TKK Dispora Kubar Bantah Sebarkan Video PNS Mengamuk dan Keberatan Disebut Protes Karena Diroling

Priska (46) salah satu TKK Dispora kabupaten Kutai Barat buka suara pasca viralnya videio PNS Mengamuk. (19/1/2022). Foto/RRI-Andre

KBRN, Sendawar : Salah satu Tenaga Kerja Kontrak (TKK) pada Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Kutai Barat buka suara pasca viralnya video PNS mengamuk.

Sebab TKK kini justru disebut-sebut orang yang menyebarluaskan video oknum pejabat Dispora mengamuk seperti dalam rekaman video yang kini beredar luas di jagat maya.

TKK yang berani buka suara itu adalah Priska. Wanita yang sudah 13 tahun mengabdi sebagai tenaga kontrak di Pemkab Kubar itu mengaku disudutkan dengan beredarnya video tersebut.

Sebab dia jadi salah satu pegawai yang diroling oleh kepala Dispora. Bahkan terkesan tertuduh sebagai penyebar video berdurasi 1 menit 10 detik tersebut.

Padahal video kejadian tahun 2019 yang baru tersebar itu diunggah oleh orang luar Dispora.

Priska mengaku tidak tahu menahu soal video seorang wanita dengan suara lantang itu tiba-tiba viral di medsos. Ia justru baru tahu setelah ramai dan viral di facebook sejak Selasa (18/1/2022).

“Untuk video yang diunggah oleh ibu Erika Siluq SH.M.Kn itu saya tidak mengetahuinya. Saya mengetahu itu setelah ditelpon oleh beberapa kerabat,” ujar Priska saat dikonfirmasi awak media di Barong Tongkok, Rabu (19/1/2022).

BACA JUGA :

Video Oknum ASN di Kubar Mengamuk Viral, Ternyata Ini Duduk Perkaranya

Priska juga keberatan jika disebut protes atas pemindahan dirinya oleh kepala Dinas.

Menurut wanita yang aktif diberbagai kegiatan sosial itu, dirinya sudah mengikuti standar operasional dan prosedur (SOP) pemerintah. Dan ini bukan kali pertama ia diroling ke bidang lain.

“Saya sudah biasa diroling. Dan saya siap diroling kemanapun untuk tugas kinerja berikutnya. Dan saya melaksanakan tugas roling itu juga sesuai SOP,” kata Priska yang mengaku sudah meminta izin Kepala Dispora menyampaikan klarifikasi ke media.

Dia mengatakan tidak pernah protes atas mutasi di lingkungan Dispora. Hanya saja, saat akan ditempatkan di bidang yang baru ia sempat menanyakan perihal surat keputusan (SK) mutasi.

Pasalnya dalam SK tersebut tidak mencantumkan nomor surat dan tanggal dimulainya tugas sebagaimana nomenklatur umum dalam surat menyurat pemerintah.

Itupun sudah melalui mekanisme berjenjang. Yaitu dari mendatangi bidang yang dituju, kemudian menanyakan ke sekertaris dinas hingga kepala dinas.

“Saya menerima SK itu hari Jumat (14/1) sekitar jam 11. Dan saya menerima surat roling itu tidak ada dasar kapan roling itu dilaksanakan. Kemudian koordinasi dengan pak sekertaris tapi katanya roling dimulai sejak surat itu diterima. Tapi saya menerima itu dan saya melaksanakan sesuai SOP,” terang Priska.

“Saya agak ragu karena di SK roling itu tidak ada tanggal dan nomor surat kemudian tanggal berlakunya surat itu,” sambungnya.

Priska mengaku awalnya bertugas di bidang PPO kemudian dipindahkan ke bidang kepemudaan. Kebijakan mutasi itu juga bukan permintaan pribadi melainkan keputusan pimpinan.

“Saya tidak pernah minta untuk diroling kemanapun tapi saya tetap menerima keputusan pimpinan,” imbuh wanita yang aktif di organisasi masyarakat tersebut.

Perempuan yang juga pengurus Kwarcab Pramuka Kubar ini mengatakan, dengan dimutasi justru ia bisa belajar banyak hal dan menambah pengalaman kerja.

BACA JUGA :

Kepala Dispora Kubar Duga Video PNS Mengamuk Sengaja Disebarkan TKK yang Tak Puas Diroling

Di sisi lain, Priska juga meluruskan soal dirinya disebut memaksa memindahkan meja kerja.

Menurutnya, meja kerja itu sudah dia pakai kurang lebih 13 tahun sejak awal jadi TKK di Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (nomenklatur dinas lama). Pemindahan meja itu juga atas seizin sekertaris dinas.

“Pertama saya mau angkat meja minta tolong teman dilarang. Saya tidak bawa meja tersebut. Kedua Meja tersebut saya berani pindahkan karena atas izin sekertaris Dispora. Ketiga meja itu bukan pengadaan DPA Dinas pemuda dan olahraga. Itu meja pembelian tahun 2013 dan sudah pindah ke lima bidang,” terang Priska yang lagi-lagi keberatan disebut protes gara-gara meja.

“Jadi meja itu selalu saya bawa kemanapun saya pindah (dalam kantor Dispora),” ucapnya.

Selain itu Priska juga curhat soal kinerja Eniyati, Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian yang videonya ngamuk-ngamuk viral di sosmed.

Dia tidak bermaksud menjelek-jelekkan atasannya tersebut. Hanya saja Priska terpaksa buka suara soal kinerja Eniyati yang dianggap kerap marah-marah.

“Memang kinerja ibu itu sangat buruk. Baik dengan masyarakat terlebih kepada pegawai. Setiap hari mengancam memberhentikan pegawai. Kesalahan selalu di pegawai (staf),” kisah Priska soal kinerja Eniyati.

Idealnya seorang pejabat apalagi kasubag yang menangani bidang kepegawaian ikut membimbing dan membina bawahan dalam mengerjakan sesuatu. Namun faktanya hampir setiap kesalahan selalu TKK atau staf yang disalahkan.

“Seharusnya jika memang ada TKK yang berbuat salah, itu dipanggil, ditegur dan diberi solusi. Bukan diteriak dari pintu ke pintu. Yang ada sekarang ini dari pintu ke pintu. Jadi hal kecilpun semua kantor tahu, semua pegawai tahu,” ungkap wanita 46 tahun itu.

Perempuan yang kerap terjun dalam kegiatan kebencanaan ini mengaku tahu persis kinerja Eniyati. Sebab dia berada di bidang yang sama dengan Eniyati sejak tahun 2018.

Selama kurang lebih 3 tahun, Priska justru jadi korban psikis akibat kekerasan verbal yang dilontarkan atasannya itu.

“Saya sering mendapat penindasan dan diskriminasi. Kata-kata tidak pantas, penghinaan dan membeda-bedakan. Jadi saya kurang lebih 3 tahun bekerja dengan beliau merasa kurang nyaman,” bebernya.

Eniyati kata Priska tidak mau mengoreksi pkerjaan yang diberikan kepada bawahan. Tetapi langsung dibawa ke atasan seperti kepala dinas.

“Nanti kalau salah, yang membuat yang disalahkan. Kesalahan beliau selalu dijatuhkan ke bawahan,” tukasnya.

Tangkapan layar video PNS mengamuk hingga viral di sosial media. Sumber FB @Erika Siluq.

Priska tidak ingin kinerja satu orang pejabat yang kurang bersahabat justru memperburuk citra ASN maupun lembaga atau pemerintah daerah.

Sehingga solusinya adalah merevolusi mental seperti yang digaungkan selama ini. Apalagi tindakan yang dilakukan atasannya itu justru bisa membunuh karakter seseorang.

Dia tidak mau ada staf lain yang jadi korban system birokrasi tanpa kontrol.

“Sebenarnya tindakan ibu Eni ini membunuh karakter kaum muda yang ingin berkarya. Dia mematikan karakter. Sehingga mereka mempunya ide tidak bisa dikembangkan karena semua dengan intimidasi. Mau berbuat ini itu takut.

Sehingga apa yang kita kerjakan seperti teks, harus ikut apa yang dia perintahkan, kalau tidak ya tidak berani berbuat,” urai Priska yang menilai kebebasan memberi masukan atau ide kian terbatas di bawah pimpinan Eniyati.

Dia tidak ingin yang muluk-muluk. Dia hanya meminta pejabat berwenang terutama sekertaris daerah selaku pembina ASN memberi bimbingan agar kinerja mereka makin baik. Bukan saja kepada TKK, tetapi temasuk PNS dan pejabat.

“Di bidang saya yang baik kita tidak pernah diberikan ucapan terima kasih, yang jelek kita tambah dijatuhkan. Jadi harapan saya adanya pembinaan dari Badan kepegawaian. Pak sekda juga selaku pembina pegawai ikut membina,” pintanya.

Priska kwatirkan, jika tidak ada tindakan tegas dari pejabat tingga maka bisa muncul kekerasan verbal yang sama dalam lingkungan kerja pemerintah.

“Kalau saya walaupun ditekan saya udah biasa karena udah dewasa. Tapi kalau yang muda belum tentu mereka mau bertahan. Sementara kita berharap ke generasi muda untuk kemajuan Kutai Barat ini. Apalagi kita sekarang dekat dengan ibu kota negara.

“Kalau karakter pemuda sudah dimatikan seperti ini, perkembangan kita kedepan seperti apa. Kasihan juga bupatinya. Berarti kita tidak mendukung visi misi bupati hari esok lebih baik dari hari ini. Jangan sampai makin jelek kan. Harapannya saya bisa dukung pak bupati menyukseskan visi misi beliau,” pungkas Priska yang kerap jadi panitia HUT Kabupaten ini.

Sementara itu Eniyati yang diminta klarifikasi soal video viral hanya berjanji akan menyampaikan tanggapan. Namun hingga berita ini disusun Eniyati tak menyampaikan kabar. Dihubungi telpon seluler dan pesan singkat juga tak direspon.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar