12 Atlet Layar Kaltim Terapkan Prokes Ketat Selama Terjun ke Laut

KBRN, Samarinda: Meski ditengah Pandemi, Atlet Layar Kalimantan Timur (Kaltim) yang sedang dipersiapkan untuk berlaga pada perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-20 di Papua, kini melakukan segala aktifitas dalam Pemusatan Latihan Daerah (Puslatda), di kawasan perairan Tanjung Batu, Kabupaten Berau.

Mengingat situasi dan kondisi kini mulai berangsur normal, Pelayar Benua Etam ini kembali turun ke Laut, namun hanya saja selalu menerapkan protokol kesehatan.

Untuk ke Papua nanti, Ketua Umum Pengprov Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia (Porlasi) Kaltim, Teddy Abay menjelaskan, atletnya akan lakukan pergantian dalam pertandingan nanti, dari ke 12 atletnya yang dipersiapkan.

"Kami latihannya memang karena atlet kami hanya 12 yang akan berlaga di PON, maka kami atur bisa turun semua tetapi gantian kelasnya," katanya Teddy.

"Kelas pra optimis dulu, terus mungkin aleser dulu, gantian naik baru 420, baru selancarnya. Beputar aja pokoknya," lanjutnya.

Selama atletnya terjun langsung ke laut, Teddy juga mengatakan pihaknya selalu memperketan kesehatan dengan aman. Sehinga dirinya selalu berinisiarif agar imun dan mental atletnya terjaga lebih baik serta merasa senang selama menjalani program latihan.

"Tetapi di laut mereka tidak berkumpul dan memang kan kalau beperahu kan memang jaraknya cukup jauh lebih 1/2 meter malah sampai 5 meter. Ini kayaknya untuk latihan alhamdulillah sejauh ini sudah lancar-lancar aja. Paling tidak anak-anak sudah kembali ke habitatnya, sudah mulai happy dia dengan alatnya masing-masing gitu nah," terangnya.

Ditambahkan Teddy, mengingat kawasan yang saat ini menjadi tempat Pusltada Layar Kaltim, merupakan salah satu tempat wisata di Kabupaten Berau. Pihaknya selalu menjaga prokes yang ketat kepada atletnya.

"Sejak covid memang kami mengamankan atlet itu agak serius karena daerah kami ini daerah terbuka. Tanjung Batu ini, gate way pariwisata. Terus dermaga latih kami di Tanjung Batu itu dermaga lalu lalang banyak orang. Maka sangat tergantung dengan protokol kesehatan," ujarnya.

"Tanpa protokol kesehatan kami tidak akan berani bergerak karena banyak kemungkinan yanh bisa terjadi. Daerahnya tidak exclusive tertutup gitu loh," tambahnya Teddy.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00