Baru Dua Hari Bebas, Stepanus Kembali Masuk Sel Polres Kubar, Kok Bisa?

KBRN Sendawar : SS alias Stepanus, tersangka kasus pemalsuan dokumen kendaraan sempat dua hari menghirup udara bebas usai dikeluarkan dari tahanan oleh penyidik Polres Kutai Barat 27 Maret lalu.

Dia dilepaskan lantaran masa penahanannya sudah melewati 60 hari sejak 29 Januari lalu. Di saat bersamaan penyidik Polres belum melengkapi berkas perkara di Kejaksaan Negeri Kutai Barat.

Namun pria 41 tahun asal kampung Muyub Ilir kecamatan Tering Kutai Barat itu kembali masuk sel Senin malam 29 Maret 2021 karena berkas perkara kini sudah lengkap atau P-21.

Kepala Seksi Pidana Umum M.Israq di kantor Kejari jalan Sendawar Raya kecamatan Barong Tongkok Kota Sendawar Senin malam menjelaskan, berkas perkara kasus pemalsuan dokumen itu awalnya dikembalikan jaksa lantaran syarat formil dan materil belum lengkap.

Namun dalam penyerahan tahap dua ini  seluruh dokumen dianggap memenuhi syarat. Sehingga tim jaksa menyatakan P-21. Penydik juga sudah menyerahkan tersangka dan barang bukti. Dengan demikian maka tersangka harus ditahan kembali dan kini jadi tahanan jaksa selama 20 hari kedepan.

“Perkara ini sudah diserahkan ke kami, otomatis beralih jadi tahanan kejaksaan mulai hari ini (29 maret) sampai 17 April atau selama 20 hari kedepan. Karena kita belum tersedia Rutan kita titipkan kembali ke Polres, intinya malam ini kita titip ke Polres sampai nanti kita limpahkan ke Pengadilan”, ungkap M.Israq.

M.Israq menambahkan jaksa hanya menangani perkara dengan barang bukti berupa satu unit mobil yang dilimpahkan Polisi. Soal informasi yang beredar ada 6 unit kendaraan yang di sita polisi dari tangan pemakai, itu masih jadi kewenangan penyidik Polres.

“Yang disampaikan ke kita dari tahap pertama masih satu unit kendaraan saja yang diserahkan”, katanya.

Pantauan RRI , Tersangka SS alias Stepanus digiring ke mobil tahanan sekitar pukul 21.00 wita dari kantor kejaksaan menuju kantor Polres. Ia sempat melontarakn pernyataan jika dirinya siap mempertanggung jawabkan perbuatannya.

“Walaupun sakit-sakit ya intinya kita tetap kooperatif mempertanggung jawabkan di Pengadilan nanti”, ujarnya singkat.

Sementara penasihat hukum SS, Bambang Edy Dharma mengaku siap membatu klainnya  membongkar aktor intelektual di balik kasus yang menjerat SS. Sebab menurut dia ada pelaku lain yang bermain di balik kasus mobil bodong itu justru belum disentuh Aparat. Termasuk pemakai 6 unit kendaraan lain bahkan pelapor sendiri yang ikut memesan unit bodong tersebut.

“Artinya kami sebagai PH akan mengungkap seterang-terangnya perkara ini bahwa ada oknum dibalik ini semua yang harus ditetapkan (jadi tersangka), tidak hanya satu orang saja”, jelas Bambang.

Bambang menilai terjadinya perkara pemalsuan itu karena ada sindikat yang bermain. Yaitu pemesan mobil, perantara, pembuat surat palsu dan penadah atau pemakai. Sedangkan Stepanus hanyalah perantara.

“Kalau memang ini sindikat harus dibongkar. Karena dari pres rilis sebelumnya yang mengatakan tujuh unit dan sekarang hanya satu unit yang ditetapkan (tersangka) hanya klien kami maka kita akan buka semua (di Pengadilan).

Termasuk pengguna yang jelas-jelas mengetahui adanya penyimpangan terhadap penggunaan ini harus diproses. Karena ini sudah dilimpahkan ke kejaksaan maka kita ikuti proses hukumnya”, tegas Bambang.

Adapun unit kendaraan yang dilimpahkan jadi barang bukti yakni satu buah mini bus merek Calya dengan nomor polisi DD 1848 VT.

Polres Kubar awalnya merilis pengungkapan perkara pemalsuan dokumen kendaraan pada 29 Januari lalu.

Kapolres Kubar AKBP Irwan Yuli Prasetyo kala itu menyebut sindikat pembuatan dokumen palsu itu ada dua orang. Yakni SS dan pria asal Sulawesi berinisial I sebagai pembuat STNK palsu. Hanya saja hingga saat ini pelaku I belum berhasil ditangkap apparat. Polisi menduga ada 30 buah mobil bodong yang diperjual belikan kedua pelaku.

“Ada 30 unit yang kita duga beredar di Kutai Barat dan Mahakam dari jaringan ini. Tapi baru tujuh unit yang kita sita”, katanya.

Sementara kasat Reskrim Polres Kubar AKP.Iswanto membenarkan hanya satu unit kendaraan yang dilimpahkan penyidik Polres ke pihak Kejari. Sedangkan 6 unit lainnya masih dalam tahap pengumpulan berkas tambahan.

“Ya tersangkanya sama tetapi dia melakukan perbuatan itu berbeda-beda. Tempat dan waktu yang berbeda dengan korban yang berbeda juga. Otomatis saksi yang harus kita periksa kan berbeda juga. Saat ini yang kebetulan sudah jelas dan terpenuhi syarat formil materilnya, lengkap saksinya adalah perkara yang ini. Satu yang kita limpahkan kejaksaan itu”, jelas Iswanto 9 Maret lalu di Sendawar.

Iswanto berjanji untuk terus mengembangkan perkara 6 unit lain yang sudah disita dari tangan pemakai.

“Pasti akan kita kembangkan lagi”, bebernya.

Adapun tersangka SS dibekuk polisi pada 23 Januari saat mengambil STNK yang dikirm oleh rekannya dari Makasar. Atas perbuatannya ia dijerat dengan pasal 263 ayat 1 junto pasal 55 ayat satu KUHP dengan ancaman 6 tahun kurungan penjara.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00