FOKUS: #PPKM MIKRO

Lihat Vino Hidup Sebatang Kara, Warga Kubar: Pedih Hati Saya Melihatnya

KBRN, Sendawar : Simpati masyarakat terus mengalir untuk Alviano Dafa Raharjo. Bocah 9 tahun asal Kampung Linggang Purworejo Kecamatan Tering Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kaltim yang kini hidup sebatang kara.

Pasalnya Vino sapaan akrabnya harus menerima kenyataan pahit usai kedua orang tuanya meninggal akibat terpapar covid-19. Bahkan ayah dan ibu Vino meninggal di waktu yang hampir bersamaan.

Ibunya Lina Safitri (31) meninggal tanggal 19 Juli 2021 setelah menjalani perawatan di RSUD Harapan Insan Sendawar, Kutai Barat. Selang sehari tanggal 20 Juli bertepatan dengan perayaan Idul Adha ayahnya Vino, Kino Raharjo (31) juga meninggal karena terserang virus corona.

Sementara Vino sendiri juga terkonfirmasi positif dan harus menjalani isolasi mandiri di rumah. Saat kedua orang tuanya meninggal Vino pun tak sempat melihat untuk terakhir kalinya.

“Awalnya itu dia nanya kenapa kok mama itu cepat betul pergi. Terus hari berikut bapaknya meninggal dia (pasrah) nda nanya apa-apa,” ujar Toni, salah satu kerabat yang ditemui RRI di rumah duka Kamis (22/7/2021).

“Memang setelah orang tua meninggal itu dia sempat murung, setelah itu Alhamdulillah sehat, ceria aja. Kegiatan dia dalam rumahnya ya mainan aja, nonton Youtube untuk sementara ini hiburan dia HP gitu aja,” sambung Toni yang mengaku sebagai kakak angkat Vino.

BACA JUGA: 

Menyedihkan, Orang Tua Meninggal Karena Covid, Bocah 9 Tahun Jadi Yatim Piatu

Rumah orangtua Vino di RT 04 Kampung Purworejo Kecamatan Tering.

Keluarga maupun tetangga juga tak bisa berbuat banyak, sebab mereka hanya bisa menunggu depan teras rumah. Sementara bocah malang itu hanya sesekali duduk di depan pintu sambil bermain hand phon.

“Kalau untuk makan ada paklenya, omnya kita siapkan. Apa yang dia mau kita belikan. Untuk cucian kita pantau dari kejauhan. Dia cuci sendiri karena kita dilarang untuk bersentuhan atau kontak fisik dengan dia,” sebut Toni.

Bocah lelaki yang masih duduk di bangku SD Kelas 3 itu tidak hanya kehilangan orangtuanya namun juga calon adiknya. Sebab sang ibu meninggal dalam keadaan tengah hamil anak kedua dengan usia kandungan 6 bulan. Alhasil Vino kini jadi yatim piatu.

Berita soal bocah malang sebatang kara ini mulai tersebar di sosial media lokal maupun nasional sejak orangtuanya meninggal.

Simpati publikpun terus mengalir. Dalam dua hari terakhir rumah Vino di RT 04 Kampung Linggang Purworejo selalu didatangi masyarakat dari berbagai kalangan. Mereka menyalurkan bantuan baik dalam bentuk makanan, sembako, vitamin, pakaian hingga uang tunai.

“Bantuan banyak sih, kita dapat dari pemerintah dari bupati, dari Polres, kita nda bisa nyebut satu-satu. Banyak orang baik yang memperhatikan adik Vino,” ungkap Toni dan kerabat almarhum sembari mengucapkan terima kasih untuk masyarakat.

Alviano Dafa Raharjo sambil bermain HP sendiri dalam rumah.

Saat RRI berkunjung ke rumah duka Kamis siang, nampak beberapa rombongan baik pribadi maupun komunitas ikut menyalurkan bantuan  untuk Vino.

“Harus sabar, berdoa supaya cepat sembuh ya. Sehat-sehat banyak berdoa, Tuhan pasti dengar doanya. Nda boleh bersedih harus semangat ya nak,” ungkap Murni  Panjaitan, salah satu warga Kutai Barat saat memberikan sumbangan untuk Vino.

Di tangannya ada dua buah amplop berisikan uang tunai. Wanita asal Melak itu lalu menyodorkan amplop dari balik pintu. Ia mengaku sangat prihatin setelah mendengar berita Vino kehilangan dua orang tua sekaligus dan tingggal sebatang kara.

“Kemarin teman-teman pada kesini, saya pribadi mau datang lihat sendiri. Saya membayangkan kalau posisi anak saya atau keluarga saya. Turut prihatin sekali,” ucapnya sambil berkaca-kaca melihat kondisi Vino.

Ia berharap bantuan sukarela itu bisa meringankan beban keluarga terutama Vino yang harus menjalani hari-hari hidupnya kedepan tanpa orang tua kandung.

“Semoga yang lain bisa datang ikut membantu, Tuhan bukakan jalan buat dia, tetap sabar. Doa kita semua sama bagaimana dia tetap tegar, Tuhan mendengar apa yang dia inginkan semoga yang terbaik buat dia,” lanjut Murni Panjaitan dengan nada lirih.

Murni merasa sedih sebab bocah kecil itu harus jadi menapaki hidup sendirian. Apalagi orang tuanya adalah perantau asal Sragen Jawa Tengah yang hari-hari hanya berjualan pentol keliling untuk menyambung hidup.

“Kita bukan dari komunitas tetapi kita menganggap sebagai keluarga,” tutup Murni yang membawa serta suami dan anaknya menengok Vino.

Uluran tangan juga datang dari komunitas Para Penjelajah Alam Kubar (PPAK). Mereka mengaku prihatin dengan keadaan Vino.

“Sebenarnya teman kami juga baru saja kehilangan bapaknya kena covid juga. Bantuan yang untuk dia itu kami diskusi dan akhirnya dialihkan untuk Vino. Karena kasihan juga dia masih kecil,” ujar Indra Rico perwakilan PPAK.

Informasi yang dihimpun RRI, sejumlah pihak dikabarkan mau mengadopsi bocah kelahiran 28 Agustus 2012 tersebut. Hanya saja pihak keluarga rencananya akan membawa Vino kembali ke Sragen.

“Setelah situasi kondusif dari covid ini rencana entah pihak yang dari Jawa atau pihak yang ada di Kutai Barat kita mau memulangkan ke Jawa ikut kakek neneknya,” terang Toni kerabat asal Sragen.

Orang tua Vino (foto dok keluarga di rumah duka).

Menurut keluarga, sebelum meninggal orang tua Vino mempunyai riwayat penyakit tipes dan asma. Bahkan sempat ikut divaksin covid-19 pada Juni lalu.

“Untuk riwayat sakit yang saya ketahui dari ibunya itu ada riwayat asma. Kalau ayahnya itu tipes ya,” jelas Toni.

Kepala Dinas Kesehatan kabupaten Kutai Barat dr.Ritawati Sinaga membenarkan orang tua Vino meninggal karena positif covid-19. Kemudian sang anak juga terkonfirmasi positif tanpa gejala.

“Kemarin sudah kami kunjungi dengan dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak kami bawa psikolog untuk mendampingi Vino nya, supaya dia tetap semangat,” katanya.

“Kita juga bersama pak Kapolsek, camat dan petinggi ingin memastikan bantuan sosial untuk pasien positif yang isolasi mandiri sudah sampai atau belum,” terang dr Rita.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00