Daur Ulang Masker Bekas Jadi Bahan Bangunan

masker bekas. Source Liputan6.dok

KBRN, Samarinda: Setiap orang disarankan mengganti masker setiap beberapa jam. Bisa dipastikan satu orang menggunakan 2-4 masker atau bahkan lebih setiap hari. Masker-masker yang sudah tak terpakai itu jadi sampah yang terbuang percuma dan bisa mencemari lingkungan. 

Dilansir CNN, sebuah label Evoware dari perusahaan Evo&Co berinisiatif untuk menggalakkan 'Kesan' atau Kresek Kesadaran. Dengan menggandeng Parongpong RAW Lab, sebuah perusahaan pengelolaan limbah di Bandung, masyarakat diajak untuk mengumpulkan sampah masker sekali pakai yang kemudian akan diolah menjadi material yang lebih bernilai ekonomis.

"Melalui program ini, semua orang bisa menjadi konsumen yang bertanggung jawab. Sampah masker dikumpulkan sendiri dan dikirim ke kami lewat titik pengumpulan di Jakarta, Bandung dan Bali," terang Amanda Restu dari Evo&Co.

Masker sekali pakai nantinya akan diolah menggunakan metode hydrothermal. Mesin akan memberikan tekanan, panas (sampai 300 derajat Celcius) sehingga hasil olahan menjadi padatan dan cairan. Cairan akan digunakan untuk 'memasak' limbah secara berulang, sedangkan padatan seperti serat-serat mirip gumpalan benang, plastik juga kawat akan diolah kembali.

Parongpong RAW Lab. sendiri bekerja sama dengan Conture Concrete Lab., studio desain produk berbasis material beton.

Febryan Tricahyo dari Conture Concrete Lab. mengkonfirmasi bahwa material hasil olahan masker bekas akan dijadikan bahan baku bangunan khususnya tiles atau ubin. Namun harus diakui, perlu banyak sekali masker bekas untuk mewujudkannya.

"Dari 1 kg masker bisa untuk 5 buah tiles. Ada proses penyusutan jadi 10 kg masker bisa susut jadi 3 kg saja. Tentu kebutuhan untuk tiles banyak," kata Febryan.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar