Kronologi Terungkapnya Kasus Mobil Bodong.

KBRN Sendawar : SS alias Stepanus, warga kampung Muyub Ilir kecamatan Tering kabupaten Kutai Barat segera duduk di kursi pesakitan pengadilan Negeri Kutai Barat untuk menjalani proses sidang dalam kasus  pemalsuan dokumen kendaraan.

Ia diduga ikut terlibat dalam sindikat pembuatan dokumen aspal alias bodong sebanyak 7 unit kendaraan.

Perkara itu bermula saat polisi menerima laporan dari R bahwa kendaraan yang dia beli dari jaringan Stepanus ternyata surat-suratnya tidak asli. Aparat kepolisian dari Satreskrim Polres Kubar kemudian menelusuri laporan itu hingga membekuk Stepanus pada 23 Januari 2021. Saat itu SS sedang mengambil STNK palsu pada kantor jasa pengiriman di wilayah Barong Tongkok Kutai Barat yang dikirm oleh rekannya dari Makasar berinisial I.

Pria 41 tahun itu langsung ditahan dan dijadikan tersangka. Lalu pada 29 Januari polisi menggelar pres rilis dan mengungkap ke awak media jika sindikat jual beli mobil bodong itu mencengangkan. Kapolres Kubar AKBP Irwan Yuli Presatyo menyebut ada 30 unit yang beredar namun baru 7 yang disita polisi dari tangan pembeli.

“Ada 30 unit yang harus kita amankan. Sementara baru tujuh unit”, ujar Kapolres dalam pres rilis di ruang Satreskrim kala itu.

Kapolres Kubar saat menunjukan BB
Kapolres Kubar AKBP. Irwan Yuli Prasetyo saat menunjukan BB di Mapolres (29/1/2021)

Kasus itu berlanjut dengan pelimpahan berkas tahap satu ke kejaksaan namun dikembalikan lantaran tidak lengkap.

“Karena ada syarat formil dan materil yang harus dilengkapi lagi. Makanya kita kembalikan lagi”, jelas Kasi Pidana Umum Kejari Kubar Muhamad Israq di kantor Kejari Senin, (8/3/2021).

Pemberkasan tahap dua ternyata molor hingga melewati 60 hari masa penahanan tersangka. Sehingga demi hukum tersangka dilepaskan dari tahanan Sabtu 27 Maret. Polisi kemudian bergerak cepat melimpahkan BB dan dokumen ke pihak kejaksaan  pada 29 Maret.

Kasi pidana Umum kejari Kubar Muhamad Israq menyatakan berkas tahap dua lengkap atau P-21. SS didampingi penasihat hukum juga ikut dalam pelimpahan itu dan menyaksikan penyerahan BB.  Malam harinya sekitar pukul 21.00 wita Stepanus kembali masuk sel dan resmi jadi tahanan jaksa.

“Perkara ini sudah diserahkan ke kami, otomatis beralih jadi tahanan kejaksaan mulai hari ini (29 maret) sampai 17 April atau selama 20 hari kedepan. Karena kita belum tersedia Rutan kita titipkan kembali ke Polres, intinya malam ini kita titip ke Polres sampai nanti kita limpahkan ke Pengadilan”, katanya.

Sebelum masuk mobil tahanan, Stepanus sempat melontarakn pernyataan jika dirinya siap mempertanggung jawabkan perbuatannya.

“Walaupun sakit-sakit ya intinya kita tetap kooperatif mempertanggung jawabkan di Pengadilan nanti”, ujarnya singkat.

Sementara penasihat hukum SS, Bambang Edy Dharma mengaku siap membatu kliennya  membongkar aktor intelektual di balik kasus yang menjerat SS. Sebab menurutnya pelaku lain yang bermain di balik kasus mobil bodong itu justru belum disentuh aparat.

“Artinya kami sebagai PH akan mengungkap seterang-terangnya perkara ini bahwa ada oknum dibalik ini semua yang harus ditetapkan (jadi tersangka), tidak hanya satu orang saja”, kata Bambang.

Baca Juga: Baru Dua Hari Bebas, Stepanus Kembali Masuk Sel Polres Kubar, Kok Bisa?

Bambang menilai terjadinya perkara pemalsuan itu karena ada sindikat yang bermain. Yaitu pemesan mobil, perantara, pembuat surat palsu dan penadah atau pemakai. Sedangkan Stepanus hanyalah perantara.

“Kalau memang ini sindikat harus dibongkar. Karena yang ditetapkan (tersangka) hanya klien kami maka kita akan buka semua (di Pengadilan). Termasuk pengguna yang jelas-jelas mengetahui adanya penyimpangan terhadap penggunaan ini harus diproses”, ucap Bambang di depan kantor Kejari.

Lantas siapa aktor intelektual dibalik kasus mobil bodong tersebut.

“Kita melihat bahwa klien kami tidak pernah membuat surat palsu tersebut. Tidak mungkin terjadi pembuatan kalau tidak ada request (pesanan)”, jelas Bambang saat diwawancara awak media di Kawasan Barong Tongkok sebelum acara pelimpahan tahap dua di kejaksaan.

Dia menegaskan jika kliennya bukan pemeran utama di balik kasus tersebut. Sebab SS hanya perantara yang menghubungkan antara pembeli dan pembuat surat palsu. Sedangkan aktor utama adalah si pemesan mobil dan pembuat surat.

“Pada saat ini kami menganggap bahwa klien kami adalah korban dari kriminalisasi. Alasannya yang pertama pasal-pasal yang dituduhkan terhadap klien kami yaitu 263 ayat 2 yang menjelaskan bahwa menggunakan surat palsu seolah-olah sejatinya benar atau pembuatan surat palsu yang seolah-olah sejatinya benar, tetapi pada perkara ini klien kami bukan orang yang membuat dan bukan orang yang menggunakan. Tetapi ada yang menggunakan justru tidak dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka”, bebernya.

Kami PH sangat senang jika perkara ini diungkap secara terang benderang secara profesional dan secara proporsi. Tetapi disini klien kami menjadi satu-satunya tersangka yang dituduhkan atas perbuatan pemalsuan dari mobil tersebut”, sambung Bambang Edy.

Adapun sindikat kasus mobil bodong itu menurut Bambang ada sekitar 3 sampai 4 orang. Yakni (I) sebagai pembuat STNK Palsu, (A) dan (Y) teman dari (I) dan SS sendiri yang sudah dijerat polisi. Termasuk diantaranya para pembeli seharunya bisa jadi sebagai penadah.

“Jadi kalau klien saya itu dia kenal dengan saudara I (pembuat STNK palsu) dari saudara A. Saudara A ini posisinya di Samarinda. Klien saya itu pun kenal dengan saudara A dari saudari Y.

Jadi rentetan permasalahan ini,  klien saya didatangi oleh pelapor (R) untuk dicarikan mobil. Setelah dicarikan unit, Klien saya dikenalkan oleh saudara A. Saudara A memberikan unit yang berada di kota Balikpapan.

Nah karena STNK itu namanya berbeda, si pembeli meminta STNK diubah atas nama sendiri (Rayon). Bukan klien saya yang menawarkan tetapi pembeli yang meminta untuk dirubah”, sebut sang advokat.

Penasihat Hukum SS - Bambang Edy Dharma

Dia juga merasa janggal lantaran Stepanus dilaporkan oleh si pemesan surat Palsu. Yakni R yang diketahui bekerja sebagai PNS di Kutai Barat.

Menurutnya R-lah yang bertanggung jawab karena R yang meminta membuat STNK Palsu. Mobil juga sudah dipakai R lebih dari setahun tetapi baru dilaporkan saat ini. Atas dasar itu Bambang berani mengkliam jika Stepanus adalah korban.

“Si pelapor itu kan jelas menggunakan unit ini lebih dari satu tahun dan tidak mungkin tidak mengetahui bentuknya mobil itu seperti apa. Kenapa saya sampaikan sebagai korban kriminalisasi, karena SS hanya perantara (tetapi) menjadi tersangka utama yang dibebankan semua tuduhan pemalsuan tersebut”, pungkas Bambang Edy Dharma.

Lalu benarkah jaringan jual beli mobil bodong itu ada 30 unit. Soal jumlah ini juga dibantah SS dan kuasa hukumnya.

“Itu tidak benar, saya tidak mengerti pihak kepolisian dapat data dari mana klien kami itu mengedarkan 30 unit di Kutai Barat. Kalau sampai 30 unit itu banyak sekali tentunya bisa terlihat pasti dengan mata kasar”, sangkanya.

M.Israq - Kasi Pidum Kejari Kutai Barat
M.Israq Kasi Pidum Kejari Kubar

Di samping itu 7 unit BB yang disita polisi belakangan jadi polemik. Sebab hanya satu yang dijadikan barang bukti di kejaksaan.

“Saat press release itu kan ada 7 unit yang ada di media tetapi yang diserahkan hanya 1 unit dan itu pun menjadi pertanyaan kita semua. Seyogyanya kalau memang hanya satu unit yang 6 unit seharusnya sudah dilepaskan. Dan 7 unit itu semua tidak didapat dari tangan klien kami tetapi dari tangan pelanggan”, tutur dia.

Meski menolak segala tuduhan, SS kata Bambang siap bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia mengaku akan membongkar saat sidang di pengadilan.

“Karena ini sudah dilimpahkan ke kejaksaan maka kita ikuti proses hukumnya”, tegas Bambang.

Kasat Reskrim Polres Kubar AKP.Iswanto yang dikonfirmasi RRI selasa (30/3/2021) belum bisa memberikan pernyataan karena masih di luar Kubar. Hanya saja Iswanto pernah memberikan penjelasan soal BB dan status para pihak yang terlibat dalam perkara itu.

Menurutnya  dalam kasus mobil bodong itu memang baru satu yang dilimpahkan ke kejaksaan. Sedangkan 6 unit lain masih dalam tahap pengembangan. Iswanto belum menjelaskan soal dimana BB yang disita maupun jumlah korban atau saksi yang diperiksa.

“Ya tersangkanya sama tetapi dia melakukan perbuatan itu berbeda-beda. Tempat dan waktu yang berbeda dengan korban yang berbeda juga. Otomatis saksi yang harus kita periksa kan berbeda juga. Saat ini yang kebetulan sudah jelas dan terpenuhi syarat formil materilnya, lengkap saksinya adalah perkara yang ini. Satu yang kita limpahkan kejaksaan itu”, jelas Iswanto 9 Maret 2021 di Sendawar.

Adapun unit kendaraan yang dilimpahkan jadi barang bukti yakni satu buah mini bus merek Calya dengan nomor polisi DD 1848 VT.

Sementara tersangka SS dijerat dengan pasal 263 ayat 1 junto pasal 55 ayat satu KUHP dengan ancaman 6 tahun kurungan penjara.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00