Elpiji 3 Kg Langka, ini Tanggapan Dinas Perdagangan Kubar

KBRN, Sendawar : Masyarakat kabupaten Kutai Barat (Kubar) Provinsi Kaltim keluhkan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram dalam beberapa hari terakhir. Pasalnya hampir di semua agen maupun pangkalan dan pengecer mengalami kekosongan.

“Dari pagi tadi saya cari di pasar Jaras, pasar Barong sampai di Agen resmi juga nda ada yang 3 kilo. Ada cuma yang 5 kilo sama 12 kg. Mau beli yang 5 kilo nda tahan mas, harganya Rp 350.000-400.000/tabung,” ungkap Anto salah satu konsumen asal kelurahan Simpang Raya Kecamatan Barong Tongkok, Kubar Jumad (22/11/2019).

“Dari kemarin cari-cari yang 3 kilo kosong semua. Terpaksa ya kita beli aja yang 5,5 kilo. Gimana nda langka orang pegawai negeri, orang tambang mau juga cari 3 kilo. Maka kita tanya yang 3 kg sekarang udah mau Rp 40.000/tabung,” tambah Yanti warga Kelurahan Barong Tongkok.

Pantauan RRI pada sejumlah pangkalan dan pengecer di wilayah ibu kota Sendawar juga hanya menemukan tabung kosong tanpa gas.

“Kosong sekarang gasnya mas. Baru datang langsung habis. Bukan baru sekarang, udah hampir sebulan gas 3 kg itu selalu susah,” ungkap pemilik kios dan pengecer elpiji Andi Baso di Jl. Awang Long Senopati RT.08 Kelurahan Barong Tongkok.

Sementara penelusuran RRI di PT.Mutiara Mahakam Abadi salah satu agen elpiji di Kelurahan Simpang Raya juga tidak ada satupun tabung gas 3 kg. Yang ada hanya ukuran 5,5 dan 12 kg.

Pimpinan agen, Corry Elisabeth mengaku perusahaannya tiap bulan mendapat kuota dari PT.Pertamina antara 40.000-44.000 tabung elpiji 3 kg. Meski demikian kuota yang diberikan juga fluktuatif.

“Kita maksimal dapat 44.000 tabung, tergantung jumlah hari kerja. Kadang cuma 39.000,” katanya.

Soal distribusi kata Corry tidak masalah khususnya dari Samarinda. Hanya saja kemungkinan ada permainan di tingkat sub agen atau pangkalan yang mengakibatkan kelangkaan.

“Tentunya sebagai agen kita selalu ikuti penugasan dari PT.Pertamina. Sebagai perpanjangan tangan Pertamina kita mengangkat lagi yang namanya pangkalan supaya bisa disalurkan ke seluruh kampung-kampung. Kami sendiri ada sekitar 42 pangkalan atau sub agen,” kata Corry.

“Untuk memastikan penerima elpiji ini sampai ke masyarakat kurang mampu kami sudah buat log book yang diisi oleh pangkalan setiap bulan,” lanjutnya.

Corry justru heran terjadi kelangkaan, sebab kuota yang disalurkan selalu diatas 30 ribu tabung. Itu belum terhitung dua agen resmi lainnya. Dia menduga ada pembengkakan konsumen sehingga gas subsidi itu cepat habis.

“Terus terang agak bingung juga ada kelangkaan. Karena yang dialokasikan Pertamina sama aja tiap bulan. Makanya kita agak heran, kita ngga tau penduduknya sama atau tidak. Artinya kita bekerja sama dengan teman-teman agen lain. Sejauh ini kami sudah berusaha maksimal untuk mendistribusikan kuota yang kami punya,” ujar Corry.

Sementara soal harga jual pemilik Hotel Loveta itu mengaku kerap berbeda-beda antar kecamatan. Bahkan ada pengecer yang menjual dua kali lipat dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah yakni Rp 23.000/tabung.

“Saya agak kaget dengan harga di lapangan. Informasi dari teman-teman pangkalan itu ada masyarakat yang kita jadikan mitra atau pengecer kadang mereka menjual lagi ke pengecer selanjutnya. Sepertinya yang kami lihat ada tangan ke tiga, ke empat yang menjual ulang sehingga jatuhnya ke masyarakat jadinya tinggi sekali,” beber Corry Elisabeth.

Atas kondisi itu dia menyarankan masyarakat membeli langsung ke pangkalan resmi serta ikut mengawasi penyalurannya di lapangan.

Terpisah salah satu pengelolah pangkalan gas elpiji di kecamatan Long Iram Nur Hadi mengaku, gas 3 kg selalu jadi buruan masyarakat. Ironinya banyak warga mampu juga membeli gas yang seharusnya hanya diperuntukan bagi penduduk miskin tersebut.

“Sebenarnya kita sosialisasikan terus, gas 12 kilo untuk siapa yang 3 kg untuk siapa itu sudah sering kita sampaikan ke pembeli. Cuma masyarakat itu kadang-kadang ada yang legowo karena memang dia mengerti, tapi ada yang tidak. Kadang-kadang masih mntal juga kita sampaikan seperti itu,” ujarnya.

“Kaya yang 3 kilo kan sudah jelas-jelas untuk orang miskin tapi nyatanya yang mampu juga masih ngerasi mau beli yang itu. Jadi kadang-kadang memang faktanya di lapangan kita susah untuk menerapkan yang kaya itu,” beber Nur Hadi.

Ia berharap pemerintah dan aparat penegak hukum mengawasi peredaran di lapangan agar tepat sasaran.

Menanggapi hal itu kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menegah (Disdagkop-UKM) Kutai Barat Ambros Ndopo menjelaskan di wilayah Kubar ada 3 agen yang di tunjuk pertamina.

“Tiga agen ini yaitu Angrek Kersik Luwai, gudangnya di Melak. Kedua Citra Rama Vasya dan ke tiga Mutiara Mahakam Abadi di Barong. Kuota masing-masing mereka 40 ribu tabung minimal harus masuk ke Kubar tiap bulan,” jelasnya.

Namun dari tiga agen tersebut hanya dua yang lancar melakukan pengambilan di Samarinda yakni PT.Mutiara Mahakam Abadi dan PT.Citra Rama Vasya. Sedangkan PT. Anggrek Kersik Luwai kerap tidak aktif.

Tersendatnya distribusi gas itu ujar Ambros mengakibatkan kelangkaan di wilayah Kutai Barat. Kemudian adanya pemotongan kuota baik dari PT.Pertamina maupun dari agen sendiri sehingga tidak semua gas subsidi pemerintah itu masuk ke Kutai Barat. Sementara konsumen terus bertambah.

“Dari hasil pantauan di lapangan sejak 21 November di dua agen resmi yaitu PT.Mutiara Mahakam Abadi dan PT.Citra Rama Vasya ditemukan bahwa kelangkaan gas 3 kg terjadi karena dari kuota dua agen itu tidak semuanya masuk ke Kutai Barat. Faktor lain karena agen Kersik Luwai juga tidak tersalur dengan baik,” tulis Ambros dalam berita acara hasil pemantauan lapangan.

Ia mengaku dari informasi yang didapatkan dari Hendra, pemilik agen PT.Mutiara Mahakam Abadi menyebutkan dari kuota 40.000 tabung harus dibagi lagi untuk 2 daerah yakni Kecamatan Muara Pahu dan Bentian Besar karena adanya pemekaran pangkalan.

“Dua sub agen PT. Mutiara Mahakam Abadi itu masing-masing mendapat 200 tabung gas 3 kg,” rincinya.

Selain itu lanjut Ambros pemotongan kuota terjadi paling banyak di  PT.Citra Rama Vasya. Yakni dari alokasi 40.000 tabung yang masuk Kutai Barat hanya 11.000 tabung.

“Semua tidak masuk ke Kubar dengan baik. Hanya untuk tiga kecamatan meliputi Barong Tongkok, Melak dan Sekolaq Darat,” lanjut Ambros.

Disisi lain perjalanan dari Samarinda ke Kubar memakan waktu antara 8-10 jam. Belum lagi saat pengisian kerap bersamaan dengan agen dari daerah lain sehingga makin lambat tiba di Kubar.

“Jadwal susah pada hari Jumad dan Sabtu mobil belum datang dari Samarinda,” katanya.

Ndopo mengaku akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian guna mengawasi penyaluran gas subsidi itu.

“Bila ada yang nakal, maka tugas polisi untuk bertindak bukan Disdakop,” tegas Ambros Ndopo.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00