Sidang Pledoi Kasus STNK Palsu, Pengacara : Jika Rayon dan Ismail Tidak Dijadikan Terdakwa Maka Sandy Stepanus Harus Dibebaskan

KBRN, Sendawar : Pengacara Bambang Edy Dharma meminta majelis hakim Pengadilan Negeri Kutai Barat (Kubar) membebaskan terdakwa Sandy Stepanus dari tuntutan 1,6 tahun penjara yang dijatuhkan Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Bahwa Tuntutan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum  yakni selama 1 (Satu) Tahun dan 6 (enam) bulan adalah suatu tuntutan yang tidak mencerminkan rasa keadilan dan tidak mempunyai rasa kemanusiaan bagi terdakwa, bagi keluarga terdakwa, yang mana terdakwa berdasarkan fakta persidangan terungkap hanyalah sebagai Perantara,” ungkap Bambang Edy Dharma dalam sidang pembelaan di Pengadilan Negeri Kubar Selasa (23/6/2021).

BACA JUGA: Sidang Pemalsuan STNK Mobil Bodong: JPU Tuntut Sandy Stepanus 1,6 Tahun Penjara Tapi Mobil Dikembalikan ke Rayon

Bambang menilai Sandy Stepanus tidak bisa dijadikan terdakwa tunggal dalam perkara pemalsuan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Sebab pria 41 tahun itu hanya sebagai perantara. Sedangkan orang yang diduga jadi aktor utama dalam kasus mobil bodong itu adalah Ismail Daeng Sila dan Rayon.

“Karena saksi Rayon,S.Pd telah menyuruh terdakwa untuk memesankan STNK palsu tersebut dan Saksi Rayon,S.Pd lah yang selama ini menggunakan STNK palsu tersebut. Yang pada pokoknya terdakwa dapat dihukum dengan unsur pasal yang telah diuraikan jika saksi Rayon,S.Pd dan Ismail Daeng Sila dijadikan sebagai Terdakwa dalam perkara A-quo karena saling keterkaitan,” sebut Bambang.

Sidang Pembelaan di PN Kubar Selasa (22/6/2021)

Dia menjelaskan dalam fakta persidangan Sandy Stepanus hanya membantu Rayon untuk memesan STNK Palsu. Sedangkan Ismail Daeng Sila adalah orang yang membuat STNK Palsu. Namun sejauh ini Rayon yang jelas-jelas terlibat dan ikut meminta dibuatkan STNK Palsu atas namanya justru hanya dijadikan saksi.

Sementara Ismail Daeng Sila yang diketahui berasal dari Makasar Sulawesi Selatan hingga kini hanya berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh Polres Kubar.

Sehingga Pengacara Bambang Edy Dharma meminta majelis hakim memeriksa dan menjadikan Rayon serta Ismail Daeng Sila sebagai terdakwa. Jika dua aktor itu tidak dijadikan terdakwa maka Sandy Stepanus harus dibebaskan.

“Menariknya perkara ini adalah justru semua informasi yang dihimpun oleh Penyidik Reskrim Polres Kutai Barat semuanya dari Terdakwa sehingga dapat terungkap Perkara ini. Terdakwa juga membantu untuk mengungkap mobil-mobil lain yang diduga menggunakan Surat Palsu, namun saat ini justru terdakwa yang diadili di persidangan ini,” katanya.

BACA JUGA: Terungkap ! Pembuat STNK Palsu Dari Makasar, Polisi: Stepanus Hanya Perantara

Bambang Edy Dharma, SH - Kuasa Hukum Terdakwa Sandy Stepanus

Begitu juga dengan mobil Toyota Calya yang menjadi sumber terjadinya pemalsuan STNK juga harus disita dan dikembalikan ke pihak leasing atau disita untuk negara. Tidak bisa dikembalikan ke saksi Rayon seperti permintaan JPU.

Oleh karena itu penasihat hukum memohon kepada Majelis Hakim untuk mempertimbangkan nota pembelaan saat mengambil keputusan atau vonis. Dengan amar pembelaan sebagai berikut:

  1. Menerima nota   pembelaan penasihat hukum terdakwa Sandy Stepanus Bin Bernadus Hamid (Alm) untuk seluruhnya
  2. Menolak Surat Dakwaan yang masuk dalam Surat Tuntutan Nomor Reg.Perk : PDM - 11 / O.4.19 / Eoh.1 / 03 /2021 pada perkara pidana Nomor : 60 / Pid.B / 2021 / PN Sdw
  3. Menyatakan Terdakwa Sandy Stepanus Bin Bernadus Hamid (Alm) tidak terbukti secara sah melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan dan dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum berdasarkan Pasal 263 ayat (1) KUHP Jo. Pasl 55 ayat (1)ke 1 KUHP.
  4. Membebaskan Terdakwa Sandy Stepanus Bin Bernadus Hamid (Alm) dari dakwaan dan  tuntutan hukum yang diajukan Jaksa Penuntut Umum.
  5. Memerintahkan pada Jaksa Penuntut Umum agar merehabilitasi nama baik Terdakwa Sandy Stepanus Bin Bernadus Hamid (Alm).
  6. Memerintahkan agar Terdakwa Sandy Stepanus Bin Bernadus Hamid (Alm) dibebaskandari Tahanan.
  7. Memerintahkan pada Jaksa Penuntut Umum untuk memeriksa saksi Rayon,S.Pd.
  8. Mengembalikan Barang Bukti 1 ( satu ) Unit Mobil Toyota Calya warna grey dengan nomor polisi : DD 1848 VT beserta kunci kontaknya kepada Pihak Leasing atau Dirampas untuk Negara.
  9. Menyatakan membebankan biaya perkara ini kepada negara.

“Apabila Majelis Hakim Yang Mulia berpendapat lain, mohon  putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono),” harap Bambang.

BACA JUGA : Fakta Persidangan Kasus Mobil Bodong, Terungkap Saksi Rayon Gunakan STNK Palsu Sejak 2019

Sementara itu dalam nota pembelaan setebal 58 lembar Bambang juga memohon agar Jaksa Penuntut Umum yang meskipun dalam posisinya sebagai wakil Negara, dapat secara seimbang, bebas dari kepentingan apapun untuk bersama-sama mencari kebenaran materiil berdasarkan apa yang terungkap dalam persidangan.

Bambang juga memberikan apresiasi tinggi dan berterima kasih kepada Ketua dan Anggota Majelis Hakim karena proses persidangan dapat berjalan dengan baik, cepat, dan efektif.

“Kami yakin dilandasi oleh semangat kita bersama Majelis Hakim, Jaksa Penuntut Umum, dan Kuasa Hukum untuk menjalankan proses persidangan atas nama Terdakwa berdasarkan prinsip-prinsip peradilan yang bersih, Jujur (Fair), demi tegaknya Hukum dan Keadilan,” kata Bambang dalam sidang Pledoi yang dipimpin Hakim Ketua Buha Ambrosius Situmorang sekaligus menggantikan Hakim Ketua sebelumnya Jemmy Tanjung Utama yang akan segera berpindah tugas ke Pengadilan Negeri Samarinda.

BACA JUGA: 

Keberadaan 7 Mobil Sitaan Dipertanyakan Dalam Sidang Pengadilan, Ini Penjelasan Polisi

Saksi Polisi Beda Keterangan Soal Proses Penangkapan dan BB yang Disita Dalam Perkara Mobil Bodong

Pengacara Bambang Edy Dharma membacakan nota pembelaan. Terdakwa Sandy Stepanus mengikuti sidang secara online.

Penasihat hukum BED mengaku sangat menghormati proses hukum atas kasus yang menjerat kliennya.

“Namun demikian dengan penghormatan yang tinggi  terhadap profesi Hakim dan Jaksa, kami menyadari hukum harus ditegakkan demi adanya keseimbangan masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera dengan menyatakan bersalah dan menghukum orang yang bersalah serta membebaskan orang-orang yang tidak bersalah,” sebut pengacara yang karib disapa Awen itu.

Ia mengatakan dalam menegakan hukum, tujuan utama adalah mencari kebenaran yang sejati dalam perkara in casu (materiil waarheid), bukan hanya sekedar mencari alat bukti yang dapat menghukum terdakwa belaka.

Hal ini sesungguhnya yang diminta oleh hukum dan didambakan oleh terdakwa, keluarga terdakwa maupun oleh masyarakat luas.  

“Kebenaran sejati itu hanya dapat ditemui dan ditegakkan dalam suatu proses peradilan yang jujur dan adil. Jika tidak demikian, bukan kebenaran sejati yang akan kita peroleh, melainkan potongan-potongan dari kebenaran dan jika dari potongan-potongan kebenaran itu ditarik suatu kesimpulan apalagi dijadikan dasar untuk memutus perkara ini, maka hasilnya akan lebih kejam dari seluruh kebohongan yang ada,”urai pengacara single fighter itu.

BACA JUGA : 

Sidang Mobil Bodong: Istri Terdakwa Sandy Stepanus Bantah Saksi Rayon, Tapi Keteranganya Buat Hakim Bingung Sampai Ngakak

Stepanus Sandy Akui Sudah 9 Kali Pesan STNK Palsu Tanpa BPKB

Pengacara berusia 35 tahun itu menutup Pledo dengan mengutip kata- kata Nabi Muhammad SAW.

“Menghukum dalam keraguan adalah dosa” dan di dunia hukum juga dikenal dalam keadaan “In Dubio Pro Reo” adalah “jika terjadi keragu-raguan apakah Terdakwa salah atau tidak maka sebaiknya diberikan hal yang menguntungkan bagi Terdakwa”.

Sementara itu tim JPU yang dihadiri M.Fahmi memastikan akan menyampaikan tanggapan atau replik pada sidang berikut yang akan digelar Senin (28/6/2021).

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00