Prestasi Cricket Kaltim Meningkat di PON Papua

KBRN, Samarinda: Kurang dari sepekan ini, perhelatan akbar Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua telah resmi ditutup. Ajang multi event empat tahunan tersebut telah selesai terlaksana dengan mempertandingkan sebanyak 37 cabang olahraga (Cabor).

Cabor Cricket yang lebih awal selesai sebelum ditutupnya PON Papua juga masih merasakan eforia bertanding dengan pengalaman yang tak terlupakan karena ajang tersebut bergulir di ujung paling timur bagian negara Republik Indonesia.

Kontingen PON Cricket Kalimantan Timur (Kaltim) kali ini hanya mampu meraih 1 medali perak pada kategori twenties setelah kalah dari tim Bali, dan meraih 1 medali perunggu pada kategori super 8's.

Meski demikian, Sekretaris Umum Pengprov Persatuan Cricket Indonesia (PCI) Kaltim, Budhi Iriawan menerangkan bahwa hasil ini sudah lebih dari cukup karena prestasi atletnya meningkat jika dibandingkan dengan PON di Jabar 2016 lalu.

"Dari segi prestasi tentu ini meningkat karena kita di Jabar itu hanya mendapatkan medali perunggu untuk nomor tanding twenties ini, super eight kita tidak dapat apa-apa. Nah jadi dua nomor ini dapat medali dan meningkat," ucap Budhi Iriawan saat ditemui diruangannya Kantor KONI Kaltim, Rabu (20/10/2021).

Dengan capaian atletnya yang dikatakan Budhi cukup gemilang, hasil ini menurutnya perlu dipertahankan untuk menatap ajang berikutnya. Bahkan jika bisa ditingkatkan menjadi medali emas pada PON 2024 mendatang di Aceh dan Sumut.

"Mudah-mudahan hasil ini bisa kita pertahankan, bahkan kalau perlu ditingkatkan," harap Budhi.

Sementara itu pelatih kepala Cricket Kaltim, Bernardus Elly menjelaskan selama bertanding di Papua anak asuhnya mengalami kendala pada waktu pertandingan yang mepet. Sehingga untum waktu istirahat atletnya ini dikatakan belum cukup.

Apalagi pada saat berlaga di partai final, atletnya mengalami kekalahan dari tim Bali yang mempunyai waktu jeda istirahat 1 hari.

"Di twenties kami ada sedikit kendala karena tidak ada istirahat, dibandingkan Bali yang ada istirahatnya satu hari. Tetapi itu juga bukan suatu alasan, kita tetap siap," terang Bernard.

Lebih lanjut Bernard juga menjelaskan masalah utama yang dihadapi atletnya ini ialah jam tanding yang kurang. Sehingga dampak dari kurangnya bertanding membuat mental tim Cricket Benua Etam menurun saat berhadapan dengan lawan.

Hal ini ia pastikan setelah melihat secara langsung atletnya bertanding dalam perebutan medali emas maupun perunggu itu sendiri.

"Kalau dilihat dari atlet mungkin kita mental ya. Karena mungkin kita kurangnya jam terbang. Jadi kita hanya latihan dan latihan saja. Juga tidak ada uji coba atau simulasi. Jadi ini agak susah dan itu kelihatan waktu di PON," jelasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00