Bencana Alam Yang Harus Diwaspadai Saat Musim Kemarau

KBRN, Samarinda: Dalam menghadapi bencana alam yang kerap melanda wilayah Indonesia dan bisa datang kapan saja, baik di musim penghujan maupun musim kemarau, dibutuhkan sikap, pemikiran dan perilaku tangguh sehingga timbul kesadaran tidak hanya pada sikap tetapi juga pemikiran dan perilaku. Kesiapsiagaan menjadi hal penting sebagai bentuk tangguh menghadapi potensi bencana alam, sehingga masyarakat memiliki sikap waspada dalam menghadapi segala kemungkinan bencana alam yang melanda.

Seperti dikutip dari kompasiana.com,  dalam rangka membangun kesiapsiagaan, pengetahuan menjadi hal penting dalam memahami penanggulangan bencana. Salah satunya dengan pengetahuan mengenai langkah-langkah yang dilakukan individu dan masyarakat dalam menyikapi situasi yang dapat mengarah terjadinya bencana.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyusun sebuah buku saku yang khusus membahas langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menyikapi potensi atau bencana yang terjadi. Buku ini diharapkan menjadi bahan pengetahuan untuk kesiapsiagaan semua lapisan masyarakat.

Berikut ini penjelasan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam saat musim kemarau yang dikutip dari Buku Saku "Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana" versi terbaru yang dirilis tahun 2019.

1. Bencana Kekeringan

Kekeringan merupakan kondisi kekurangan pasokan air dari curah hujan dalam jangka waktu tertentu, biasanya satu musim atau lebih, yang berakibat pada kekurangan air untuk beberapa sektor kegiatan, kelompok, atau lingkungan. (UNISDR, 2019)

Kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam, disusun dalam tiga tahapan, yang pertama saat sebelum terjadi bencana (prabencana), kemudian saat terjadi bencana, dan setelah terjadi bencana (pascabencana).

Prabencana

Sebelum bencana alam kekeringan datang melanda, ada beberapa hal yang perlu diketahui dan dilakukan oleh masyarakat, terutama mereka yang secara periodik berada di sekitar kawasan bencana, diantaranya:

• Menjaga sumber/mata air

• Menggunakan air dengan bijak

• Tidak merusak hutan/kawasan cagar alam

• Membuat waduk atau embung untuk menampung air hujan dan dibutuhkan saat musim kemarau, hal ini dilakukan secara gotong royong yang melibatkan semua pihak

Dalam konteks pertanian, diharapkan masyarakat petani memanfaatkan tehnik mulsa. Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membuat tandon air di sekitar pekarangan rumah untuk menampung air hujan akan berguna selama musim kemarau.

Saat Bencana

Hal-hal yang penting diperhatikan untuk dilakukan saat terjadi bencana alam kekeringan:

• Melapor dan meminta bantuan air bersih pada pihak yang berwenang

• Mengatur jadwal penggunaan air yang masih ada

• Pelaksanaan Hujan Bantuan dengan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)  oleh pihak terkait

• Menyimak informasi terkini dari radio, televisi, media online dan sumber informasi resmi pemerintah

Pascabencana

Hal yang bisa dikerjakan setelah bencana alam kekeringan terjadi dengan cara :

• Membuat sumur resapan/biopori

• Membuat waduk/bendungan untuk menampung air hujan.

2. Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla)

Kebakaran Hutan dan Lahan adalah keadaan pada lahan dan hutan yang dilanda api sehingga mengakibatkan kerusakan serta dampak yang merugikan. Siapapun perlu memperhatikan kualitas udara di wilayah yang terdampak Karhutla atau informasi konsentrasi partikulat (PM10).  Informasi terkait kualitas udara di beberapa tempat dapat diakses melalui laman BMKG.

Prabencana

Memberikan peringatan, karena masih banyak warga yang tinggal di sekitar hutan yang masih belum mempunyai pengetahuan yang memadai tentang hutan dan menyebabkan kerusakan ekosistem yang fatal. Masih banyak warga yang membakar rumput saat musim kemarau yang disertai angin kencang sehingga penyebaran api akan mudah dan meluas.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00