Kisah Alexander, Lulusan Magister Hukum UGM yang Jadi Peternak Babi di Kutai Barat

KBRN, Sendawar: Semua orang tentu ingin menjadi orang sukses agar bisa membahagiakan dan membanggakan orang yang disayangi. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menempuh pendidikan setinggi mungkin (Kuliah).

Namun bagaimana jika setelah menyelesaikan kuliah, malah akhirnya profesi yang digeluti tidak sejalan dengan pendidikan yang sudah ditempuh ? Apakah bisa sukses ?

Tentu bisa dan hal itu dibuktikan oleh Alexander A. Kurniawan, seorang lulusan Magister Hukum Universitas Gajah Mada (UGM), asal Kabupaten Kutai Barat (Kubar) Provinsi Kalimantan Timur.

Bukan menjadi seorang Advokat (Pengacara) atau Notaris, pemuda tersebut memilih fokus menggeluti usaha peternakan Babi yang diberi nama “Alex Trio (AT) Farm” tergabung dalam kelompok tani Karya Ternak Sentawar.

Mulai sejak tahun 2020, Alex kini tercatat memiliki 1 ekor babi Pejantan, 30 ekor betina dan lebih dari 500 ekor anakan yang sudah dijual termasuk yang dipelihara saat ini. Bahkan menjadi, salah satu peternakan babi terbesar di Kutai Barat.

"Kalau beternak ini awalnya ibu, nah pas saya lulus tahun 2020, diajak melihat peternakan babi di Solo. Lalu kita kesana, ya senang aja, tertarik, lalu munculah keinginan untuk mencoba. Dan disinikan memang saya belum ada melamar kerja sama sekali, karena memang tujuannya membantu ibu dulu. Ya akhirnya berjalan sampai sekarang, selama satu tahun terakhir, sambil belajar,"kata Alex kepada RRI Sendawar, Kamis (24/6/2021).

Pengalaman beternak menurut peria 28 tahun tersebut, didapatkan selama satu tahun terakhir, mencari informasi dan langsung dipraktekkan, hingga kini masih terus belajar dan mengembangkan usaha peternakanannya.

Bermula dari 8 ekor indukan dan 1 ekor pejantan, bahkan pernah gagal. Sekarang Alex sudah menikmati hasil usahannya, ada ratusan ekor anakan babi yang tersedia di puluhan kandang miliknya daerah Kampung Keay Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat.

“Pengalaman saya untuk pelihara babi ini, susah-susah gampang. Karena kalau kita buat untuk anakan ini memang rawan sakit dia. Kita ini aja, dari 160 yang ada sekarang, dari total sebelumnya 200san ekor, yang mati itu ada sekitar dua puluhan ekor, lainnya terjual. Karena memang proses anakan ini, dari lahiran umur satu sampai tujuh hari itu paling susah perawatannya, dan diumur itu juga sangat rawan untuk mati. Kalau pengalaman saya selama ini, di umur satu sampai tiga hari paling sering terjadi kematian, ada satu sampai dua ekor yang mati dalam satu kali kelahiran,”ungkap Alex.

Ternak yang dikeola saat ini, lanjut Alex, jenis babi lokal dan babi bali yang bibitnya didatangkan dari luar daerah seperti Samarinda, termasuk lokalan dari daerah Kecamatan Melak. Dengan pakan, sisa makanan kantin, singkong dan sawit.

Hanya saja, karena saat ini masih dalam masa pandemi Covid-19, usahanya tersebut mengalami sedikit kesulitan, terutama dari sisi pemasaran yang mengalami penurunan dari kondisi normal, otomatis berpengaruh pula terhadap pendapatan bulanan.

“Kalau pemasarannya inikan masih lokalan saja, dominannya di daerah Kecamatan Damai, Barong Tongkok dan Kecamatai Sekolaq Darat. Cuma karena kondisi pandemi sekarang ini, pemasarannya juga sulit, ya tentu mempengaruhi pendapatan. Kalau sebelum pandemi, lumayan lah, anakannya bisa laku samapai 8 ekor dalam sebulan, kalau sekarang paling banyak 4 ekor yang laku per-bulannya,”terang Alex.

Terlepas dari bisnis ternaknya tersebut, ternyata Alex tidak menanggalkan pendidikan liniernya di UGM begitu saja. Pengetahuannya selama dibangku kuliah tetap dipergunakan, bekerja di perusahaan keluarga.

“Sekarang, kebetulan saya juga bekerja di CV. Alex Trio inikan, kalau ada kontrak saya ngereview kontraknya. Jadi, ngurus berkas-berkas kontrak dan lain sebagainya, disamping menjalankan bisnis ternak saya ini,”paparnya

Maka itu Alex berpesan kepada generasi milenial di Kutai Barat, jangan pernah takut untuk mencoba, terus berinovasi, salah satunya dibidang pertanian. Karena prinsipnya, hasil tidak akan pernah menghianati usaha dan kerja keras yang dilakukan setiap orang.

“Kalau bagi saya, untuk teman-teman yang masih muda, jangan pernah takut untuk menjadi petani, karena kalau kita serius menekuni, keuntungannya tidak akan kurang, pastii mencukupi terus. Jadi pesan saya, jangan pernah takut menjadi petani milenial,”pungkasnya.

Untuk diketahui, di peternakan AT Farm ini, anakan babi dijual kisaran Rp800.000 - Rp1.500.000, umur 1,5 - 5  bulan, sesuai ukuran minimal 5kg - 20kg. Sedangkan ukuran besar, diatas 100kg dijual kisaran harga Rp40.000 - Rp70.000/kg.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00