Badan Karantina Pertanian Balikpapan Koordinasi dengan Berbagai Instansi Mencegah Wabah PMK

KBRN, Samarinda: Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) baru-baru ini kembali menyerang hewan ternak di sejumlah wilayah di Indonesia. Bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, penyakit PMK pada ternak ini juga pernah terjadi di Indonesia, tepatnya pada 1887. 

Saat itu, Pemerintah Indonesia membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk membebaskan PMK dari Indonesia. Hingga akhirnya Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (OIE) akhirnya menyatakan bahwa Indonesia bebas PMK pada 1990.

Kasus ini kembali muncul setelah Indonesia dinyatakan bebas PMK lebih dari tiga dekade lalu. Kasus pertama kali yang muncul kembali ini, ditemukan di Gresik, Jawa Timur dan beberapa kabupaten lainnya di Jawa Timur pada Kamis (28/4/2022). Kasus tersebut diikuti oleh laporan kasus PMK di sejumlah daerah, seperti Semarang, Lombok, hingga Aceh.

Demi melindungi peternakan di daerah Kalimantan Timur, Badan Karantina Pertanian Balikpapan melakukan langkah menghadapi wabah PMK dengan melakukan koordinasi ke berbagai instansi untuk mencegah masuknya wabah tersebut.

Dilansir dari laman balikpapan.karantina.pertanian.go.id, berdasarkan Surat Edaran Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor 12950 Tahun 2022 tentang Peningkatan Kewaspadaan terhadap Kejadian Penyakit Mulut dan Kuku, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) adalah penyakit hewan menular akut yang disebabkan oleh virus RNA (Picornaviridae, Apthovirus) menyerang ternak sapi, kerbau, kambing, domba, kuda dan babi dengan tingkat penularan sangat cepat dan menimbulkan dampak kerugian ekonomi sangat tinggi.

“Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi dari Karantina Pertanian Balikpapan yakni mencegah masuk, keluar dan tersebarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK), maka dari itu penting bagi kami untuk melakukan pencegahan masuknya PMK ke Kaltim. Sebagai langkah pertama, kami berkoordinasi dengan berbagai instansi terkait agar bersama-sama mencegah PMK masuk ke wilayah Kaltim”, ujar Akhmad Alfaraby, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Karantina Pertanian Balikpapan.

Menurutnya, pelabuhan Semayang, sebagai pelabuhan domestik terbesar di Balikpapan yang tidak hanya melayani lalu lintas penumpang, namun juga barang, tentunya menjadi tempat pertama yang  didatangi untuk berkoordinasi. Di Pelabuhan Semayang, Badan Karantina Pertanian Balikpapan mendatangi Kapolsek Semayang, PT. Pelindo, dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Balikpapan.

Karantina Pertanian Balikpapan siap menjaga wilayah Kaltim dari ancaman PMK demi melindungi peternakan, pangan, dan konsumen daging di Benua Etam Kalimantan Timur.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar