Dampak Buruk Anak Keseringan Main Game

KBRN,Samarida: Ada banyak penelitian tentang efek main game pada perkembangan anak-anak. Beberapa penelitian memang menunjukkan hasil yang positif tapi banyak juga penelitian yang menunjukkan sebaliknya. Peneliti berargumen bahwa terlepas si kecil main di konsol game portabel, laptop, tablet, atau smartphone, keseringan main game pada dasarnya akan memberikan dampak buruk bagi tumbuh kembang anak di kemudian hari.

Dilansir dari laman hellosehat.co, berikut beberapa dampak buruk yang bisa dialami anak apabila mereka keseringan main game:

1. Gangguan kesehatan

Keseringan main game ternyata bisa memicu berbagai penyakit kronis. Tanpa di sadari, bermain game masuk ke dalam salah satu gaya hidup sedentari karena hal tersebut membuat malas untuk bergerak.

Jika kebiasaan ini dilakukan terus-terus, maka akan ada resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit obesitas, melemahnya otot dan persendiaan, dan bahkan penurunan penglihatan yang signifikan karena paparan cahaya biru dari layar gadget.

Namun juga lebih berisiko mengalami lebih banyak masalah kesehatan jika kebiasaan buruk ini disertai dengan pola makan yang buruk, Boleh mungkin tak akan merasakan langsung risiko dari gaya hidup sedentari. Biasanya, dampak dari kebiasaan buruk ini baru mulai terasa bertahun-tahun setelah  terbiasa menjalani rutinitas tersebut.

2. Penurunan prestasi akademik di sekolah

Keseruan yang ditawarkan saat bermain game sangat jauh berbeda dengan hari-hari yang dilalui anak ketika menuntut ilmu di sekolah. Ya, jika di sekolah umumnya anak-anak merasa bosan dan tertekan, lain halnya ketika mere8ka bermain game.

Apabila anak sudah dalam tahap kecanduan game, mereka akan melakukan segala cara untuk bisa bermain game. Akibatnya, banyak anak yang tidak fokus ketika menyerap pelajaran di kelas, malas belajar, hingga berani bolos sekolah. Berbagai hal tersebut berujung pada penurunan prestasi akademik anak di sekolah.

3. Menarik diri dari kehidupan sosial

Anak yang sudah kecanduan game cenderung lebih senang menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk menuntaskan misi game yang sedang dimainkannya. Hal ini tentu akan berdampak buruk pada kehidupan sosial anak kelak. Pasalnya, anak lebih memilih untuk berinteraksi secara digital ketimbang di dunia nyata. Dalam istilah psikologi kondisi ini disebut dengan asosial.

Asosial adalah disfungsi kepribadian yang ditandai dengan menarik diri dan menghindar secara sukarela terhadap interaksi sosial apapun. Orang yang asosial cenderung tidak mempedulikan orang lain dan sibuk dengan Dunianya sendiri.

4. Berperilaku agresif

Konten kekerasan yang banyak disuguhkan video game dapat menyebabkan anak-anak menjadi tidak sabaran dan berperilaku agresif dalam kehidupan sehari-harinya. Mereka akan lebih sering marah-marah dan mudah tersinggung ketika dilarang atau diminta berhenti bermain game.

Hilangnya kendali diri ini membuat anak cenderung menomorsatukan gaming dalam hidupnya. Akibatnya, anak akan melakukan berbagai cara untuk dapat menuntaskan hasrat akan candunya, tak peduli atas konsekuensi dan risikonya. Termasuk berperilaku agresif ke orang lain.

5. Gangguan mental

Kecanduan game ditandai ketika anak sudah tidak mampu lagi untuk mengendalikan hasrat bermain game. Akibatnya, anak memiliki keinginan untuk terus-terusan main game.

Kabar buruknya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) berencana memasukkan kecanduan game sebagai salah satu kategori gangguan jiwa baru yang disebut gaming disorder. Hal ini didasari atas fenomena peningkatan kasus kecanduan game dari berbagai belahan dunia, ditandai ketika anak sudah tidak mampu lagi untuk mengendalikan hasrat bermain game. Akibatnya, anak memiliki keinginan untuk terus-terusan main game.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar