Kades Gunung Bayan dan 3 Tersangka Pemalsuan Surat Hibah Garim Jalani Persidangan di PN Kubar

Gedung Istana Walet di kampung Belush kecamatan Siluq Ngurai kabupaten Kutai Barat jadi salah satu aset alm Garim. Foto Dok RRI Sendawar.

KBRN, Sendawar : Empat tersangka kasus pemalsuan surat hibah aset almarhum Garim akhirnya menyandang status terdakwa.

Yakni kepala kampung Gunung Bayan kecamatan Muara Pahu Kabupaten Kutai Barat, Pilus dan tiga saudara kandung alm Garim. Yaitu Eliazer Chang, Kuang Ling dan Pelemiah.

Keempat terdakwa kini sudah menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Kutai Barat sejak 30 Mei lalu.

Adapun dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Kubar melakukan penuntutan terpisah.

Yakni terdakwa Pilus dan tiga adik kandung almarhum Garim dibuat dakwaan berbeda meski dalam kasus yang sama.

Sebab Pilus jadi terdakwa lantaran ikut mengesahkan surat hibah aset, saat dirinya belum dilantik jadi kepala kampung Gunung Bayan.

Sementara tiga saudara alm Garim (Eliazer Chang, Kuang Ling dan Pelemiah) adalah pihak pembuat surat dengan tanda tangan yang diduga palsu.

Sidang kasus pemalsuan surat pemilik Istana Walet itu sudah memasuki tahap putusan sela tanggal 15 Juni 2022, untuk terdakwa Pilus maupun Eliazer Chang, Kuang Ling dan Pelemiah. Dimana hakim PN Kubar menolak keberatan dari penasihat hukum para terdakwa.

“Menyatakan keberatan dari Penasihat Hukum Terdakwa Pilus anak dari Daud Alm, tersebut tidak dapat diterima. Memerintahkan Penuntut Umum untuk melanjutkan pemeriksaan perkara Nomor 74/Pid.B/2022/PN Sdw atas nama terdakwa Pilus anak dari Daud Alm. tersebut di atas; Menangguhkan biaya perkara sampai dengan putusan akhir,” demikian amar putusan sela sebagaimana dilansir RRI dari situs Sistem Informasi Penelusuran Perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Kutai Barat, Jumat (24/6/2022.

Baca Juga :

Kades Gunung Bayan Juga Jadi Tersangka dalam Kasus Pemalsuan Surat Hibah Almarhum Garim

Kades Gunung Bayan dan Tiga Tersangka Pemalsuan Surat Ditahan Polda Kaltim

Kronologi Pemalsuan Surat

Perbuatan para terdakwa ini diuraikan JPU dalam surat dakwaan sebagaimana telah diunggah di situs SIPP PN Kubar.

JPU menjelaskan, Garim meninggal dunia pada 13 Maret 2020 di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.

Semasa hidupnya Garim sering didatangi oleh Eliazer Chang, Kuang Ling dan Pelemiah untuk meminta waris atau hibah namun Garim tidak setuju dan menolak membagi warisannya kepada 3 saudara kandung tersebut.

Kemudian pada Mei 2019 di Ruang ICU RS. Haji Darjad Samarinda saat Garim (Alm) dirawat, anak Garim yaitu Derahim termasuk Eliazer Chang, Kuang Ling dan saksi Pelemiah menunggu di luar ruangan untuk membesuk Garim.

Saat giliran Eliazer Chang masuk kedalam ruangan tersebut, Derahim mendengar perbincangan Eliazer Chang dan Garim dengan nada yang keras dan terdengar sampai keluar ruangan.

Dimana Eliazer Chang mengatakan ”kamu ini mati, tidak hidup, cepat kamu bikin catatan gedung-gedung kamu dimana”.

Setelah itu adiknya Chang keluar dari ruang perawatan tersebut, suster memanggil Derahim. Di dalam ruangan tersebut Garim  menyampaikan sambil berlinang air mata.

“Kalau orang lain yang datang besuk saya, orang itu pasti berharap dan berdoa saya lekas sembuh, tetapi om mu Chang berharap saya cepat mati. Dan Eliazer Chang suruh saya cepat-cepat bikin hibah,” ucap almarhum Garim sebagaimana ditulis ulang JPU dalam dakwaannya.

Setelah selesai perawatan, Garim dan istrinya Novita Sari serta anaknya Derahim pulang ke Kutai Barat.

Mereka istirahat di rumah Derahim di Camp Baru RT.03 Kampung Muara Tae Kecamatan Jempang.

Garim mengaku bahwa dia sangat tertekan dengan desakan adik-adiknya untuk membuat surat hibah.

Baca Juga :

PN Balikpapan Tolak Praperadilan yang Diajukan Tersangka Pemalsuan Surat Almarhum Garim

Selanjutnya pada bulan Oktober 2019 surat hibah tersebut dibuat dan dikonsep Eliazer Chang, Kuang Ling dan Pelemiah.

Eliazer Chang lalu menemui Novita Sari dan Garim di rumah mereka di Melak dengan tujuan untuk meminta tandatangan. Namun ditolak Garim.

Sebulan kemudian, ketiga adiknya datang lagi untuk meminta tandatangan Garim namun tetap ditolak, hingga keluar pernyataan Garim;

”Mengapa mereka selalu meminta surat hibah padahal saya masih hidup”,.

Istrinya Novita Sari yang selalu mendampingi suaminya mengaku tidak pernah melihat, mendengar dan menyaksikan Garim membuat dan menandatangani surat hibah tertanggal 28 Juli 2019 tersebut.

Baca Juga:

Yahya Tonang Dukung Polda Kaltim Atas Penetapan 4 Tersangka Pemalsuan Surat Hibah dan Penyitaan Aset di Kubar

Perebutan harta warisan itu kian menjadi-jadi setelah Garim meninggal dunia 13 Maret 2022.

Pada 22 Mei 2022, ketiga adiknya melalui kuasa hukum kala itu Bambang Edi Dharma  mensomasi Novita Sari dan Derahim untuk menyerahkan semua aset alm Garim berbekal surat hibah yang diduga palsu tesebut.

Dimana dalam surat hibah tertanggal 28 Juli 2019 yang seolah-olah dibuat oleh Garim tersebut isinya telah menghibahkan Gedung Wallet sebanyak 17 unit.

Termasuk rumah tempat tinggal. Yaitu Rumah di Gunung Bayan, Rumah Istana Wallet di Belusuh dan Rumah di Gang Telisay (Melak).

Garim juga menghibahkan semua tanah kosong sebanyak 5 bidang di Kampung Gunung Bayan/Manau Kecamatan Muara Pahu.

Selain itu saudara-daudaranya juga meminta tiga unit mobil si raja walet berupa satu unit Mobil Fortuner dan dua Mobil Hilux.

JPU juga membeberkan bahwa didalam surat hibah itu disebutkan Garim  menghibahkan semua hartanya yang tertera dalam surat hibah kepada pihak kedua yaitu kepada saksi Eliazer Chang, saksi Kuang Ling dan saksi Pelemiah.

Saudara-saudaranya meminta harta yang ada tidak boleh dijual belikan.

Lalu dalam surat hibah tersebut diketahui dan ditandatangani serta distempel Pejabat Kampung Gunung Bayan yaitu Terdakwa Pilus selaku Petinggi atau kepala desa.

“Padahal Terdakwa Pilus belum menjabat berdasarkan Keputusan Bupati Kutai Barat Nomor 141/K.917a/2019 tanggal 2 September 2019 tentang Pemberhentian Pejabat Petinggi/Petinggi dan Pengangkatan Pejabat Petinggi atau Petinggi Dalam Wilayah Kabupaten Kutai Barat,” papar JPU yang dipimpin M.Israq.

Pilus ternyata baru dilantik tanggal 25 Oktober 2019 dan serah terima Jabatan baru dilakukan tanggal 1 November 2019.

Sementara Petinggi Kampung Gunung Bayan pada bulan Juni sampai Agustus 2019 dijabat Plt. Aspar.S.Pd, selaku Sekcam Muara Pahu. Karena sebelumnya Petinggi Kampung Gunung Bayan dijabat oleh Garim (Alm).

Anehnya lagi para saksi dalam surat hibah palsu itu juga sudah meninggal.

Yaitu Yulius Jaket selaku Kepala Adat Kampung Gunung Bayan (meninggal dunia pada tanggal 11 Maret 2020, serta Silvester Pendoq (meninggal dunia berdasarkan Surat Keterangan Kematian/Meninggal Dunia Nomor 140/545/KM-KJ/XI/2021 tanggal 26 November 2021.

“Dan Silvester Pendoq pada tanggal 23 Juni 2020 telah membuat surat pernyataan pencabutan tandatangan pada surat hibah tanggal 28 Juli 2019, dengan alasan tidak sedang berhadapan dengan pemberi hibah, dan Silvester Pendoq merasa tertipu terkait surat hibah tersebut karena Terdakwa Pilus belum menjabat sebagai Petinggi Kampung Gunung Bayan,” urai JPU dalam dakwaannya.

Baca Juga:

Tandatangan Almarhum Garim Dalam Hibah Aset Non Identik, Pengacara : Penetapan Tersangka Sudah Tepat

Pengacara Tersangka Bantah Buat Surat Hibah Palsu Dari Almarhum Garim

Novita Sari istri Garim kaget saat diberitahu ipar-iparnnya jika mereka sudah memiliki surat hibah aset dari alm Garim tanggal  28 Juli 2019.

Padahal Novita Sari dan Derahim tidak mengetahui dan tidak pernah melihat Garim menandatangani surat hibah tersebut.

Kasus itu berujung di kepolisian hingga menetapkan Pilus dan 3 saudara Garim sebagai tersangka.

Baca Juga :

Di-Praperadilan Tersangka Pemalsuan, Ini Tanggapan Polda Kaltim

Tandatangan Almarhum Garim Dalam Hibah Aset Non Identik, Pengacara : Penetapan Tersangka Sudah Tepat

Surat hibah belakangan diketahui palsu berdasarkan hasil Pemeriksaan Laboratorik Kriminalistik Lab.4837/DTF/2021 tanggal 6 Juli 2021. Dimana tim penguji menyimpulkan tandatangan Garim Non Identik atau merupakan tanda tangan yang berbeda dengan tanda tangan pembanding atas nama Garim.

Baca Juga:

Sebelum Ditahan Polisi Dalam Kasus Pemalsuan, Kades Gunung Bayan Tantang Derahim Sumpah Adat

JPU berpandangan bahwa harta warisan Garim sebagaimana dalam surat hibah tertanggal 28 Juli 2019 dikuasai sepenuhnya oleh saksi Eliazer Chang, saksi Kuang Ling dan saksi Pelemiah, membuat Derahim serta saksi Novita Sari tidak mendapatkan aset dari warisan Garim.

Karena “pembuatan dan penandatanganan Surat Hibah tersebut tidak melibatkan langsung saksi Derahim selaku Anak dan saksi Novita Sari selaku Istri sah Garim,” terang JPU.

Pemakaian surat palsu itu dinilai merugikan Novita Sari selaku istri sah dan Derahim anak Garim.

Jaksa menyatakan Bahwa Penggunaan surat hibah tertanggal 28 Juli 2019 tidak sesuai aturan syarat formil dan materil terkait hibah sebagaimana Pasal 1683 Jo Pasal 1682 KUH Perdata dan tidak sah karena syarat sahnya perjanjian telah tercedrai dengan dilanggarnya hak legitime porte Pasal 913 KUHPerdata.

Baca Juga:

Tak Ingin Masalah Harta Terus Berpolemik, Keluarga Besar Almarhum Garim Gelar 'Ruratn' Adat

Perbuatan Terdakwa Pilus yang ikut mendatangani surat hibah tersebut dan digunakan oleh saksi Eliazer Chang, saksi Kuang Ling dan saksi Pelemiah, mengakibatkan saksi Novita Sari selaku istri Garim (Alm) dan saksi Derahim mengalami kerugian sebesar Rp 2 Miliar.

Karena tidak dapat mengelola, merawat dan memanfaatkan atau memanen asset-asset milik Garim selama kurang lebih 2 tahun.

Terdakwa diancam pidana berdasarkan ketentuan Pasal 263 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke -1 KUHP.

Adapun sidang lanjutan kasus pemalsuan ini akan digelar Rabu 29 Juni mendatang.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar