Pandemi Covid-19, Banyak Masyarakat Enggan ke Salon

KBRN, Sendawar: Salon merupakan jenis usaha mikro, kecil, dan menengah yang juga terdampak pandemi Covid-19. Salah satunya karena banyak Masyarakat yang enggan untuk memangkas rambut menggunakan jasa dibidang usaha kreatif itu, karena khawatir akan terpapar virus jenis baru tersebut.

Hal itu, seperti diungkapkan Muhammad Akbar, karyawan Salon “Abel” di Kecamatan Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur (Kaltim). Dimana, dampak Pandemi ini sangat terasa akibat sepinya pelanggan, baik dari sisi jasa pangkas rambut, rias pengantin hingga dekorasi gedung, sehingga berdampak pula pada penghasilan.

Waria yang biasa disapa Abel itu menyebutkan, sebelum pandemi covid-19 ini bisa mendapat pemasukan hingga Rp500.000/hari, hanya untuk jasa pangkas rambut. Namun kurang lebih lima bulan terakhir, kondisinya jauh berbeda, hanya bisa mendapat pemasukan kisaran Rp100.000-Rp150.000/hari. Itupun dibagi tiga antara pemilik usaha, kebutuhan salon dan dirisinya sendiri sebagai karyawan.

“Kalau untuk yang punya usahanya mungkin mereka masih ada nafas, Tapi kalau sama karyawan dampaknya terasa betul. Misalnya sehari kami dapat Rp100 ribu, kan dibagi tiga lagi. Nah dari pembagian itu kita cuma dapat Rp33 ribu, sisanya untuk bos sama bahan di salon,”sebutnya kepada RRI Sendawar, Selasa (7/7/2020).

Pelayanan Pangkas Rambut oleh Pelaku Usaha Salon di Kubar tetap Mengutamakan Protokol Kesehatan

Beruntung, tambah Abel, di Kutai Barat sudah terbentuk komunitas Waria yang dimanakan Kerukunan Waria Kutai Barat (KWKB), sebagai wadah untuk saling berbagi, mencari solusi bersama teman-teman seprofesinya, sehingga setiap permasalahan yang dihadapi bisa diatasi.

Hal itu dibenarkan, Ketua Kerukunan Waria Kutai Barat Ekhy Makmun, dimana setiap waria yang tergabung dalam komunitas tersebut saling memberi support, demi menutupi kekurangan satu dengan lainnya, terutama untuk bertahan ditengah Pandemi Covid-19.

“Hampir semua waria yang tergabung dalam KWKB ini memiliki profesinya sama, jadi kami saling memberi support, saling berbagi pekerjaan-lah, siapa yang punya job kita bagi. Jadi semua dapat, semua merasakan dan semua bisa hidup, gitu,”tandasnya.

Kebetulan seluruh anggota KWKB ini, lanjut Ekhy, cukup trampil, sehingga dalam situasi sesulit apapun, termasuk ditengah kondisi ekonomi yang melemah akibat Pandemi seperti sekarang ini, mereka tetap bisa eksis bertahan.

Pekerjaan Rias Pengantin Mulai Dirasakan Pelaku Usaha Salon di Kutai Barat Sejak Satu Bulan Terakhir

“Ditengah pandemi beginikan kita memang tidak ada kegiatan sebenarnya, jadi untuk bertahan hidup ya harus benar-benar pintar mensiasatinya. Sehingga keterimapilan itu sangat diperlukan, contohnya saya cuma bisa bikin kue, jualan kue, jualan makanan-makanan jadi, gitu,”lanjut Ekhy.

Disinggung mengenai kekhawatiran masyarakat memangkas rambut ke-salon ditengah pandemi ini. Pemilik "Ekhy Salon & Bridal” itu berani mengklaim bahwa, Ia bersama seluruh anggota komunitasnya tetap mengutamakan protokol kesehatan dalam melayani pelanggan.

“Misalnya menerima pasien, pasiennya wajib pakai masker, harus cuci tangan sebelum masuk salon, disemprot pakai disinfektan. Kami yang bekerja juga seperti itu, pakai masker, sarung tangan, alat kami selalu disemprot pakai alkohol. Jadi, saya berani menjamin potong rambut ke-salon saya ditengah pandemi ini, insya allah aman,”pungkasnya.

Saat ini menurut Ekhy, bukan keuntungan yang dicari, namun bagaimana menjamin keamanan bagi sesama, baik kepada masyarakat maupun pelaku usaha kreatif tersebut, agar terhindar dari penularan covid-19.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00