Hingga Awal Juli 2022, Samarinda Tertinggi Perkawinan Anak Se-Kaltim

KBRN, Samarinda : Hingga awal Juli 2022 ini kasus pernikahan anak dibawah umur di kota Samarinda masih tertinggi di Kaltim .

“Yang pertama adalah seperti perkawinan usia anak berdasarkan angka itu cukup tinggi dan paling tinggi di Kaltim bahkan di nasonal itu cukup juga tinggi”, kata Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau DP2PA kota Samarinda drg.Deassy Efriyani kepada RRI Kamis (7/7/2022) di Samarinda.

Menurutnya untuk menurunkan kasus ini pihaknya melakuan berbagai upaya mulai dari sekolah, perguruan tinggi hingga menyasar pengadilan agama guna mengurangi angka pernikahan anak.

Namun terang deassy budaya dan adat istiadat masih menjadi kendala utama masakah ini sehingga Ia berharap peran serta orang tua atau lingkungan kelaurga anak untuk tidak membiarkan anak menikah diusia yang belum pada waktunya karena akan memberikan dampak terhadap kesehatan dan psikologis bagi anak .

“memang sampai saat ini kendala kita ya masih budaya adat istiadat makanya kami berharap peran orang tua dan lingkungan anak, bukan malah mendukung perkawinan anak ini tapi dituda sampai usia sudah cukup”, pinta Deassy.

Lebih lanjut Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak atau DP2PA kota Samarinda drg.Deassy Efriyani mengungkapkan Pernikahan anak usia dini membawa dampak buruk karena bisa meningkatkan risiko stunting, perceraian, hingga masalah kesehatan seperti kanker mulut rahim dan osteoporosis.

Oleh karena itu mengacu UU Nomor 16 Tahun 2019 yang berlaku sejak 15 Oktober 2019, menyebutkan bahwa usia minimal untuk menikah adalah 19 tahun baik untuk perempuan maupun laki-laki.

Hal ini sudah sesuai dengan ketentuan Kemen PPPA, dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dalam peraturan itu, disebutkan bahwa kategori anak adalah mereka yang usianya di bawah 18 tahun.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar