Perempuan Masih Sering Jadi Korban Victim Blaming

  • 07 Nov 2025 14:36 WIB
  •  Sabang

KBRN, Sabang: Fenomena victim blaming atau menyalahkan korban masih sering menimpa perempuan yang mengalami tindak kekerasan. Alih-alih mendapatkan dukungan moral, banyak dari mereka justru disudutkan oleh lingkungan sosialnya.

Hal tersebut disampaikan oleh pengajar Hukum Pidana dan Victimologi UIN Ar-Raniry, Syarifah Rahmatillah, MH, dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh, Senin (3/11/2025).

Menurutnya, walau siapa pun dapat menjadi korban kejahatan, perempuan tetap mendominasi dalam kasus kekerasan, terutama kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“Perempuan lebih banyak menjadi korban kejahatan seksual dan KDRT, meskipun laki-laki juga bisa mengalami hal yang sama,” ujar Syarifah.

Ia menegaskan bahwa secara fisik dan mental, perempuan sering kali berada pada posisi yang lebih lemah dibanding laki-laki. Karena itu, seharusnya korban perempuan mendapatkan dukungan sosial dari lingkungan sekitar agar dapat pulih dari trauma yang dialami.

Namun kenyataannya, lanjut Syarifah, masyarakat sering kali justru memberikan penilaian negatif terhadap korban.

“Sudah menjadi korban, tapi malah disalahkan. Misalnya, saat perempuan menjadi korban KDRT, tetangga atau masyarakat menilai, ‘wajar dia dipukul, orang dia telat masak, tidak lembut, atau kurang perhatian pada suami,’” ungkapnya.

Syarifah menyebutkan, sikap seperti ini mencerminkan bias sosial dan hukum terhadap korban, serta menghambat proses pemulihan mereka. Ia menilai, masyarakat perlu mengubah cara pandang dengan berhenti menilai korban dan mulai memberikan empati serta dukungan.

“Korban seharusnya dibantu untuk sembuh dan bangkit, bukan disalahkan atau dihakimi,” tegasnya.

Ia berharap edukasi tentang perspektif gender dan hukum dapat lebih diperkuat agar fenomena victim blaming tidak terus berulang di tengah masyarakat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....