Tawarkan Kuliah Sambil Kerja, UT Banjir Mahasiswa

KBRN, Sendawar : Universitas Terbuka (UT) masih jadi pilihan sebagian mahasiwa di Indonesia untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sejak berdiri tahun 1984 UT setidaknya sudah  meluluskan 1,3 juta orang. Bahkan di era persaingan dunia pendidkan yang makin ketat seperti sekarang ini, UT tetap menempatkan diri sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang jadi rujukan calon mahasiswa.

Apalagi UT diberi tugas dari pemerintah, yaitu harus bisa melayani perkuliahan bagi masyarakat Indonesia baik di perkotaan maupun daerah pelosok. Tugas itu juga dijawab dengan dibuka Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) di seluruh Kabupaten/Kota.

“Salah satu tugas paling berat UT adalah harus bisa menjangkau di wilayah yang tidak terjangkau oleh perguruan tinggi negeri lain. UT juga diberi tugas untuk meningkatkan kompetensi tenaga pendidik yang tidak bisa kuliah di universitas konvensional karena tidak bisa meninggalkan tugasnya.  Kemudian UT harus bisa memfasilitasi mereka yang sudah bekerja tapi tidak bisa kuliah reguler,” jelas Direktur UT Samarinda Drs.Rusna Ristasa Augusta, M.Pd kepada RRI Sabtu (6/4/2019) di Sendawar.

Tawaran kuliah sambil kerja rupanya jadi daya tarik tersendiri. Apalagi sistem perkuliahan di UT memang tidak sering tatap muka seperti perguruan tinggi lain, tapi bisa seminggu sekali bahkan mahasiswa bisa kuliah online dengan bantuan internet.

”UT menawarkan berbagai model pembelajaran, baik dengan tatap muka maupun secara online. Untuk beberapa program studi seperti guru harus ada tutorial tatap mukanya. Kita di Kaltim dibantu oleh dosen-dosen dari Universitas Mulawarman Samarinda, ada juga dari SMA yang penting sudah S2, karena seorang tutor harus ijazah minimal S2,” ujarnya.

Meski demikian tidak semua mahasiswa dengan mudah mengikuti kuliah di UT. Khususnya mahasiswa yang memilih kuliah online atau mandiri dan tinggal di daerah pelosok yang sulit dijangkau layanan internet kabel maupun nirkabel.

“Untuk wilayah Kaltim tidak semua dijangkau layanan internet. Bahkan untuk wilayah perbatasan Mahakam Ulu itu terkendala dalam hal komunikasi terutama mahasiswa S2. Terpaksa ada mahasiswa yang dalam satu mata kuliah itu tetap ada pertemuan tatap muka ada juga online. Tapi yang S1 bisa belajar mandiri, online tanpa tutor,” katanya.

Rusna Ristasa tak meragukan kulitas mahasiswa  lulusan UT dan diyakini bisa bersaing dengan mahasiswa dari univesitas lain. Apalagi UT dibebankan ikut menaikan angka partisipasi kasar (APK) yang saat ini baru di kisaran 32,2.

“Selama 34 tahun berdiri kita sudah meluluskan 1.332.000 sarjana dan pasca sarjana baik keguruan maupun nonkeguruan. Untuk Samarinda sekitar 75.000 lulusan UT. Jadi kami hadir di daerah memfasilitasi mereka lulusan SMA yang tidak bisa dijangkau universitas lain. Itu juga tugas UT dalam rangka meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) di Indonesia. Karena APK kita jika dibandingkan dengan negara lain masih jauh, kita baru 32,5 bandingkan dengan Korea Selatan yang sudah 95. Nah UT di Indonesia itu perguruan tinggi yang paling banyak mahasiswanya otomatis kita punya tanggung jawab menaikan APK,” tutup Rusna.

Pengelolah UT Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat Jahariah menambahkan dalam beberapa tahun terkahir sudah sekitar 700 orang yang lulus UT.

“UT sangat membantu mahasiswa di daerah, kita juga buka semua jurusan. Ada sudah antara 700 orang yang lulus UT, banyak juga diterima jadi CPNS,” katanya.  (AT)

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00