Tiga Stadion Megah di Indonesia Terbengkalai Usai PON, Salah Satunya Ada di Samarinda Kalimantan Timur

KBRN, Samarinda: Pekan Olahraga Nasional (PON) merupakan pesta olahraga nasional terbesar di Indonesia yang diselenggarakan empat tahun sekali dan diikuti oleh seluruh provinsi di Tanah Air. Penyelenggaraan PON berada di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Adapun, Pekan Olahraga Nasional ke-1 dilaksanakan pada tahun 1948 di Kota Solo.

Dalam perhelatan ajang bergengsi ini infrastruktur olahraga menjadi yang utama tersedia yaitu berupa Stadion. Namun setelah hingar-bingar pesta olahraga 4 tahunan itu berlalu, sejumlah stadion yang menjadi venue PON ini kemudian terbengkalai dan tidak terawat.

Mahalnya perawatan membuat beberapa venue PON kemudian berubah menjadi terbengkalai. Dikutip dari berbagai sumber, ada 3 stadion di Indonesia yang nasibnya terlantar dan tak terurus usai PON.

1. Stadion Palaran Samarinda

Terakhir, ada Stadion Palaran. Saat awal dibangun, Stadion Palaran yang terletak di Kalimantan Timur bakal digunakan untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2008. Stadion berkapasitas 60 ribu itu kemudian rampung dibangun pada 2006 dengan nilai Rp3 triliun.

Saat PON ke-17, stadion ini kemudian digunakan untuk pembukaan dan penutupan. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun hadir dalam acara itu.

Usai PON, stadion ini kemudian digunakan untuk Klub Putra Samarinda menjalani Liga Super Indonesia pada 2014. Kemudian, di stadion ini juga digelar laga Timnas U-19 dengan Persisam Putra U-19.

Kini, kemegahan stadion yang dinyakini bertaraf internasional itu hanya tinggal kenangan. Fasilitas yang semestinya bisa dimanfaatkan, kini hanya tersisa beberapa bagian stadion kini tak terawat.

Sesekali masyarakat lokal menggunakan Stadion Palaran untuk pertandingan persahabatan antartim lokal. Begitu pun dengan rumput lapangan berjenis zoysia matrella yang dulu dibanggakan kini sudah tidak terlihat, bahkan rumput di atas lapangan sudah tidak dominan menutupi lapangan.

Termasuk lintasan tartan atletik delapan lajur mengelilingi lapangan utama juga sudah terlihat kusam. Begitu juga dengan papan skor digital berdiri tegap di utara stadion.

2. Stadion Watubelah

Pertama, ada Stadion Watubelah. Saat PON di Jawa Barat pada 2016, ada beberapa stadion yang dibangun, salah satunya di Cirebon. Di sana, dibangun stadion megah bernama Watubelah.

Proses pembangunan stadion ini memakan waktu yang cukup banyak panjang, bahkan hingga menguras APBD Kabupaten Cirebon setiap tahunnya. Sayang, hingga pelaksanaan PON 2016, pembangunan stadion tak kunjung selesai, pelaksanaan PON pun tak dilakukan di sana.

Kini, stadion itu pun terbengkalai dengan kondisi yang mengenaskan. Hanya beberapa tribun yang telah jadi. Bangunan stadion kemudian terbengkalai dan dibiarkan tak terurus. Namun, pada Maret 2021, Pemkab Cirebon menjadikan Stadion Watubelah menjadi lokasi skrining awal pasien Covid-19. Di sana menjadi tempat tes swab massal.

3. Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA)

Gagalnya Watubelah sebagai salah satu venue PON sedikit terobati saat Pemprov Jawa Barat membangun Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA). Stadion yang kelar pada 2012 itu menelan biaya Rp545 miliar.

Saat penyelenggaraan PON, stadion ini kemudian menjadi acara pembukaan. Ada 35 ribu orang yang hadir dalam pembukaan PON yang menjadikan Jawa Barat sebagai juara umum itu. Usai PON, stadion itu kemudian menjadi markas Klub Persib Bandung

Stadion kemudian terawat karena hampir setiap bulannya digunakan untuk pertandingan Liga 1. Namun, setelah kejadian kematian seorang fans Persija pada 2017, stadion ini kemudian tak lagi digunakan. Stadion GBLA baru digunakan beberapa kali oleh Persib pada tahun berikutnya.

Kini, Stadion GBLA dibiarkan tak terawat, sejumlah rerumputan liar terlihat sudah tumbuh tinggi di kawasan itu. Lumut lumut pun terlihat ada di sejumlah stadion kebanggaan warga Bandung itu.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00