Drone, Teknologi Pertanian Karya Anak Bangsa

KBRN, Samarinda: Teknologi pertanian Indonesia terus berkembang salah satunya dengan penggunaan teknologi agar pekerjaan petani bisa lebih mudah dilakukan dan penggunaan waktu menjadi lebih jauh efisien.

Seperti dilansir dari pertanianku.com, salah satu bentuk teknologi yang sudah berhasil dikembangkan oleh Indonesia adalah drone pertanian. Pesawat tanpa awak ini sengaja dirancang agar bisa membantu pekerjaan petani.

Berikut ini beberapa drone pertanian yang sudah berhasil dirancang dan dirilis ke publik.

Drone penebar benih

Drone ini dirilis oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) untuk menebarkan benih tanaman. Drone ini dikembangkan oleh unit kerja Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan). Pesawat tanpa awak ini mampu mengangkat benih seberat 15 kg dengan kecepatan tanam sekitar 2—3 km/jam di ketinggian 1,5—2 m dari permukaan tanah.

Penggunaannya cukup mudah, operator hanya perlu memasukkan data-data penting ke remote control, lalu masukkan benih yang akan ditebar sebanyak 80 persen dari kapasitas total.

Drone penebar pupuk granul

Teknologi ini masih berasal dari Balitbangtan. Drone penebar pupuk granul merupakan drone penyemprot pestisida yang dimodifikasi agar bisa digunakan untuk menebarkan pupuk granul.

Kemampuan mesin drone penebar pupuk sama seperti drone penebar benih. Hal ini karena pada dasarnya kedua jenis drone ini memiliki mesin yang sama, hanya ada beberapa modifikasi tambahan yang menjadi pembeda dari drone penebar benih.

Drone penebar pupuk yang berbentuk granul dianggap lebih efisien. Petani hanya perlu mengontrol drone melalui remote control sehingga penebaran pupuk tidak memerlukan tenaga kerja yang cukup banyak

Drone sprayer penyiram pestisida

Drone ini bisa digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT). Penggunaan drone ini dianggap lebih efisien dibandingkan dengan cara manual menggunakan tenaga manusia. Drone bisa membawa pestisida sebanyak 20 liter dengan kecepatan semprot sebesar 3 km/jam dari ketinggian 1,5—2 m dari permukaan tanah. Drone bisa dioperasikan hanya dengan dua operator. Operator pertama bertugas mengendalikan laju dan arah, sedangkan operator kedua menghidupkan drone. Penggunaan drone ini lebih baik dilakukan pada pagi hari pukul 09:00 saat kecepatan angin sedang rendah.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00