Tes Psikologi Kembali Diterapkan dalam Pembuatan SIM

KBRN, Sendawar: Satuan Lalulintas (Satlantas ) Kepolisian Resor (Polres) Kabupaten Kutai Barat (Kubar) sempat menerapkan Tes Psikologi, dalam pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) pada awal tahun 2020.

Tidak lama berjalan, kebijakan itu dihentikan sementara waktu karena wabah Virus Corona (COVID-19), menyebabkan pelayanan pada lembaga yang ditunjuk dan bekerjasama dengan pihak kepolisian dalam melaksanakan tes psikologi tersebut membatasi pelayanan.

Bahkan pelayanan pembuatan SIM Polres Kubar, sempat ditiadakan kurang lebih 3 bulan sejak 25 Maret hingga 29 Mei lalu, guna menghindari kerumunan orang yang berpotensi terjadinya penularan covid-19.

Namun demikian, memasuki Tatanan Kehidupan Baru saat ini, Satlantas Polres Kubar, kembali mensosialisasikan kebijakan tersebut, sembari menunggu perintah atasan sekaligus penujukkan lembaga yang akan diajak bekerjasama dalam pelaksanaan tes psikologi di Kutai Barat.

“Syarat tes psikologi ini diperuntukan SIM Baru maupun Perpanjangan dan semua jenis SIM. Itu perintah undang-undang, jadi Polri hanya menerapkannya, justru kalau Polri tidak menerapkan persyaratan itu artinya tidak menjalankan perintah Undang-undang. Jadi ini syarat utama, kalau kita berbicara seberapa penting tes psikologi, ya sangat penting,”Kata Kasat Lantas Polres Kubar Iptu Alimuddin kepada RRI, Selasa (3/10/2020).

Sesuai perintah Undang-undang , lanjutnya, ada sejumlah item ketentuan yang harus dilalui seseorang dalam memperoleh SIM baru dan perpanjangan masa berlaku SIM yakni, harus memenuhi syarat usia 17 tahun, kemudian syarat Administrasi (harus memiliki KTP), syarat kesehatan (Jasmani dan Rohani) yang salah satunya adalah tes psikologi, serta harus melewati ujian praktek dan tertulis.

Disinggung mengenai biaya administrasi, seiring dengan diberlakukannya kebijakan tersebut, Iptu Alimuddin menegaskan, hal itu menjadi kebijakan dari lembaga yang ditunjuk untuk melaksanakan tes psikologi nantinya.

“Kami tidak mengetahui bagaimana bagian psikologi memungut biayanya, yang penting kami menerima bahwa syarat SIM itu harus ada lampiran tes psikologi yang dibuktikan keterangan dari dokter. Kami tidak terlibat dalam cara mendapatkanya, dokternya siapa termasuk biaya tadi, jadi psikologi ini bukan bagian dari kami, cuma saya membutuhkan syarat itu. Contoh KTP tadi, saya tidak tahu orangnya dari mana, tapi yang penting bawa KTP sebagai syarat pembuatan SIM ini,”tegasnya

Menurut Iptu Alimuddin, penerapan tes psikologi sebagai syarat penerbitan SIM ini direncanakan pelaksanaanya bulan depan, menunggu instruksi atasan dalam hal ini Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Timur (Kaltim).

Seperti diketahui, syarat Tes Psikologi dalam pembuatan SIM ini sudah diatur berdasarkan pasal 81 Undang – Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan, serta pasal 34-36-37 peraturan Kapolri Nomor 9 tahun 2012 tentang SIM.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00