Video Oknum ASN di Kubar Mengamuk Viral, Ternyata Ini Duduk Perkaranya

Tangkapan layar video oknum ASN di Kubar marah-marah. Sumber video akun FB @Erika Siluq. (18/1/2022).

KBRN, Sendawar : Video oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Kutai Barat marah sambil teriak-teriak viral di media sosial. 

Video berdurasi 1 menit 10 detik itu diunggah oleh akun Erika Siluq di sosial media Facebook, Selasa (18/1/2022) pagi.

Dalam video tersebut, ada seorang perempuan berbaju coklat khas PNS sambil marah-marah kepada lawan bicara yang duduk berhadapan dengannya.

Saking 'ngegas' suara wanita tersebut tidak bisa didengar dengan jelas kata-katanya. Sementara seorang pria berbaju hitam yang tengah duduk berhadapan nampak melontarkan beberapa pernyataan yang membuat wanita tersebut makin bersuara lantang.

Sedangkan beberapa pegawai nampak ikut menengahi namun tidak jelas apa yang dibicarakan.

Akun Erika Siluq saat mengunggah video tersebut di sosmed juga menyertakan tulisan menohok.

"Titip salam buat oknum ASN Kutai Barat, yang katanya paling berkuasa," tulis Erika lengkap dengan Nomor Induk Pegawai (NIP) wanita yang ada dalam video tersebut.

"Kami melihatmu, jika tidak terima anda tau harus cari kami di mana ya. Tolong bidang yang mengurus pembinaan etika dan disiplin pegawai, ini orang tolong diberikan pembinaan dan/atau hukuman," sambung caption video yang sudah dikomentari ratusan akun serta dibagikan puluhan kali tersebut.

Erika Siluq, warga Kubar yang mengunggah video oknum ASN marah-marah. Foto FB @Erika Siluq.

Erika Siluq yang juga ketua Umum Gerakan Pemuda Dayak (Gerdayak) Kalimantan Timur, sudah mengizinkan tulisannya dikutip media.

Ia mengklaim oknum ASN tersebut sering marah-marah kepada bawahan.

"Prilaku oknum itu memang tidak baik dari penelusuran kami dengan anak buah, suka bentak beteriak dan sewenang-wenang," beber wanita cantik asli Kutai Barat itu.

Dia juga mengkritisi perilaku ASN dalam video viral tersebut. Seharusnya menurut Erika, semua ASN tunduk pada peraturan perundang- undangan tentang disiplin pegawai, perilaku dan etika pelayan publik yang baik.

"Dimana mereka harus melakukan kinerja sesuai dengan peraturan pemerintah yang berkaitan dengan pelayanan publik yang baik. Satunya adalah ASN dalam jabatannya tidak melakukan kesewenang-wenangan, terhadap masyarakat yang dilayani maupun terhadap pimpinan dan anak buah," ujar Erika dalam keterangan singkat yang diterima RRI.

Erika menambah seharusnya ASN menjadi contoh tegaknya hukum dan etika yang baik. Bukan menunjukkan kekuasaan.

"Bagaimana menghargai hak asasi manusia di dalam dunia kerja. Termasuk dalam menjaga harkat dan martabat manusia sebagaimana ketentuan dalam hak asasi manusia. Setiap orang bebas dari penghinaan, perlakuan tidak baik, pemaksaan (sehingga) tidak mendapatkan hak yang baik," katanya.

Atas kejadian itu Erika meminta pimpinan pegawai yang bersangkutan bahkan Kepala Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan, Sekertaris Daerah sebagai pembina ASN hingga bupati Kubar untuk memberikan sanksi tegas.

"Segera menindaklanjuti temuan ini untuk diperiksa dan diberikan sanksi yang adil. Kemudian memberi edukasi menyeluruh kepada seluruh ASN dan tenaga honorer di lingkungan Pemkab Kubar sehingga pelayanan publik bisa lebih baik, lebih humanis dan lebih manusiawi," tandas wanita yang berprofesi sebagai notaris dan dosen tersebut.

Lantas apa yang membuat oknum ASN dalam video singkat itu 'mengamuk' ? Ini penelusuran RRI.

Dalam penelusuran RRI ternyata video yang viral tersebut terjadi di kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Kutai Barat.

Kepala Dispora Kubar Gamas Laden juga membenarkan Pegawai yang ada dalam video tersebut bekerja pada Dispora Kubar atas nama Eniyati, S.Sos, M.Si. Dia menjabat sebagai Kasubag Umum dan Kepegawaian.

"Ya memang saya akui masalah itu terjadi di dinas kami ini," kata Gamas Laden kepada wartawan di ruang kerjanya kantor Dispora komplek perkantoran Pemkab Kubar Selasa (18/1/2022) sore.

Gamas Laden meluruskan soal video yang sudah beredar luas di sosmed dan jadi perbincangan publik.

Menurutnya video tersebut sudah dipotong dan hanya menampilkan cuplikan saat Eniyati marah- marah dengan nada tinggi. Padahal kejadian sebenarnya tidak demikian. Penyebab pegawainya marah-marah juga tidak ditampilkan.

"Video yang diupload itu tidak penuh. Tau-taunya ibu itu mengamuk. Akhirnya orang menggiring cerita untuk kepentingan sang peng-upload," terang Laden saat mengklarifikasi kejadian tersebut.

Dia menduga video tersebut sengaja disebarkan hanya untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap pegawai yang bersangkutan.

Dan yang lebih mencengangkan ternyata video itu terjadi sudah 2 tahun lebih. Tepatnya bulan November tahun 2019. Namun baru diunggah ke sosial media 18 Januari 2022.

Cerita dibalik beredarnya video tersebut juga ada dua peristiwa yang berbeda.

Kronologi awalnya terjadi tahun 2019 sekitar bulan November.

Saat itu ada salah satu pegawai tenaga kerja kontrak (TKK) yang tidak masuk kerja akibat sakit sekitar 4 bulan. Saat pencairan uang makan, TKK perempuan itu protes lantaran uang makan yang dia terima kurang.

"Jadi TKK itu tugas di bagian umum mengalami kecelakaan sehingga tidak bisa turun kerja. Dalam aturan kepegawaian, khusus tentang uang makan, akan dibayarkan bilamana staf ini turun kerja dan isi absen," jelas Gamas Laden.

Meski begitu Laden mengaku pihak dinas tetap membayar penuh di bulan pertama karena kecelakaan terjadi pertengahan bulan. Ternyata sejak bulan kedua sampai bulan ke 4 TKK tersebut belum turun kerja karena belum sembuh.

Akhirnya Dinas tidak berani membayar uang makan karena takut jadi temuan.

Dikatakan, sesuai peraturan terbaru uang makan dibayar sesuai jumlah hari pegawai masuk kerja. Jika izin, cuti atau sakit maka uang bantuan konsumsi tersebut tidak akan dibayarkan.

"Berdasarkan itulah uang makan tidak dibayar," ucapnya.

Laden melanjutkan, TKK yang tidak mendapat uang makan itu justru meminta suaminya (pria berbaju hitam dalam video) mendatangi kantor Dispora untuk menanyakan perihal uang makan yang kurang.

Suami sang TKK lantas mendatangi kantor istrinya dan bertemu dengan staf bidang keuangan sambil ngomel-ngomel. Staf tersebut lantas mengajak bertemu dengan Eniyati yang menjabat bendahara.

Eniyati lantas memberikan penjelasan soal uang makan yang tidak dibayar tersebut. Namun suami TKK yang sudah pensiun dari PNS itu malah menuding pihak dinas kong-kalikong sampai tidak mau bayar uang makan istrinya.

"Begitu dijelaskan, bapak ini ngegas. Wah berarti kalian ini kongkalikong sambil menunjuk nunjukin muka ibu itu. Ya namanya ibu-ibu, dan dia tidak melakukan itu ditunjuk tunjuk mukanya, ya bapak bayangkan aja. Namanya ema-ema, ya terjadilah di dalam video begitu," ungkap Laden.

Mantan pejabat di kantor Inspektorat Kubar itu mengaku kejadian tahun 2019 itu sudah selesai dengan damai.

"Mereka sudah Damai tidak ada apa-apa lagi. Nah dengan munculnya video ini aneh bagi kami," imbuh dia.

BACA JUGA:

Kepala Dispora Kubar Duga Video PNS Mengamuk Sengaja Disebarkan TKK yang Tak Puas Diroling

Gamas Laden menduga kuat video tersebut sengaja disebarkan oleh satu TKK yang tidak puas karena dirolling ke bidang lain. Namun bukan orang yang sama tetapi TKK yang berbeda.

Ceritanya, pada Jumat (14/1/2022) dirinya sebagai kepala dinas melakukan mutasi 5 orang staf TKK ke bidang lain. Alasannya untuk keseimbangan organisasi. Apalagi ada pegawai TKK di bidang tertentu yang menumpuk namun ada bidang yang kekurangan pegawai.

Dia menilai mutasi pegawai atau staf adalah hal yang biasa. Meskipun pegawai yang bersangkutan adalah TKK, tetapi mereka dibayar dengan uang rakyat.

Belum lagi ada staf yang kerjanya tak jelas akibat kebanyakan pegawai. Dan perbandingan jumlah PNS dan TKK sangat jomplang. Dimana jumlah TKK sebanyak 93 orang, sedangkan PNS hanya 19 orang.

Bahkan instansi yang dipimpinnya menghabiskan dana hingga Rp 2 Miliar lebih per tahun untuk membayar 93 TKK.

 "Kalau begini (tidak mau dipindahkan) rugi rakyat ini bayar kalian. Kami ini (PNS) bayar pajak. Sekarang kalau PTT tidak sesuai jam kerja gaji dibayar dari uang rakyat juga kan. Berarti dia (TKK) yang tidak menghormati rakyat, bukan kami," tegasnya.

Gamas Laden menjabarkan, setelah SK baru keluar, 3 hari kemudian mulai terjadi kasak kusuk dan muncul nada-nada protes dari salah satu TKK yang dirolling.

"Kan hanya 5 yang bergeser. Yang 4 orang aman-aman aja. Satu aja yang agak protes," sebutnya.

Alasan TKK sedikit protes juga hanya persoalan sepele. Yaitu masalah meja kerja. Sebab di bidang yang baru dia belum mendapatkan meja. Dia lalu memaksa membawa meja dari tempat kerja di bidang yang lama ke bidang yang baru. Tetapi tidak diperbolehkan pegawai di bidang yang lama karena pasti akan diberikan meja oleh bagian umum dan perlengkapan.

"Begitu dia mau bawa meja itu keberatanlah yang lama, katanya jangan bawa karena itu aset dibidang ini. Kan ngga mungkin dia tidak dapat meja disana nanti," papar Laden 

"Disitulah mulai timbul mungkin rasa tidak puas. Saya dengar dia pulang ke rumah dia cerita sama saudara-saudaranya, akhirnya mem-blow up keluar (sebarkan video)," tukas Gamas.

BACA JUGA : 

TKK Dispora Kubar Bantah Sebarkan Video PNS Mengamuk dan Keberatan Disebut Protes Karena Diroling

Setelah Video itu viral, Gamas mengaku kaget. Karena masalah internal bisa keluar ke publik. Jadi intinya masalahnya tidak puas dengan perpindahan itu," sambungnya.

Dia mengaku segera memanggil para pihak untuk mencari solusi terbaik. Sementara terkait video yang diduga mengandung unsur pencemaran nama baik juga masih dalam pertimbangan dinas dan pegawai yang bersangkutan.

Mereka juga belum memikirkan untuk memperkarakan kasus itu ke ranah hukum.

"Secara internal kami sudah rapat. Tapi kita ini tetap manusia juga, artinya secara kepegawaian kita selesaikan kedalam dulu. Cuma kita dudukan perkara ini siapa yang membuat ini jadi besar. Itu akan kita urus kedalam. Tapi yang keluar itu kita ngga paham juga, karena lain juga orangnya lain juga masalahnya," tutur sang Kadis.

"Karena video itu di-blow up tapi masalahnya apa dulu. Coba video itu dari awal, itu baru sip," pungkasnya.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar