BPTP Kaltim Kembangkan Ayam KUB

KBRN, Samarinda: Salah satu upaya yang dikembangkan BPTP Kalimantan Timur saat ini adalah Pengembangan Ayam Kampung Unggul Balitbangtan yang dikenal dengan nama Ayam KUB.

Sebagaimana diketahui bahwa Ayam KUB-1 dan ayam Sensi-1 Agrinak dalam5 tahun terakhir secara nasional telah disebarkandengan sistem kerjasama antara Balitnak dengan paramitra perbanyakan bibit unggul, namun demikian sistemkemitraan ini belum bisa memenuhi permintaan dalamjumlah kecil di daerah yang tentunya memerlukanbiaya transportasi yang mahal, sehingga diperkenalkanmodel pengembangan terintegrasi skala kecil, penyediaanbibit ayam lokal unggul skala kecil di tingkat peternakkecil untuk melayani produsen peternak ayam kampungpotong skala kecil di daerah.

"Ada beberapa potensi dan peluang pengembangan ayam lokalini yaitu :merupakan komoditas utama setelah padi, tidak memerlukan modal besar, harga jual relatif stabil, dapat dijadikan usaha kecil sampai skala industri dan pemasaran relatif mudah, yang tentu dapat menciptakan peluang pendapatan harian dengan manajemenpemeliharaan yang benarserya produksi yang berkelanjutan," jelas Dr. Ludy K Kristianto, Peneliti di BPTP Kaltim melalui Obrolan Kiprah Indonesia Pro 1 RRI Samarinda.

Lebih lanjut Dr. Ludy menyebutkan ada beberapa keunggulan dan kelebihan Ayam KUB yaitu Ayam KUB adalah hasil seleksi ayam kampungSelama 6 generasi yang diarahkan untuk meningkatkan produksi telur. Mengurangi sifat mengeram seperti ayamkampung biasa yang bertelur 10-15 butir perinduk selama periode bertelur (2-3 minggu),kemudian mengeram 3 minggu, dan mengasuhanak 6-8 minggu.

Total periode bertelur 12-14 minggu, sehingga 1 tahunayam kampung bertelur 4-5 kali menghasilkan50-75 butir/thn. Ayam KUB juga mampu bertelur 160-180 butir/ekor/thn,dengan masa mengeram berkurang hingga 10%, sehinggaayam cepat bertelur kembali.

"Keunggulan lainnya ayam KUB terletak pada produksitelur yang lebih tinggi (130-180 butir/ekor/thn),umur pertama bertelur lebih awal (20-22 minggu),produksi telur (henday) 50%, puncak produksitelur 65%, dan lebih tahan terhadap penyakit," tutur Dr. Ludy K Kristianto, S.PT., MP.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00