Saat Kesbangpol-KPU Kubar Bersatu Lawan Isu Sara, Hoax dan Politik Uang Dalam Pemilu

KBRN, Sendawar : Isu Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (Sara), berita bohong alias hoax hingga politik uang kerap mewarnai perhelatan pemilihan umum (Pemilu).

Baik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), Pemilu Legislatif (Pileg) maupun pemilu Presiden.

Bahkan di tingkat paling kecil yaitu pemilihan kepala desa juga masih saja dinodai isu tak mendidik. Seperti politik identitas dan money politik.

Selain itu berita bohong alias hoax yang memanfaatkan media sosial juga kerap merajalela dalam setiap perhelatan Pemilu.

Kondisi itu tentu menjadi keprihatinan bagi pemerintah maupun penyelenggara pemilu yaitu Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Sebagai negara yang menganut sistem demokrasi, Pemilu dianggap sebagai salah satu cara terbaik untuk menentukan calon pemimpin. Baik ditingkat kabupaten/kota, provinsi maupun tingkat nasional.

Apalagi Indonesia akan menggelar Pemilu Serentak untuk pertama kali sepanjang sejarah pada 2024 mendatang.

Sehingga salah satu cara untuk menghasilkan Pemilu yang berkualitas adalah dengan menyiapkan kader-kader pemilih cerdas.

Oleh karena pemerintah maupun penyelenggara pemilu mengalami keterbatasan anggaran, tenaga maupun waktu, maka dibentuklah Desa Sadar Pemilu dan Pemilihan (DP3).

Di Provinsi Kalimantan Timur, KPU telah membentuk dua desa sebagai lokus DP3.

Yakni Kelurahan Sangata Selatan Kabupaten Kutai Timur, dan Kelurahan Pelabuhan Kota Samarinda.

Satu lagi di Kabupaten Kutai Barat yang dibentuk oleh Pemkab Kubar melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) bekerja sama dengan KPU setempat.

Yakni kampung Belempung Ulaq Kecamatan Barong Tongkok, yang baru dilaunching Kamis (21/10/2021).

Ketua KPU Kabupaten Kutai Barat Arkadius Hanye mengatakan, Desa Peduli Pemilu dan Pemilihan merupakan sebuah program Pendidikan Pemilih yang ditujukan kepada masyarakat terutama di daerah dengan tingkat partisipasi rendah, daerah rawan bencana alam dan daerah dengan tingkat pelanggaran Pemilu maupun Pemilihan tinggi.

"Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas partisipasi Pemilih di Indonesia. Dimana daerah yang sebelumnya memiliki tingkat partisipasi rendah menjadi lebih meningkat," jelas Arkadius dalam kegiatan launching yang berpusat di Kantor Desa Belempung Ulaq.

"Sementara daerah yang rawan bencana menjadi lebih bersiap pada kemungkinan melaksanakan Pemilu atau Pemilihan ditengah bencana alam atau non-alam serta daerah dengan tingkat pelanggaran tinggi menjadi berkurang tingkat pelanggaran Pemilu dan Pemilihannya," sambungnya.

Arkadius menyebut, pendidikan pemilih merupakan elemen penting pada penyelenggaraan Pemilu dan Pemilihan. Karena melalui proses Pendidikan Pemilih yang sukses akan melahirkan sejumlah Pemilih yang mandiri, rasional dan bertanggung jawab.

Seorang Pemilih dikatakan mandiri ketika ia mampu membuat pilihan tanpa terpengaruh oleh pihak lain, tidak tergoda oleh iming-iming kompensasi dan hadiah dalam memilih kandidat atau partai politik tertentu.

Sementara sikap rasional merujuk pada kemampuan menimbang dan memilih kandidat atau partai politik yang lebih unggul dalam konteks kapabilitas dan kapasitasnya dalam hal memperjuangkan kepentingannya sebagai Pemilih sekaligus Warga Negara.

Sedangkan sikap bertanggung jawab adalah kesediaan menerima konsekuensi atas pilihan yang ia buat.

"Sehabis mencoblos kita akan diberikan tinta pada jari sebagai tanda bahwa kita telah memilih. Itu artinya kita bertanggung jawab dengan pilihan kita. Yang sering saya sebut 'tintaku' padamu tak akan pernah berubah selama lima tahun" tukas Arkadius dihadapan puluhan kader DP3.

Lebih jauh komisioner KPU ini mengatakan, Pemilih yang bertanggung jawab seyogyanya akan menerima dengan lapang dada ketika pilihan yang ia buat berbeda dengan pilihan mayoritas (kalah).

Di sisi lain, ketika pilihan yang ia buat sama dengan pilihan mayoritas (menang) maka tidak serta merta pula memojokkan pihak yang kalah.

Hal ini penting guna menjaga kondusifnya iklim demokrasi dan kerukunan diantara warga negara.

Di samping itu, Pendidikan Pemilih yang sukses akan menjadikan seseorang matang dalam berdemokrasi. Artinya, ketika seorang Pemilih dihadapkan pada kenyataan bahwa perwakilannya ataupun pemimpinnya tidak memenuhi janji-janji yang diberikan pada saat kampanye, ia akan mengingatkan dan menyampaikan kritik melalui jalur-jalur yang telah disediakan dalam sistem demokrasi.

Kemudian dalam taraf tertentu menjadikan pengalaman Pemilu dan Pemilihan sebelumnya sebagai pelajaran berharga dalam membuat pilihan yang lebih baik di masa yang akan datang.

"Oleh karena itu, penting kiranya menanamkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang konsep dasar demokrasi dan hak-hak masyarakat sebagai Warga Negara disamping pengetahuan lain terkait tahapan Pemilu dan Pemilihan maupun isu-isu terkait kepemiluan lainnya agar kelak tumbuh kesadaran dalam bernegara serta mendorong mereka menggunakan hak tersebut pada saat hari pemungutan suara diselenggarakan," imbuhnya.

Dan yang tidak kalah penting, Pemilih yang cerdas adalah Pemilih yang mampu menggunakan haknya dengan baik dan benar.

Yaitu memilih tidak secara pragmatis. Seperti karena faktor sesama suku maupun Agama. Apalagi terpengaruh karena suaranya 'dibeli' kandidat atau peserta pemilu alias dibayar untuk memilih kandidat tertentu.

Yang harus jadi pertimbangan sebelum memilih kata Arkadius adalah, rekam jejak calon, program maupun visi misi kandidat.

Oleh karena itu Arkadius berharap para kader di wilayah DP3 yang telah dipilih menjadi pelopor Pemilih cerdas.

"Mereka inilah yang kita harapkan menjadi perpanjangan tangan KPU untuk menjadi pelopor Pemilih cerdas. Kemudian pemilu itu kan pesta, namanya pesta maka kita harus melakukan dengan kegembiraan. Jangan ada kekerasan, jangan ada berita hoax maupun perpecahan dan isu sara," tuturnya.

Sementara kampung Belempung Ulaq dipilih karena jadi salah satu kampung yang ia sebut sebagai 'Indonesia mini'.

"Ini Indonesia mininya Kutai Barat. Jadi dari berbagai suku, asal dan agama ada disini. Ini kalau tidak dibina dengan baik maka politik bisa diarah arahkan ke Sara dan sebagainya," terang Arkadius.

Bupati Kutai Barat FX. Yapan dalam sambutan tertulis yang dibacakan kepala badan Kesbangpol Kubar Suwito mengungkapkan, dengan adanya wilayah DP3 dapat membangun kesadaran masyarakat dalam pemilu sekaligus meningkatkan partisipasi pemilih.

FX Yapan mengaku Pemkab Kubar dan KPU akan terus bersinergi untuk meningkatkan kualitas pemilu.

"Program DP3 ini dapat berjalan baik jika seluruh pihak dapat berjalan secara bersama-sama. Kepada para kader DP3 saya harapkan dapat menjalankan tugas dan amanah dengan penuh tanggung jawab," ujarnya.

Bupati juga berharap kampung Belempung Ulaq menjadi percontohan dan penggerak pemilih cerdas bagi kampung-kampung lainnya di Kutai Barat.

Kesbangpol Kubar rencananya akan membentuk wilayah DP3 di kecamatan lainnya. Hanya saja untuk tahap awal ini baru satu kampung, karena keterbatasan anggaran.

Selain launching DP3, KPU dan Kesbangpol langsung membekali para kader dengan materi seputar pemilu dan pemilihan.

Ada 3 pemateri dalam kegiatan tersebut. Yakni ketua KPU Kubar Arkadius Hanye, Komisioner KPU Kubar Johanes Nuel dan Kaban Kesbangpol, Suwito.

Kemudian peserta yang mengikuti pembekalan itu berjumlah 20 orang.

Turut dihadiri Sejumlah Komisioner KPU, Camat Barong Tongkok, Pejabat Sat Pol PP, TNI-Polri hingga perangkat desa Belempung Ulaq.

Reaksi anda terhadap berita ini :

Komentar

00:00:00 / 00:00:00