Lestarikan Warisan Leluhur melalui Bisnis Seni Ukir

KBRN, Sendawar : Momon merupakan salah satu warga pendatang yang menekuni usaha seni ukir di Pulau Kalimantan, menjadi seorang karyawan sejak tahun 2004 dan baru menetap sekaligus membangun usaha sendiri di Kabupaten Kutai Barat (Kubar) pada tahun 2019 lalu.

Ia mengku, untuk memulai usahanya memang tidak mudah, karena membutuhkan modal yang cukup besar, hingga ratusan juta rupiah. Apalagi di Kutai Barat, Momon belum memiliki tempat sendiri, bahkan hingga kini masih menyewa lahan masyarakat setempat untuk menjalani usaha tersebut.

Meski demikian, warga asal Jepara, Jawa Tengah itu tidak pantang menyerah, karena alasan utamanya membangun bisnis ini adalah untuk melestarikan seni ukir yang ada di Pulau Borneo. Sebuah niat yang patut diapresiasi oleh masyarakat Kalimantan, dan sudah banyak karya seni motif dayak yang dihasilkan oleh tangan kreatifnya.

“Saya masuk di Kalimantan ini tahun 2004. Itu saya datang ke-Samarinda ketemu sama orang-orang pengrajin atau pemahat disini, saya belajar gimana sih motif khas kalimantan, ada motif Bahau, Kenyah, Modang, Oheng, Benuaq, Tunjung dan lainnya. Itu sudah saya pelajari semua,”Katanya kepada RRI di Kubar, Senin (28/9/2020).

“Jadi kalau dengan motif Jawa memang beda sih, kalau motif sinikan tidak banyak ngeruk dan lainnya. Nah kalau motif Jawa banyak ngeruk dan lainnya, contohnya ukiran mawar, itukan memang betul-betul harus seperti mawar. Tapi, walau begitu dia sama-sama rumit kerjaannya,”lanjut Momon.

Karena kreatifitasnya tersebut, tidak jarang Momon harus keluar daerah untuk memenuhi permintaan pelanggan, bahkan sudah ada karya seninya yang terjual sampai ke Negeri Jiran.

“Jadi orang luar yang sudah mesan itu ada dari Bontang, Pontianak, di Malaysia juga ukiran saya ada disana. Memang saya disini itu mengembangkan ukiran Kalimantan mas, ukiran jawa saya kurangi, tapi kalau ada yang mesan juga tetap saya layani. Cuma disini kebanyakan ukiran orang Kalimantan,”tambahnya

Ia menegaskan, tidak menutup mata bagi masyarakat lokal yang ingin datang berbagi pengetahuan mengenai seni ukir dilokasi usahanya, daerah Kampung Ngenyan Asa Kecamatan Barong Tongkok.

Untuk diketahui, karya seni ukir yang dihasilkan Momon, dituangkan diberbagai furniture atau perlengkapan rumah, seperti meja, kursi, dan lemari. Termasuk tempat tidur, Pintu, Jendela, hingga gazebo dan masih banyak lainnya, dalam artian menerima pesanan tergantung keinginan pelanggan.

Dari segi harga, untuk bahan ulin diantanya Kursi kisaran Rp3-5 juta, kemudian Lemari Rp7-21 juta, Meja Makan Rp12 juta, Meja Tamu satu set Rp35juta, Gazebo Rp25-45 juta, Ranjang kisaran Rp9 juta, Daun Pintu Rp3,5 – 7 juta dan Batur Nisan Rp4-5 juta.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00