Kalahkan Gengsi Demi Potensi, Tiber Manfaatkan Pekarangan Rumah untuk Tanam Cabai

KBRN, Sendawar : Tiberius Jair merupakan salah satu pemuda asli Kutai Barat (Kubar) yang kini bergelut di bidang pertanian dengan bercocok tanam cabai menggunakan polybag di pekarangan rumahnya, Kampung Engkuni Pasek, Kecamatan Barong Tongkok Kubar, Kalimantan Timur.

Usaha ini sudah diteknuninya kurang lebih delapan bulan terakhir, dengan modal minim. Tiberius hanya mengandalkan kemauan keras atau bermodalkan otot dan otak untuk memanfaatkan potensi yang ada.

Tidak hanya itu, ternyata pria yang kerap disapa Tiber itu lulusan Sarjana Seni Jurusan Film dengan jurusan Film Dokumenter Budaya dari Institute Seni Indonesia Yogyakarta 2018. Sangat bertolak belakang dengan profesi yang dijalaninya saat ini, tapi benar terjadi dan dia sangat menikmatinya.

Setelah digali lebih dalam, Tiber akhirnya mengaku, bahwa profesi yang digelutinya sekarang ini karena melihat potensi yang sangat menjanjikan di Kutai Barat. Kini ia sudah menanam kurang lebih 1.500 pohon cabai dan 350 di antaranya sudah siap panen dengan perkiraan hasil 32 kilogram sekali panen.

“Sebagai warga lokal sebenarnya kita sudah menang dari sisi modal. Kita tidak perlu seperti saudara-saudara kita yang datang dari mana-mana, bukan penduduk lokal harus meminjam atau bahkan menyewa lahan hingga Rp 30 juta per tahun. Nah, kita sebagai warga lokal tidak perlu menyewa tanah, ibarat kata sudah menang modal Rp 30 juta, tinggal bagaimana mengelola itu,” ungkap Tiber kepada RRI, Rabu (29/1/2020).

“Seperti saya yang kurang beruntung dari segi modal, saya selalu mengambil contoh dari bapak saya. Dia mengatakan, jika kamu kurang beruntung dari segi modal uang, setidaknya kita punya modal otak dan otot. Itu lebih berharga daripada modal duit, maksimalkanlah itu semua. Itulah yang saya terapkan saat ini, ibaratnya saya hanya modal nekat, memaksimalkan apa yang saya punya, apa yang keluarga kami miliki, dan sekarang sudah ada 350 pohon cabai saya yang sudah siap panen, dengan hasil 32 kilogram sekali panen,” tambahnya.

Menggeluti usaha pertanian menurut pemuda ini merupakan profesi yang keren, yakni sesuai tujuannya untuk membangun peradaban, membangun kembali budaya leluhur, memanfaatkan dunia pertanian untuk bertahan hidup.

"Saya sempat kerja di Perkantoran Bupati Kutai Barat, tapi tidak lama. Karena begini, di sela saya bekerja, saya berpikir, saya belajar sesuatu yang baru tapi hati tidak menyukai. Nah, bagaimana kalau saya belajar hal baru yang saya suka? Akhirnya saya putuskan keluar dan memilih profesi ini," ujarnya.

Tiber lanjut menuturkan, gaji pertama pekerjaannya kala itu tidak diambilnya sebagai konsekuensi untuk berhenti. Namun semua itu tidak masalah buatnya, karena semua keputusan sudah bulat, berasal dari hati yang paling dalam.

"Kalau misalnya kita bilang kerja sesuai pendidikan, kerja berseragam, kerja di ruangan yang bagus itu bisa dianggap keren, saya bisa pastikan bekerja seperti saya yang tujuannya adalah membangun peradaban, bagaimana manusia bertahan hidup, itu lebih keren, membangun kampung sendiri itu lebih keren,” kata dia bersemangat.

Tiber mengutarakan, untuk memulai usaha pertanian memang butuh modal, namun demikian modal materi bukanlah segalanya. Oleh karena itu, satu yang disadarinya adalah bagaimana mengalahkan gengsi di dalam diri seorang muda seperti dirinya.

Maka itu, diputuskannya untuk melawan gengsi sebagai anak muda berpendidikan tinggi dengan bergerak maju, melupakan semuanya, semua kenikmatan yang sebenarnya tidak datang dari dalam hati. Hingga bisa mendedikasikan seluruh pendidikan dan pengalaman yang selama ini didapatkannya untuk memanfatkan potensi yang ada di Bumi Tanah Purai Ngerimaan.

“Kita harus sadar dengan potensi. Seperti yang saya lihat sendiri, ternyata masih banyak lahan-lahan kosong yang isinya rumput, padahal bukan peternak sapi. Jadi harus sadar potensi dan tidak hanya dari sektor pertanian, masih banyak sektor lainnya. Jadi kita sebagai anak muda yang memiliki pemikiran yang masih fresh, tenaga yang masih segar, setidaknya kita bisa melakukan sesuatu, bergerak mengelola potensi tersebut. Lupakan gengsi, kita tidak bakal bisa hidup, tidak bisa berkembang kalau kita gengsi karena jika memelihara yang seperti itu (gengsi), dipastikan anak-anak muda akan tertinggal dari dunia," ucapnya.

Tiber sadar, profit atau pendapatan bersih mengelola pertanian memang tidak sebesar menjual lahan. Namun dengan bertani, menurutnya bisa menjadi jaminan untuk bertahan hidup, bahkan bisa mendatangkan keuntungan dari segi ekonomi jika ditekuni dengan baik. Apalagi potensi pertanian di Kutai Barat ini sangat didukung dari segi pemasarannya.

Perlu diketahui, ternyata Tiber bukan baru sekali ini saja hendak panen cabai hasil tanam di polybag. Sejak delapan bulan terakhir, ia sudah beberapa kali panen dan mulai merasakan hasil kerja kerasnya selama ini.

Cabai hasil produksinya rutin menghasilkan 32 kilogram setiap panen. Ia lantas menjualnya seharga Rp 50 ribu per kilogram. Dari dua kali panen, Tiber bisa mendapat menghasilkan Rp 3.200.000/bulan.

"Ini baru awal. Masih bisa lebih besar lagi. Tapi intinya, ini memang tidak membuat kaya mendadak, tapi hasil ini memberi kehidupan buat saya," tutupnya.

Kalau begitu, sukses selalu Tiberius...Andaikan ada sepuluh orang seperti Anda, Kalimantan Timur bukan saja menjadi Ibu Kota Negara yang maju, akan tetapi juga sebagai sebuah wilayah dengan peradaban leluhur sebagai petani.

Reaksi anda terhadap berita ini :

00:00:00 / 00:00:00