Tidak Ada Penyakit Antraks dan Cacing Pita pada Hewan Kurban di Kubar

KBRN, Sendawar : Antraks atau penyakit menular yang disebabkan bakteri Bacillus Anthracis dan Cacing Pita merupakan dua jenis penyakit pada ternak Sapi yang berbahaya bagi manusia, jika ternak tersebut di konsumsi.

Maka itu, Dinas Pertanian Kabupaten Kutai Barat (Kubar) melakukan monitoring, sekaligus pemeriksaan langsung hewan kurban, pada perayaan Idul Adha 1441 Hijriah atau hari raya kurban tahun 2020, guna memberi rasa aman dan nyaman kepada umat muslim yang merayakannya.

“Sebelum hari raya kita sudah memeriksa dibanyak tempat, baik diperternak maupun pengurus masjid melalui pemeriksaan Ante-mortem. Jadi ternak itu layak apa tidak dijual,” Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kubar Sapriansyah kepada RRI Sendawar, minggu (2/8/2020).

“Kemudian di hari H idul adha sampai hari ke-dua kami juga monitor banyak tempat di Barong Tongkok sampai ke Melak dan beberapa tempat lain melalui pemeriksaan post-mortem, itu dokter hewan memeriksa bagian dalam atau hati dari sapi kurban,”lanjutnya

Pemeriksaan sebelum dan pada saat pemotongan hewan kurban ini, tambah Sapriansyah, perlu dilakukan sebagai langkah antisipasi sekaligus memastikan daging kurban tersebut benar-benar layak dikonsumsi oleh manusia, mengingat adanya potensi penularan penyakit antraks dan cacing pita.

Dokter Hewan Dinas Pertanian Kutai Barat saat Melakukan Pemeriksaan Post-Mortem Pada Hati Sapi yang di Jadikan Hewan Kurban pada Hari Raya Idul Adha 1441 H

“Jadi ante-mortem itu kita memastika ternak yang dikurbankan itu benar-bernar layak, kalau matanya cacat, tubuhnya cacatkan tidak boleh, terus minimal jantannya berusia dua tahun. Kemudian kalau post-mortem itu, kita lihat hatinya, ada tidak cacing pita, jika ada hati tersebut tidak boleh dikonsumsi. Kenapa demikian ?, itukan cacing hati, terbungkus kapsul, mau direbus berapa drajat-pun tidak akan mati. Nah kalau kita konsumsi tentu berbahaya bagi kesehatan,”tambahnya

Sapriansyah memastikan, baik sebelum maupun pada hari raya Idul Adha di Kabupaten Kutai Barat, seluruh ternak sapi yang dijadikan hewan kurban dalam kondisi baik, sehat dan layak di konsumsi.

“Jadi selama dua hari kami lakukan pemeriksaan saat pemotongan hewan kurban, kondisi sapinya sehat. Karena lenbih banyak sapi lokal kita di Kubar, walaupun ada yang dari luar tapi dia sudah lama dibesarkan di Kubar. Jadi secara keseluruhan hewan kurban tahun ini dalam kondisi aman, sehat dan layak di konsumsi,”pungkasnya

Kendati demikian, Ia berharap hal ini tetap menjadi perhatian masyarakat, mengingat idul adha merupakan hari raya keagamaan yang rutin dilaksanakan oleh umat muslin di seluruh dunia setiap tahun, tidak terkecuali di Kabupaten Kutai Barat.

Mengetahui, ciri-ciri hewan yang layak dijadikan kurban yakni, jantan, sapi umur 2-3 tahun, kambing umur 1 tahun, badan proporsional, jumlah testis dua, tidak cacat, hidung basah (tidak berair), anus/lubang kumlah bersih.

Sedangkan ciri-ciri sapi yang terkena Antraks yakni, pada bagian leher sapi terlihat bengkak, kemudian pada bagian anus sapi, terdapat luka dan mengeluarkan darah. Penyakit Antraks ini sendiri dapat menular pada manusia.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00