Ruang ICU Dipaksa Serahkan Aset, Adik: Kamu Ini Mati, Cepat Bikin Catatan Gedung-Gedung Kamu Dimana

Gedung Istana walet milik almarhum Garim di kecamatan Siluq Ngrurai yang diperebutkan keluarnya. Foto dok RRI Sendawar

KBRN, Sendawar : Sungguh ironi nasib almarhum Garim, warga kecamatan Siluq Ngurai kabupaten Kutai Barat Provinsi Kaltim.

Di saat sedang dalam ruang Intensive Care Unit (ICU) rumah sakit, yang seharusnya butuh doa dan dukungan keluarga, malah dipaksa segera menyerahkan harta warisannya.

Permintaan paksa itu dilakukan oleh tiga saudara kandungnya. Yakni Eliazer Chang, Kuang Ling dan Pelemiah.

Pemilik 17 gedung sarang walet itu diminta segera menyerahkan harta warisan kepada adik-adiknya.

Bahkan semasa hidupnya Garim sering didatangi oleh tiga saudara kandungnya itu untuk meminta warisan atau hibah. Namun Garim tidak setuju dan menolak membagi warisannya tersebut. Lantaran dia masih memiliki istri dan anak sah.

Kisah ini diungkapkan istri Garim, Novita Sari dan Derahim anak tunggalnya saat diperiksa sebagai saksi dalam kasus pemalsuan surat hibah dengan tersangka 3 adik Garim.

Perstiwa tidak mengenakan itu terjadi pada bulan Mei 2019 di Rumah Sakit Haji Darjad, Kota Samarinda.

Saat itu Garim sedang dirawat dalam Ruang ICU karena menderita penyakit komplikasi.

Anak Garim yaitu Derahim bersama Eliazer Chang, Kuang Ling dan Pelemiah menunggu di luar ruangan untuk membesuk Garim.

Saat giliran Eliazer Chang masuk kedalam ruangan tersebut, Derahim mendengar perbincangan antara Eliazer Chang dan Garim dengan nada yang keras dan terdengar sampai keluar ruangan.

Eliazer Chang mengatakan ”kamu ini mati, tidak hidup, cepat kamu bikin catatan gedung-gedung kamu dimana,” ucap Derahim dalam keterangan yang ditulis ulang Jaksa Penuntut Umum melalui surat dakwaan sebagaimana dilansir RRI dari situs Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Kutai Barat, Jumat (24/6/2022.

Setelah itu Chang keluar dari ruang perawatan tersebut. Suster lalu memanggil Derahim masuk kedalam ruang ICU, tempat ayahnya dirawat. Di dalam ruangan tersebut Garim menyampaikan apa yang baru saja terjadi sambil berlinang air mata.

“Kalau orang lain yang datang besuk saya, orang itu pasti berharap dan berdoa saya lekas sembuh, tetapi om mu Chang berharap saya cepat mati. Dan Eliazer Chang suruh saya cepat-cepat bikin hibah,” ungkap almarhum Garim kepada Derahim sebagaimana ditulis ulang JPU dalam dakwaannya.

Setelah selesai perawatan, Garim dan istrinya Novita Sari serta anaknya Derahim pulang ke Kutai Barat.

Mereka istirahat di rumah Derahim di Camp Baru RT.03 Kampung Muara Tae Kecamatan Jempang.

Garim mengaku bahwa dia sangat tertekan dengan desakan adik-adiknya untuk membuat surat hibah tersebut.

Karena Garim tak kunjung menyerahkan aset-asetnya, tiga saudara kandungnya nekat membuat konsep surat sendiri dan ditandatangani sejumlah saksi hingga kepala kampung Gunung Bayan yang kala itu belum resmi dilantik sebagai Kades.

Tepatnya tanggal 28 Juli 2019, surat tersebut sudah jadi, namun belum ditandatangani Garim.

Eliazer Chang lalu menemui Novita Sari dan Garim di rumah mereka di kecamatan Melak dengan tujuan untuk meminta tandatangan. Namun lagi-lagi ditolak Garim.

Sebulan kemudian pada November 2019, ketiga adiknya datang lagi untuk meminta tandatangan Garim namun tetap ditolak, hingga keluar pernyataan Garim;

”Mengapa mereka selalu meminta surat hibah padahal saya masih hidup?

Istrinya Novita Sari yang selalu mendampingi suaminya mengaku tidak pernah melihat, mendengar dan menyaksikan Garim membuat dan menandatangani surat hibah tertanggal 28 Juli 2019 tersebut.

Hingga akhirnya Garim meninggal dunia tanggal 13 Maret 2022.

Baca Juga :

Kades Gunung Bayan dan 3 Tersangka Pemalsuan Surat Hibah Garim Jalani Persidangan di PN Kubar

Ketiga adik Garim pun melayangkan somasi kepada istri dan anak almarhum Garim dan meminta untuk mengosongkan rumah yang mereka tinggali.

Pada 22 Mei 2022, ketiga adiknya melalui kuasa hukum kala itu Bambang Edi Dharma mensomasi Novita Sari dan Derahim untuk menyerahkan semua aset alm Garim, berbekal surat hibah yang diduga palsu tesebut.

Dimana dalam surat hibah tertanggal 28 Juli 2019 yang seolah-olah dibuat oleh Garim tersebut isinya almarhum telah menghibahkan Gedung Wallet sebanyak 17 unit.

Termasuk rumah tempat tinggal. Yaitu Rumah di Gunung Bayan, Rumah Istana Wallet di Belusuh dan Rumah di Gang Telisay (Melak).

Garim juga menghibahkan semua tanah kosong sebanyak 5 bidang di Kampung Gunung Bayan/Manau Kecamatan Muara Pahu.

Selain itu saudara-daudaranya juga meminta tiga unit mobil si raja walet berupa satu unit Mobil Fortuner dan dua Mobil Hilux.

Lalu dalam surat hibah tersebut diketahui dan ditandatangani serta distempel Pejabat Kampung Gunung Bayan yaitu Pilus selaku Petinggi atau kepala desa.

Padahal Pilus belum resmi menjabat kades Gunung Bayan karena baru dilantik tanggal 25 Oktober 2019 serta serah terima Jabatan baru dilakukan tanggal 1 November 2019.

Sementara Petinggi Kampung Gunung Bayan pada bulan Juni sampai Agustus 2019 dijabat Plt. Aspar.S.Pd, selaku Sekcam Muara Pahu. Karena sebelumnya Petinggi Kampung Gunung Bayan dijabat oleh Garim (Alm).

Anehnya lagi para saksi dalam surat hibah palsu itu juga sudah meninggal.

Yaitu Yulius Jaket selaku Kepala Adat Kampung Gunung Bayan (meninggal dunia pada tanggal 11 Maret 2020, serta Silvester Pendoq (meninggal dunia berdasarkan Surat Keterangan Kematian/Meninggal Dunia Nomor 140/545/KM-KJ/XI/2021 tanggal 26 November 2021.

“Dan Silvester Pendoq pada tanggal 23 Juni 2020 telah membuat surat pernyataan pencabutan tandatangan pada surat hibah tanggal 28 Juli 2019, dengan alasan tidak sedang berhadapan dengan pemberi hibah, dan Silvester Pendoq merasa tertipu terkait surat hibah tersebut karena Terdakwa Pilus belum menjabat sebagai Petinggi Kampung Gunung Bayan,” urai JPU dalam dakwaannya.

Baca Juga :

Kades Gunung Bayan Juga Jadi Tersangka dalam Kasus Pemalsuan Surat Hibah Almarhum Garim

Kades Gunung Bayan dan Tiga Tersangka Pemalsuan Surat Ditahan Polda Kaltim

Novita Sari istri Garim kaget saat diberitahu ipar-iparnnya jika mereka sudah memiliki surat hibah aset dari alm Garim tanggal  28 Juli 2019.

Padahal Novita Sari dan Derahim tidak mengetahui dan tidak pernah melihat Garim menandatangani surat hibah tersebut.

Kasus itu berujung proses hukum di Pengadilan Negeri Kubar karena salah satu saudara kandung Garim yaitu Jamnah menggugat di PN Kubar, tanggal 28 Agustus 2020.

Dia meminta jatah warisan karena dalam surat hibah itu tidak ada namanya.

Baca Juga :

Tandatangan Almarhum Garim Dalam Hibah Aset Non Identik, Pengacara : Penetapan Tersangka Sudah Tepat

Pengacara Tersangka Bantah Buat Surat Hibah Palsu Dari Almarhum Garim

Saat proses gugat perdata belum selesai, Derahim dan Novita Sari ikut sebagai pengugat intervensi.

Mereka menunjukan bukti kuat jika surat hibah yang dipegang Eliazer Chang, Kuang Ling dan Pelemiah diduga palsu.

Derahim lalu membuat laporan ke Polda Kaltim. Surat hibah belakangan diketahui palsu berdasarkan hasil Pemeriksaan Laboratorik Kriminalistik Lab.4837/DTF/2021 tanggal 6 Juli 2021.

Dimana tim penguji menyimpulkan tandatangan Garim Non Identik atau tanda tangan yang berbeda dengan tanda tangan pembanding atas nama Garim.

Hingga akhirnya ketiga saudara alm Garim serta kades Gunung Bayan, Pilus ditetapkan jadi tersangka.

Baca Juga :

Yahya Tonang Dukung Polda Kaltim Atas Penetapan 4 Tersangka Pemalsuan Surat Hibah dan Penyitaan Aset di Kubar

PN Balikpapan Tolak Praperadilan yang Diajukan Tersangka Pemalsuan Surat Almarhum Garim

Kasus itu dilimpahkan ke PN Kutai Barat tanggal 13 Mei 2022 karena objek perkara ada di Kutai Barat.

Keempat terdakwa kini sudah menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Kutai Barat sejak 30 Mei lalu.

Adapun dalam perkara ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Kubar membuat berkas penuntutan secara terpisah.

Yakni terdakwa Pilus dan tiga adik kandung almarhum Garim dibuat dakwaan berbeda meski dalam kasus yang sama.

Sebab Pilus jadi terdakwa lantaran ikut mengesahkan surat hibah aset, saat dirinya belum dilantik jadi kepala kampung Gunung Bayan.

Sementara tiga saudara alm Garim (Eliazer Chang, Kuang Ling dan Pelemiah) adalah pihak pembuat surat dengan tanda tangan yang diduga palsu.

Sidang kasus pemalsuan surat pemilik Istana Walet di Siluq Ngraui itu sudah memasuki tahap putusan sela tanggal 15 Juni 2022. Dimana hakim PN Kubar menolak keberatan dari penasihat hukum para terdakwa.

“Menyatakan keberatan dari Penasihat Hukum Terdakwa Pilus anak dari Daud Alm, tersebut tidak dapat diterima. Memerintahkan Penuntut Umum untuk melanjutkan pemeriksaan perkara Nomor 74/Pid.B/2022/PN Sdw atas nama terdakwa Pilus anak dari Daud Alm. tersebut di atas; Menangguhkan biaya perkara sampai dengan putusan akhir,” demikian amar putusan sela sebagaimana dilansir RRI dari situs Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Kutai Barat, Jumat (24/6/2022.

Baca Juga :

Di-Praperadilan Tersangka Pemalsuan, Ini Tanggapan Polda Kaltim

Tak Ingin Masalah Harta Terus Berpolemik, Keluarga Besar Almarhum Garim Gelar 'Ruratn' Adat

JPU dalam surat dakwaan menyatakan penguasaan aset sepihak oleh adik-adik Garim membuat Derahim serta Novita Sari tidak mendapatkan hak warisan Garim.

Karena pembuatan dan penandatanganan surat hibah tersebut tidak melibatkan langsung Derahim selaku Anak dan Novita Sari selaku Istri sah Garim.

Pemakaian surat palsu itu dinilai merugikan Novita Sari selaku istri sah dan Derahim anak Garim.

Jaksa menyatakan Bahwa Penggunaan surat hibah tertanggal 28 Juli 2019 tidak sesuai aturan syarat formil dan materil terkait hibah sebagaimana Pasal 1683 Jo Pasal 1682 KUH Perdata dan tidak sah karena syarat sahnya perjanjian telah tercedrai dengan dilanggarnya hak legitime porte Pasal 913 KUHPerdata.

Kemudian Perbuatan Terdakwa Pilus yang ikut mendatangani surat hibah tersebut dan digunakan oleh saksi Eliazer Chang, saksi Kuang Ling dan saksi Pelemiah, mengakibatkan saksi Novita Sari selaku istri Garim (Alm) dan saksi Derahim mengalami kerugian sebesar Rp 2 Miliar.

Karena tidak dapat mengelola, merawat dan memanfaatkan atau memanen aset-aset milik Garim selama kurang lebih 2 tahun.

Ke empat Terdakwa diancam pidana berdasarkan ketentuan Pasal 263 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHP.

Adapun sidang lanjutan kasus pemalsuan ini akan digelar 29 Juni mendatang.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar